Perjuangan dan Perdamaian di Tanah Tulehu

0
261

Apa kabar Indonesia Timur?

Cahaya dari timur 1

[dropcap style=’square’]S[/dropcap]epakbola menjadi lebih berarti ketika dihubungkan dengan nama seorang pemuda asal Ambon, Sani Tawainella. Bagaimana tidak? Sosoknya membawa perdamaian pasca-konflik Ambon melalui olahraga lapangan tersebut.

Dengan keberaniannya, Sani melupakan konflik yang telah menghancurkan Ambon 1999 lalu. Ia merangkul putera-putera daerah berbakat untuk bersatu di lapangan hijau tanpa melihat perbedaan latar belakang kehidupan mereka.

Sani merupakan seorang pelatih sepakbola. Dengan tujuan mulia, ia sukses menyatukan anak-anak usia 15 tahun dari dua komunitas Islam dan Kristen dalam satu tim sepakbola. Tim itu berhasil menjuarai Kompetisi Nasional U-15 [Piala Medco] pada 2006 silam.

Bukan hanya bangga akan kemenangan yang diraih, namun juga kebanggaan akan terciptanya perdamaian di tengah lapangan bola. Mewakili suara hati Ambon, bahwa semua bisa memulai kembali persatuan yang pernah pecah.

Dari kisah nyata ini, Glenn Fredly bersama Angga Dimas Sasongko memiliki keinginan mengangkatnya ke layar lebar. Meski membutuhkan banyak persiapan, namun rasa niat yang besar mengalahkan semua kesulitan yang menghadang.

Cahaya dari timur 2

Pada akhirnya, Glenn selaku produser dan Angga sebagai sutradara bisa mewujudkan keinginan mereka. Tahun ini, tepatnya 6 Juni mendatang, film berdasarkan kisah hidup Sani Tawainella yang berjudul Cahaya dari Timur: Beta Maluku akan dirilis.

Film ini dibintangi Chico Jericho yang berperan sebagai Sani, dan Shafira Umm berperan sebagai istri Sani, Haspa Umarela. Bersama tim lainnya, mereka menjalani proses syuting langsung di Tulehu, Maluku Tengah. Selama proses pembuatan banyak pelajaran yang bisa diambil oleh tim produksi. Glenn juga mempelajari hal baru di dunia film.

Selain mempelajari urusan teknis sebagai produser, Glenn juga mempelajari rintangan yang harus dilewati di lapangan. Salah satu pengalaman yang Glenn ceritakan adalah memberikan pengertian kepada penduduk setempat, saat ingin meminjam sebuah warung sebagai lokasi syuting.

“Kami butuh pendekatan langsung dengan mereka. Contohnya saat kami mau pakai warung. Mereka nggak peduli mau syuting kek atau gimana. Yang mereka tahu ini warung untuk cari makan, hidup dari sini. Kami bicarakan dan setelah ada solusi, akhirnya mereka mengerti dan memberi ruang. Wah itu kami terimakasih sekali sama masyarakat semua yang bantu, masyarakat Tulehu, Bapa Raja Tulehu, nelayan, dan semuanya,” kata Glenn dengan antusias saat ditemui di lokasi syuting, Kota Tua, Jakarta.

Pengalaman lainnya yang Glenn ungkapkan adalah saat adegan upacara adat Ambon. Saat itu semua dipersiapkan seperti sungguhan, bukan seperti keperluan film. Sampai-sampai orang yang datang melihat tidak mengira itu hanya keperluan syuting. Bagian paling menantangnya adegan tersebut diambil dengan teknik one shot. Sekali take selesai hingga akhir tanpa pengulangan. Semua itu membuat Glenn merasa beruntung bisa ikut terlibat dalam pembuatan film ini. » Next page Glenn ketagihan bekerja di belakang layar.

1
2
3
SHARE