Ketika Pembuahan Natural Terasa Sulit

0
104

 Ketahui lebih dalam mengenai bayi tabung.

Baby-And-Mommy-1Sudah lama menikah tetapi belum hamil juga? Hmm, banyak pasangan yang dibuat kewalahan dan stres karena tak kunjung dianugerahi momongan. Tapi tenang saja, ada banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan untuk segera memiliki buah hati.

Dewasa ini, program bayi tabung menjadi salah satu jawaban bagi para pasangan yang belum juga memiliki anak. Inovasi teknologi kedokteran ini menjadi salah satu titik cerah di tengah kebuntuan untuk memiliki buah hati.

“Bayi tabung adalah suatu proses upaya untuk membantu kehamilan yang dialami pasangan yang mengalami kesulitan,” kata dr. Ivan Rizal Sini, SpOG, spesialis kandungan dari Rumah Sakit Bunda Jakarta kepada Ghiboo. Ia menjelaskan, biasanya kesulitan terjadi pada faktor-faktor tertentu, misalnya kualitas sperma rendah, atau salurannya buntu.

Proses bayi tabung sendiri tak memakan waktu lama. Proses awal hanya sekitar dua mingguan. Dr. Ivan menjelaskan, proses dan caranya dimulai dari masa menstruasi yang biasanya akan disuntik selama 2 minggu. Ketika telurnya sudah menjadi besar, akan diambil telurnya. Lalu, telur tersebut akan dipertemukan dengan sperma. Tiga hari kemudian hasil pertemuan sel telur dan sperma dimasukkan kembali ke dalam rahim.

Menurut dr. Ivan, siapa saja dapat diperbolehkan untuk melakukan bayi tabung. Hanya saja syaratnya dalam usia reproduksi. Karena memang tingkat keberhasilan program bayi tabung ini berkisar 45-50 persen bagi pasangan yang berada di bawah 35 tahun. Pastinya pasangan yang berusia di atas itu, tingkat keberhasilannya akan semakin kecil dan kemungkinan untuk gagal juga lebih besar.

Dalam program bayi tabung juga terdapat risiko tersendiri. “Kemungkinan pertama bayinya kecil, tetapi risiko yang paling penting yaitu risiko respon yang berlebihan karena pemberian obat,” jelas dokter yang Ghiboo temui di Ritz Carlton Hotel, Jakarta.

Dokter Ivan menambahkan, risiko terakhir yang mungkin terjadi pada program bayi tabung yaitu bayi kembar. “Karena risiko kembar itu kami tidak inginkan saat kehamilan,” pungkasnya. « [teks @shintaasarass | foto berbagai sumber]

SHARE