Membidik Banteng di Pantai Cidaon

0
168

Melihat dari dekat, aktivitas si kaki empat.

Intip banteng di Peucang 1Sesekali mereka terdiam. Sorot matanya yang tajam mengawasi dengan seksama keberadaan kami di balik pohon-pohon dan semak belukar. Setelah dirasa aman, mereka terus melanjutkan aktivitasnya merumput di sabana luas di dataran itu.

Hari menjelang sore ketika saya dan Editor Ibnu Bastono, ditemani Pak Us Us sang pemandu wisata dan dua orang tim pengelola Pulau Peucang tiba di Pantai Cidaon. Menuju pulau ini memang tak mudah. Kami menempuh 6 jam perjalanan darat, lalu ditambah 1 jam penyebrangan laut menggunakan speedboat.

Saat speedboat bersandar di pantai kecil ini, jangan pernah berharap ada welcome drink atau sekadar handuk basah untuk membasuh wajah yang lelah setelah perjalanan. Ini terjadi karena pantai yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Ujung Kulon [TNUK] tersebut memang tak dihuni manusia.

Pemandu bersama wisatawan dan para Ranger lah yang sesekali singgah untuk menyapa beberapa habitat fauna, seperti banteng, burung merak, biawak, ular  yang hidup bebas lepas di sana.

Tujuan kami ke Cidaon memang sama seperti para wisatawan lain, yaitu mengintip  dan membidik [dengan kamera] habitat hewan-hewan di sana terutama banteng. Untuk dapat melihat hewan bernama latin Bos javanicus ini, memang perlu sedikit perjuangan.

Setelah mendarat di dermaga kayu, kaki harus terus diajak melangkah melewati jalan setapak. Di kiri kanan jalan itu, tumbuh berbagai macam flora khas hutan tropis. Kicauan burung akan menemani selama kurang lebih 30 menit perjalanan, sebelum akhirnya sampai di sebuah menara pantau.

Intip banteng di Peucang 3Beberapa meter mendekati menara pantau, rombongan kami berhenti melangkah. Samar-samar kami melihat sekumpulan banteng sedang makan rumput dan dedaunan. Nada suara pelan namun jelas yang keluar dari mulut pemandu meminta kami  untuk melepas atribut yang mempunyai warna mencolok. Tak hanya itu, Pak Us Us juga menyarankan kami untuk berjalan dengan merundukkan tubuh.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Pemandu yang kini telah pensiun dari profesinya sebagai pengawas wilayah konservasi TNUK ini tahu betul cara menangani binatang kaki empat yang masih kerabat sapi itu.

Ia menjelaskan, jalan merunduk dilakukan untuk mencegah banteng merasa terancam oleh kehadiran manusia di wilayahnya. Banteng cenderung tidak peduli dengan sesuatu yang bergerak di bawah matanya. Sementara warna mencolok dari pakaian ataupun aksesoris dapat memancing perhatiannya dan membuat banteng-banteng ini mendekat.

Mencegah hal yang tidak diinginkan, kami pun memutuskan untuk mengabadikan visual hewan bertanduk dengan kulit berwarna cokelat dengan semburat warna putih di keempat kakinya, pantat, punuk serta di sekitaran moncong dan matanya dari atas menara pantau yang memang disediakan pihak pengelola.

Walaupun terlihat kokoh, namun menara tiga tingkat ini terasa kurang terawat. Cat pada temboknya mengelupas. Diperlukan langkah yang cukup hati-hati saat menyusuri anak tangga kayu yang mulai goyah. Setelah sampai di atas, pemandangan padang rumput luas dengan puluhan banteng cukup membayar rasa lelah dan was-was.

Intip banteng di Peucang 2Tak puas hanya memandangi hewan dari atas menara, kami memutuskan untuk berada lebih dekat dengan hewan ini. Pak Us Us kembali menularkan ilmu dan pengalamannya. Ia mengajak kami untuk memutar masuk ke dalam hutan yang banyak sekali pohon berdurinya.

Alasannya sepele, dengan memutar ke dalam hutan, banteng tidak akan dengan jelas mengetahui keberadaan kita. Hewan ini cenderung menganggap kita sebagai hewan melata yang bergerak di balik rimbunya pepohonan.

Rasanya baru kali ini saya mesti memosisikan diri bak seorang wartawan perang yang harus bersembunyi dari tatapan tajam sang musuh yang terus mengawasi ke mana kaki melangkah.

Setalah dirasa cukup, kami pun memutuskan untuk kembali menuju menara. Saya yang kelelahan meminta izin untuk berjalan normal karena kondisi fisik yang kurang memungkinkan untuk terus berjalan jongkok dan merunduk melewati hutan. Pemandu wisata akhirnya membuat keputusan yang cukup berani dan tepat. Kami berlari kecil tanpa harus menyusuri dan bertemu kawanan nyamuk hutan.

Sesampainya di menara pantau, pemandu wisata kami yang hobi bercerita tentang kehidupan ini memberi waktu hanya 5 menit untuk sekadar menarik nafas dan menghilangkan keringat. Perjalanan dan petulangan untuk mengintip hewan ini harus kami akhiri dengan berjalan kembali ke dermaga karena sang surya kian tenggelam. « [teks @boyMALI | foto[email protected]]

SHARE