Time for Change

0
343

Saya gemar sekali bicara tentang perubahan. Humm, bukan, bukan sekadar bicara, kalo boleh saya ralat.

Lebih tepatnya adalah mengamati, berusaha memahami, sembari menjalaninya dengan kesungguhan hati. Konon, mereka bilang, tak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. locked 2

Perubahan, adalah sesuatu yang mutlak, untuk bisa survive dari pergerakan dalam dimensi ruang dan waktu. Bisakah kita menghentikan perubahan? Jawabnya, mungkin saja bisa. Tapi itu berarti akhir dari kehidupan kita. Humm, nanti dulu. Jika hidup kita berakhir, atau, humm, sebutlah, kita mati, apakah itu menjaminkan bahwa kita tak lagi berubah? Hahaha. Sepertinya nggak begitu ya. Sisa-sisa sesuatu yang pernah bernama kita, tentu saja masih mengalami perubahan. Habis? Selesai? Sepertinya belum.

Mari perhatikan sekeliling diri kita. Adakah yang bertahan terus menerus tanpa perubahan? Ada? Yakin? Sepertinya yang tidak akan pernah berubah adalah kredo bahwa tak ada yang abadi selain perubahan. Phew!

Lalu, jika perubahan itu abadi, bagaimana cara menyikapinya? Jawabannya adalah hanya dengan perubahan lagi. Dengan berubah, kita bisa beradaptasi, menyesuaikan diri dengan perubahan di sekeliling diri kita. Oh, bukan hanya di sekeliling, melainkan juga di dalam diri kita. Senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan akan melatih diri kita menjadi lentur, dan tidak kaku, kayak kanebo kering. Karena sesuatu yang kering, akan punya kemungkinan mudah rapuh, dan gampang hancur. Yeah, berubah lagi sih. Tapi belum tentu seperti yang diinginkan.

Kalo begitu, apa yang membuat perubahan menjadi abadi? Hahaha, ‘kan tadi sudah dijawab. Yeah, penyebabnya adalah karena perubahan hanya bisa disikapi dengan perubahan lagi. Lagi dan lagi. Lagi dan lagi. Terus menerus. Sampai kapan? Sampai hanya Yang Maha Abadi-lah yang bisa menjawabnya.

Salaam Ghiboo,
@hagihagoromo
hagihagoromo

SHARE