Di Belakang Layar Indonesian Idol

0
340

Seperti apa kegiatan kontestan Indonesian Idol di balik layar?

indonesian idol kolase

Saat berada di panggung spektakuler Indonesian Idol, semua kontestan tampil memukau. Bagi pemirsa, suara-suara mereka semua terbilang bagus. Tanpa cacat, apalagi nada fals. Persoalan pitch, atur nafas, atau energi, itu urusan belakangan. Yang penting jagoan kita tampil memesona. Belum lagi busana yang para kontestan kenakan juga bagus-bagus. Tapi itu ‘kan di layar teve. Hmm.. lalu bagaimana keseharian Gio, Husein, Nowela, Windy, Ubay, Virzha, Sarah, serta Yuka di karantina mereka?

Atas rasa penasaran itu, kami putuskan untuk melihat langsung suasana di balik megahnya panggung spektakuler. Dari Sarinah kami meluncur ke SSR Studio di area Central Park, Jakarta Barat, tempat para kontestan itu melatih olahvokal mereka. Sekolah SSR berada di lantai dua Lavender Tower, Royal Mediterania Garden. Namun Gio dkk tidak berlatih di situ. Mereka mendapatkan studio khusus untuk latihan di lower ground apartemen tersebut. Studio itu cukup luas, hampir seluas lapangan futsal standar internasional.

Studio itu dilengkapi dengan alat-alat musik milik choir Oni ‘n friends. Tapi, ruangan itu tak berpenghuni. Sepi. Hanya alat-alat musik tak bertuan yang memenuhi bagian depan ruangan. Drum, gitar, bass, keyboard, dan lain lain. Bagian tengah dan belakang, melompong. Lalu ke manakah semua orang?

Pantas saja studio itu sepi. Rupanya kami mendarat saat semua orang sedang istirahat siang. Para kontestan dan pemusik pengiring sedang asyik memanfaatkan waktu senggangnya di ruang serba guna di belakang studio. Ada yang tidur, makan, menghapalkan lirik, juga mendengarkan lagu. Di ruang serba guna itu hanya ada Nowela, Windy, Yunita. Ketiganya sedang asyik tidur-tiduran menggunakan matras sembari menunggu giliran latihan tiba. Sementara sisanya, Gio, Husein,Ubay, Virzha, Sarah, serta Yuka sedang melakukan fitting pakaian atau syuting di areal kolam renang.

Siang itu kami tidak sendiri. Ada beberapa rekan wartawan lain yang ingin mewawancarai para kontestan. Mereka cukup ramah menanggapi setiap pertanyaan yang datang. Windy, sempat berurai air mata ketika ia bercerita tentang jasa orangtuanya yang mendorong ia hingga sejauh ini di panggung Idol. Apalagi ketika mengingat sang ayah yang baru saja mangkat. Wanita berkulit putih dengan mata agak sipit itu tak dapat membendung keharuannya.

Di sisi kiri ruangan, Nowela asyik melayani para fotografer yang ingin mengambil gambarnya. Tanpa perlu diarahkan, secara spontan kontestan asal Papua ini langsung memasang gaya. Dalam beberapa minggu, Nowela selalu menuai pujian dari para juri. Bisa dibilang ia sedang berada di atas angin. @gregbimz –fotografer kami– pun menyukai dia, karena ekspresinya tidak kaku saat dipotret. Sayang, saking asyiknya @gregbimz mengambil foto dara berkulit hitam ini, pelatih Nowela sampai menghentikan musik sejenak dan meminta fotografer berbadan tinggi besar ini tidak menghalangi pemandangan mereka.

Merasa cukup puas, kami berkeliaran mencari kontestan lain di areal seputaran apartemen dibantu Tika, staf RCTI yang menangani para kontestan Indonesia Idol. Kami naik ke lantai atas, areal kolam renang apartemen. Tempat ini dikelilingi gedung-gedung apartemen yang menjulang, jadi panas matahari terhalang masuk. Di situ ada Yuka dan Ubay yang sedang duduk-duduk menunggu giliran syuting. Kami pun berkenalan dengan mereka. Sama seperti kontestan yang lain, Yuka dan Ubay juga ramah. Tapi, keduanya amat jauh berbeda ketika di layar kaca dan realita. Ubay dan Yuka tak bisa menyembunyikan logat khas Semarang dan Makassar mereka. Belum lagi, Ubay, kontestan termuda, rupanya masih agak malu-malu jika diajak mengobrol. Segera saja, @gregbimz mengajaknya berfoto. Yuka yang ditinggal sendiri mengobrol dengan saya. Darinya saya tahu, bagi penyanyi, menguasai teknik pernafasan adalah harga mati. Jika sudah bisa menguasai teknik itu, seseorang mampu melayang katanya. Awalnya kami sangsi dengan pernyataan itu. Tapi, Yuka menyatakan telah melihat itu dengan mata kepalanya sendiri ketika vocal coach-nya, Indra Azis melayang.

Tadi Mas Indra Aziz itu sempat melayang. Wusshh.. sebentar sih memang. Tapi itu bukan lompat,” terang Yuka sambil memeragakannya di depan kami.

Tak lama kemudian, Gio, kontestan asal Manado datang –entah dari mana– sambil membawa sebuah gitar. Tanpa basa-basi ia langsung menunjukkan yang menjadi unek-uneknya. “Ini nongkrong nggak ada makanan? Laper nih..” tanyanya.

Beruntung ada roti yang bisa mengganjal perutnya sesaat. “Orang Manado adalah bangsa pemakan segala,” katanya sambil melahap roti itu. Gio baru saja menjalani sesi fitting pakaian. Ia tinggal menunggu waktu latihan saja. Pemuda berambut spikey memiliki sembilan tattoo di seluruh badan. Di lengan kanannya ada tattoo anak perempuannya “Arilia”. Nama itu diberikan karena ia sangat mengidolai Ariel Noah. Menurutnya, Ariel memiliki kharisma yang berlimpah. Warna suara yang Gio miliki pun mirip Ariel. Serak dan berat. Meski begitu, Gio tak ingin membawakan lagu-lagu Peterpan atau Noah. Ia ingin punya ciri khas sendiri.

Sungguh asyik mengobrol dengan ketiganya. Seperti dengan teman lama saja, tak ada jarak antara jurnalis dengan artis atau publik dengan idola. Tapi, @gregbimz masih punya pe-er untuk memotret Husein, Virzha, dan Sarah. Jadi kami meluncur lagi ke ruang serba guna melihat keberadaan ketiganya di sana.

Ternyata hanya ada Virzha dan Sarah. Seperti Gio, Virzha juga sedang kelaparan. Aktivitas yang padat seharian itu menguras banyak tenaganya. Rocker yang satu ini cukup pendiam. Ia tak banyak berinteraksi dengan orang lain. Hanya fokus melahap mie instan di hadapannya. Sementara Sarah sedang asyik mendengarkan lagu, sampai tiba Yuka yang minta diajarkan bahasa Sunda.

Di ruang latihan ada Nowela yang sedang mencoba lagunya. Suaranya menggelegar hingga ke ruang serba guna. Kami penasaran ingin menengoknya. Tapi rupanya ada Windy yang sedang duduk di dekat pintu. Matanya memerah dan berair. Ia berisak menjawab “tidak apa-apa” ketika ditanya. Sebelum Nowela, Windy yang latihan lebih dulu. Tampaknya kejadian di studio latihan penyebabnya. Tapi ya sudahlah, kami tidak ingin memburunya lebih jauh.

Matahari pun sudah di penghujung langit, kami memutuskan untuk kembali ke Sarinah. Sudah puas kami seharian melihat seperti apa kesibukan para kontestan di luar panggung spektakuler. Ternyata, untuk menjadi idola tak semudah menyalakan sebuah motor. Ada perjuangan dan kerja keras yang harus dilakukan. Selamat mencapai posisi yang terhebat! « [teks @HaabibOnta | foto @gregbimz]

SHARE