Kelas Inspirasi: Menghidupkan Mimpi-mimpi

0
561

Hidupkan mimpi jadi kenyataan..

kelas inspirasi 1Menjadi guru sama dengan menjadi pahlawan tanpa sebuah tanda jasa. Juga tanpa lencana penghargaan. Dan tanpa cemetery di areal pemakaman pahlawan. Meski begitu bukan berarti tak ada yang bisa dipetik dari jerih payah yang didekasikan seorang guru. Seperti bercocok tanam. Buah baru bisa dipetik ketika pohon sudah dewasa. Pelajaran serta nilai-nilai yang ditanamkan oleh guru pada anak-anak didik itu yang terus tumbuh. Digunakan sebagai bekal selama mereka hidup.

Menjadi guru berarti menginspirasi, memotivasi, mendorong siapapun untuk mau berlari mengejar mimpinnya. Selangkah demi selangkah hingga tergapai.

Perihal klasik yang menghambat untuk menjadi guru, biasanya karena tidak memiliki ketersediaan waktu. Meski demikian, alasan itu tak bisa lagi menjadi dalih untuk tidak berbagi ilmu pada para anak-anak. Karena ada sebuah program mengajar sukarela selama satu hari yang sedang berkembang di seluruh kota di Indonesia. Kelas Inspirasi, itu sebutannya.

Para pengajar di Kelas Inspirasi adalah para relawan yang telah dipilih melalui proses seleksi. Para relawan itu merupakan seorang profesional yang sudah menekuni profesinya minimal selama 2 tahun.

kelas inspirasi 2Tugas para guru relawan itu terbilang tak susah. Mereka hanya diminta untuk menceritakan apa yang menjadi profesi kesehariannya. Tentu dengan cara yang sekreatif mungkin, agar para murid-murid SD itu tidak merasa jenuh.

Beberapa nama publik figur pun pernah ikut menjadi relawan Kelas Inspirasi, seperti Agung Adiprasetyo [CEO Kompas Gramedia], Bondan Winarno [Pakar Kuliner], Cici Panda [Presenter], Ridwan Kamil [Walikota Bandung], dan Zivanna Letisha Siregar [Putri Indonesia 2008].

Sekilas relawan-relawan yang tepilih untuk mengajar adalah orang-orang ‘ternama’. Eits, tapi jangan berkecil hati terlebih dulu. Bukan berarti kita tak bisa ikut berpartisipasi. Tak perlu perhatikan nama, tapi coba tengok pekerjaan yang mereka geluti. Kelima nama itu memiliki ragam profesi yang berbeda untuk digeluti. Itu yang terpenting.

Di saat masih kanak-kanak, segala hal terlihat amat memungkinkan. Cita-cita, mimpi, khayalan, itu bukan sebuah isapan jempol. Bagi mereka itu nyata. Namun, persoalannya adalah ketika beranjak dewasa bahwa apa yang mereka impikan seakan sirna. Lalu, tidak tahu ingin ke mana atau melakukan apa.

Ini adalah masalah utama bagi para penerus bangsa. Dan juga kritik tajam untuk sistem pendidikan, karena para murid tidak dibimbing ke arah itu. Sistem pendidikan hanya mengajarkan pelajaran dasar tentang keilmuan.

Melalui program Kelas Inspirasi, diharapkan para relawan mampu memberi inspirasi untuk anak-anak agar mau merealisasikan mimpi mereka. Memilih jalan hidup yang sudah diimpikan sejak semula. Selain itu guru-guru relawan itu pun dihadapkan pada wajah nyata pendidikan Indonesia. Entah itu baik atau buruk.

Relawan-relawan tersebut akan mengajar di kelas sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati bersama. Mereka pun diminta cuti hanya untuk sehari, sehingga relawan bisa fokus dengan kelasnya tersebut. Dan ada juga lowongan perekrutan relawan selain guru, untuk posisi videografer dan fotografer. Tentu saja, itu bersifat sukarelawan. Tanpa bayaran.

Dari sebuah kelas kecil di berbagai penjuru Indonesia. Dari para relawan-relawan yang bersedia meluangkan waktunya. Dari anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Mimpi terus dibangun. « [teks @HaabibOnta | foto dok Kelas Inspirasi]

SHARE