Eco Resort Pulau Peucang

0
345
Dermaga kecil Pulau Peucang / courtesy of Peucangislandresort.com

Berwisata tanpa merusak alam..

Day 1
Dermaga kecil itu menyambut kami yang masuk dari arah Sumur, Pandeglang, Banten. Telah 7 jam kami menempuh perjalanan dari Jakarta ke salah satu bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon [TNUK], Pulau Peucang.

Warna biru, hijau tosca, dan putih, menjepit dermaga kecil itu di tengahnya. Mereka terlihat mesra dan tak terganggu dengan kedatangan kapal bermesin yang kami tumpangi. Kami tersipu dan takjub melihat indahnya kemesraan mereka, membuat malas beranjak dari kayu-kayu pembentuk dermaga kecil itu.

Sekitar 5 menit terpaku di dermaga itu, sembari meneguk segelas air lemon sebagai welcome drink, kini saatnya melangkah masuk ke dalam Pulau Peucang.

Wah, babi hutan, monyet, dan rusa, seperti menyambut kedatangan kami dengan bahasa mereka sendiri. Kami balas, tapi mereka malah diam sambil meneruskan perburuan makanan mereka.

Pengelola Pulau ini, Benjamin Bunawidjaja, atau biasa disapa Pak Ben, mengatakan, “Pulau Peucang adalah tempat wisata eco resort. Artinya, sebuah tempat wisata yang mengutamakan konservasi alamnya dengan meminimalkan penggunaan hal-hal yang dapat merusak alam.”

Katanya, bukan saja ketiga jenis binatang itu yang ada di sini. Biawak, merak, banteng Jawa, karang laut, dan ikan-ikannya yang cantik juga dapat ditemui di area resort sekitar tiga hektar ini.

“Silakan tempati kamar kalian,” tutur Pak Ben usai penjelasan singkatnya kepada kami sembari berjalan menunjukkan bungalow Fauna tempat kami menginap.

Cuma sebentar saja kami menaruh barang-barang. Sudah tak sabar ingin merasakan seberapa lembutnya pasir di sini, mumpung gelap masih tiga jam lagi baru akan turun. Ternyata, ajib! Pasirnya lembut, hampir seperti tepung. Airnya jernih dengan ikan-ikan kecil yang berseliweran. Keren!

Dari ujung sana Pak Us-us, memberi kode kepada kami agar segera berjalan ke arahnya. Ohya, Pak Us-us atau Pak Us adalah mantan ranger yang telah bertugas selama 30 tahun dan akan menjadi guide kami selama di sini.

Pak Us hendak menunjukkan kami tempat melihat sunset terindah. “Oke siap,” jawab kami semangat.

Masuk ke dalam hutan tropis yang pernah dihancurkan letusan Gunung Krakatau pada 1883 lalu, Pak Us selalu bercerita mengenai situs kesayangannya ini. Salah satu ceritanya yang masih kami ingat adalah, “Pohon di sini usianya ada yang mencapai ratusan tahun.” Karena itu ada beberapa pohon yang keliling batangnya ‘cuma’ bisa dipeluk oleh rentang tangan 30 orang dewasa.

Setelah sampai di sana, “Ah, sial!” keluh kami. Karena turunnya sang mentari ditemani awan tebal. Padahal Karang Copong, tempat kami menikmati matahari terbenam, sungguh indah. Kami pun kembali lagi ke tempat penginapan dengan berjalan kaki. Kembali menelusuri hutan sekitar satu jam. Sampai di penginapan, makan malam sudah menunggu. Ikan kerapu Pulau Peucang dan sushi, menjadi menu spesial kami. Kenyang, kemudian bersih-bersih, isi ulang semua baterai [karena listrik cuma ada dari jam 6 sore hingga pukul 2 pagi], dan tidur sambil membayangkan aktivitas apa lagi di esok hari.

Day 2
SONY DSCBeach cleaning. Ini aktivitas pagi bagi para pengunjung eco resort Pulau Peucang. Kegiatan ini adalah bagian dari komitmen pengelola Pulau Peucang untuk menjaga pulau dalam kondisi yang bersih dan terawat.

“Kami inginnya orang yang datang ke sini membawa energi positif, energi untuk selalu menjaga alamnya,” kata Pak Ben, usai melakukan beach cleaning bersama kami.

Selepas itu, Pak Us mengajak kami ke tempat pengamatan Banteng di Cidaon. Jaraknya cuma 3,5 menit melaut menuju bibir Pantai Cidaon, dan menuju ke dalamnya sekitar 11 menit. Terlihat jelas kumpulan banteng Jawa yang berjumlah sekitar 20-an. Banteng yang berwarna lebih gelap menurut Pak Us adalah jantannya. Kami dilarang berisik agar tidak mengusik keasyikkan mereka menikmati rumput-rumput di padang itu.

Dari sana kami menuju ke Tanjung Layar. Kapal kami merapat ke bibir pantai Cibom. Untuk sampai ke Tanjung Layar, trekking-nya selama 40 menitan. Di sana terlihat Ujung Barat Pulau Jawa, dan pemandangan lautnya yang indah, serta satu lagi tempat banteng mencari makan. Padang rumput di sini pantas untuk menjadi scene salah satu adegan film Lord of The Ring, begitu menurut kami.

Sayang, karena alasan klasik, waktu, kami harus segera kembali ke Jakarta. Padahal masih belum semua aktivitas kami lakukan. Trekking ke Citerjun, Cibunar, Cigenter, snorkeling, fishing, canoeing, surfing, dan diving. Tapi dalam hati kami berkata, “Suatu saat, kami akan kembali ke mari lagi.”

Pulau Peucang dan bagian TNUK lainnya, akan menjadi taman nasional pertama yang akan menggunakan kecanggihan teknologi, yaitu berupa aplikasi TNUKpedia. Aplikasi ini merupakan buku elektronik yang berisi informasi mengenai potensi yang ada di kawasan TNUK.

Dengan mengunduh gratis aplikasinya melalui Google Play Store, para pengguna smartphone nantinya tinggal men-scan barcode-barcode yang tertera pada setiap pohon, bangunan atau tempat-tempat yang memang khusus disediakan untuk pemasangan barcode. Setelah di-scan maka akan muncul informasi mengenai pohon tersebut atau bangunan bersejarah yang ada di TNUK. Rencananya dalam tahun ini aplikasi TNUKpedia sudah bisa digunakan. Jadi, tunggu apa lagi? Mari mengeksplorasi sebagian dari keindahan alam Indonesia.. « [teks & foto @bartno]

SHARE