ARTE Regenerasi Seniman Muda

0
219

Yang muda, yang berkarya..

5

Pameran Seni. Bagi orang awam mungkin ini terdengar membosankan, formal, nggak keren, dan lain-lain. Padahal nyatanya, penilaian tersebut tidak sama sekali benar. ARTE Indonesian Art Festival berhasil menepis anggapan itu. Ajang pameran tahunan ini berhasil menyedot antusias para anak muda.

Dihelat selama tiga hari, dari 14-16 Maret 2014, di Hall JCC, ARTE menghadirkan ragam bentuk seni. Mulai dari yang hanya bersifat visual, audio, dan keduanya. Semua itu terbagi menjadi lima segmen yang berbeda. Di antaranya ialah Visual Arts, Performing Arts, Films Festival, Culinary Arts dan Art Market. Cara ARTE mengemasnya pun terbilang simpel dan menarik.

Para pengunjung yang datang ke JCC, diharuskan melewati jajaran art market terlebih dahulu sebelum memasuki main area –tempat beragam art work dipajang. Ketika melewati area ‘jajan’ ini, jika iman tak kuat, bisa jadi dompet terkuras ludes. Karena barang yang ditawarkan terbilang unik dan menarik. Mulai dari kaleng kerupuk yang bisa jadi sebuah guci, hard case handphone dari bahan kayu dengan ukiran batik, dan sepatu-sepatu kulit buatan tangan.

Memasuki tahun kedua, ARTE tak hanya menampilkan karya seniman pilihan penyelenggara. Tapi juga membuka penyerahan karya dari seniman-seniman muda di seluruh Indonesia. Dari 400 karya yang di-submit, akhirnya terseleksi 72 karya dari 57 seniman. Para peserta itu pun menggunakan beragam media untuk mengekspresikan keresahannya akan sesuatu.

3

Re:generasi” adalah tema keseluruhan untuk ARTE 2014. Regenerasi merupakan proyeksi tentang bagaimana generasi sekarang melihat dirinya sendiri serta generasi sebelumnya secara sadar. Gagasan yang lahir dari seniman-seniman muda ini pun tertuang dalam karya seni yang tajam. Melahirkan sebuah karya yang mengemas realita mengenai masa kini dan dulu dalam bentuk yang unik serta apa adanya.

Misalkan karya milik I Made Maulina Bayak yang memajang peta pulau Bali untuk pameran kontemporer ini. Pada peta sebesar 110 x 80cm itu ia penuhi dengan coretan “Sold Out” menggunakan cat akrilik berwarna hitam. Ini merupakan proyeksi nyata, seorang seniman muda Bali melihat pulau tempat tinggalnya dewasa ini.

Juga karya milik komikus kawakan, Azer. Ia memajang 50 panel dalam dimensi yang berbeda-beda dengan media yang seragam. Tinta di atas kertas. Melalui karyanya ia potret fenomena-fenomena yang kini berkembang pada generasi sekarang. Seperti karyanya yang memotret anak-anak generasi ’90-an yang sedang ‘khusyuk’ menikmati gigs. Seiring berjalannya waktu kekhusyuan itu pun digantikan dengan kesibukan memotret dengan tablet atau smartphone agar bisa di-upload ke sosial media. Atau, seorang anak yang diomeli ibunya karena menggunakan kaos merah berlogo palu-arit yang kerap diidentikkan dengan ‘komunis’. Kedua karya itu potret nyata mengenai gejala-gejala yang kini sedang berkembang, tentang moshpit yang sudag tidak lagi kacau atau orangtua yang disibuki simbol-simbol.

Zulhichar Arie berkolaborasi dengan The Sender Club melahirkan sebuah karya film pendek bertajuk The Unidentified Arts. Sebuah film pendek tentang pencarian minat serta bakat yang dialami seorang pelajar di bangku STM. Zulhichar mengemasnya dengan kemasan yang jenaka sehingga tidak menjemukkan ditonton.

Selain karya-karya seni murni yang dipamerkan, ada juga performing dari tiga chef setiap harinya. Odie Jamil, Ronald Prasanto, dan Andrian Ishak. Ketiganya menunjukkan jika sebuah makanann pun menjadi karya seni baik dari segi rasa serta tampilan yang memukau. Lewat tangan-tangan terampil mereka, tercipta sebuah karya yang menakjubkan. Untuk memakannya saja terasa begitu berat.

So, tidak melulu pameran lukisan itu menjemukkan. Datang dan saksikan dulu, karya-karya seni yang dipajang. Keliaran ide, keresahan, juga kematangan konsep, berhasil para seniman itu pamerkan! « [teks & foto HaabibOnta]

1

24

SHARE