Layar Terkembang

0
95

Saya punya hobi baru: bergelayut ke kantor..

Nnnnaaaah, tidak. Tentu saja saya bukan Peter Parker atau Bruce Wayne. Dua nama ini –yang punya alter-ego sebagai Spiderman dan Batman– punya kebiasaan mengulurkan spider web dan sling untuk bergelayut dari satu tempat ke tempat lain. Berbeda dengan mereka, kegemaran saya ini, adalah menggelantung di kendaraan umum, naik bus atau kereta, sebagai ganti kebiasaan menyetir kendaraan pribadi dari rumah ke kantor, pergi dan pulangnya.

spiderweb-1
courtesy of scienceblogs.com

Apa yang saya dapat dengan kebiasaan baru ini? Pemandangan baru, yang bukan lagi pantat kendaraan di depan motor atau mobil saya. Apa tuh? Mereka adalah teman-teman baru, yaitu para penumpang kendaraan umum yang saya tumpangi. Ya eyaaa laaah. Lalu dapet kenalan baru nggak? Hahaha. Nggak. Saya bukan tipe yang suka sok akrab dengan ngajak penumpang lain berbincang-bincang. Saya bukan tipe yang mahir merangkai pick up line. Atau, kalopun ada yang begitu ke saya, itu juga nggak membuat saya nyaman. Jadi, saya memilih untuk hanya diam dan mengamati.

Dan ini, hasil pengamatan saya. Sebagian dari mereka, tampak anteng dengan sepasang kabel tipis menghujam tepat di telinga. Sebagian lagi, selalu tampak tekun dengan perangkat ponsel atau tablet dalam genggaman. Bermain-main dengan layar sentuh, dan tuts-tuts keypad, seakan tak peduli keadaan sekelilingnya. Selebihnya hanya diam. Menatap nanar ke arah jendela kendaraan. Ada juga yang tidur. Atau pura-pura begitu. Dan sisanya yang lebih kecil lagi, punya kebiasaan memasukkan tangan mereka ke saku. Ya, saku sendiri, bukan saku orang lain.

Saya tertarik –kalo nggak mau dibilang kepo— dengan mereka yang memilih untuk berasyik masyuk dengan gadget pribadi. Apa ya, yang tengah mereka nikmati? Berkomunikasi dengan keluarganya kah? Memperbarui status kah? Mendengarkan lantunan ayat suci? Atau tengah membaca situs dengan konten dewasa? Semua mungkin saja. Tapi yang jelas, aktivitas sebagian mereka sama: memfokuskan pandangan ke sebingkai layar yang menyeret mereka dari posisi mereka berada saat ini.

Dulu, kita pernah menyebut televisi sebagai kotak ajaib. Sebuah benda yang layarnya mampu mengajak kita bertualang ke tempat-tempat yang berbeda, ke ‘realitas-realitas’ atau ‘kesemuan-kesemuan’ lain dari tempat kita berada. Tapi saat itu, kita masih duduk di kursi kepasifan. Posisi yang tak memungkinkan kita melakukan hal lain, kecuali menerima.

Seiring kemajuan teknologi, para ‘penyihir-penyihir modern’ itu melihat, ada bagian yang masih bisa dilakukan para pemirsa, sehingga mereka tak hanya duduk-diam-dan terima begitu saja. Para pirsawan ini, bisa dilibatkan, dan itu akan membuat mereka lebih betah duduk di depan layar. Keasyikan berinteraksi inilah –yang kini tak melulu hanya bisa dilakukan lewat remote control atau tuts-tuts keyboard dan keypad saja– yang menjadi bagian dari budaya teknologi kita saat ini. Layar bisa disentuh, dicubit, diketuk, digeser, dirangsang lewat gerakan tanpa sentuhan, dan mungkin nantinya deretan cara baru akan ditambahkan lagi.

Oke, mari kita kembali ke kendaraan umum yang saya tumpangi. Lihatlah mereka lagi. Kegiatan berselancar dan menari-nari di atas permukaan layar itu terbukti ampuh membunuh waktu, mengenyahkan kebosanan, karena tak mampu berbuat apapun, selama menikmati perjalanan. Jarak tempuh yang panjang, atau lama perjalanan yang kerap terhambat kemacetan, kini dapat diatasi dengan aktivitas lain. Kini pilihannya bukan hanya tidur [yang acap membuat kita kebablasan dari destinasi yang kita tuju], bengong [yang membuat kita malah mikir yang nggak-nggak], atau memperhatikan penumpang lain [yang bikin mereka malah curiga].

Kalo dulu, masih banyak orang yang memilih menghabiskan waktu di kendaraan umum dengan membaca buku, kini jumlahnya menyedikit. Mereka lebih suka untuk memelototi layar, menarikan jemari di keypad, dan senyum-senyum sendiri, dengan telinga yang tetap tersumbat earphone. Layar tak membuat dunia sekarang tak lagi hak bersama. Layar tak membikin dunia tak jadi punya berdua. Kini dunia milik diri sendiri. «

Salaam,

@hagihagoromo
hagihagoromo

SHARE