Arti 17 Tahun bagi The Groove

0
579

Ke mana saja The Groove?

The Groove

Satu kelompok musik dengan dua vokalis. Seorang perempuan dan satunya laki-laki. Sang vokalis perempuan selalu identik dengan hiasan turban membalut kepala. Sedangkan sang vokalis pria berperawakan kurus dan tinggi, selalu tampil dengan goyangan kaki kijangnya yang khas.

Lagu yang cukup menempel di telinga kita adalah “Khayalan”, “Dahulu”, dan “Satu Mimpiku”. Yak, mereka adalah The Groove.

Salah satu band legendaris Indonesia tersebut tanpa terasa hampir mencapai usia 17 tahun. Lika-liku bermusik pun sudah mereka alami.

Dibentuk pada tahun 1997, band yang digawangi Rieka Roeslan, Reza, Arie Firman, Ari, Tanto, Ali, Rejos, Detta, dan Yuke ini sempat mengalami pasang surut selama hampir 17 tahun berkarya di industri musik Indonesia.

Band yang sempat vakum selama dua tahun dan ditinggal sang vokalis, Rieka Roeslan, selama hampir lima tahun ini sepakat untuk kembali berkarya mengungkapkan cinta yang telah mereka bina selama ini. Mereka pun kembali menyapa para penggemarnya dengan berencana kembali mengeluarkan album dan sebuah buku.

Buku tersebut rencananya akan diluncurkan pada saat ulangtahun The Groove pada 15 Mei 2014. Buku tersebut berisi mengenai sejarah The Groove sejak awal terbentuk hingga akhirnya bisa bertahan selama ini.

“Mulai dari awal Yuke kumpulin kami sampai akhirnya terjadilah The Groove ini. Kemudian, setahun main di kafe. Semuanya diceritain,” ujar Rieka Roeslan, yang bertindak sebagai juru bicara, pagi itu di Skenoo Hall, Gandaria City, Jakarta.

“Alasan kenapa Yuke memilih kami. Terus aku juga sempat keluar. Apa sih yang bikin kami sempet renggang sampai akhirnya balik lagi. Semua lah. Sejarah,” kata Rieka menambahkan.

Kami bersaudara

Sekian lama bersama memberikan kesan tersendiri bagi para anggota The Groove. Bagi Rieka, 17 tahun mempunyai arti bahwa di umur yang semakin dewasa ini menjadi sebuah pembuktian apakah mereka mampu bertahan bersama-sama terus dalam sebuah grup.

Sedangkan bagi The Groove, 17 tahun bersama-sama berarti sebuah keluarga. The Groove bukan lagi hanya satu band yang hanya tampil untuk manggung, tapi juga menjadi sebuah kehidupan untuk seluruh masyarakat.

“Kami ini bisa begini semua karena The Groove. Jadi rasa sayang kami terhadap teman-teman tumbuh. Saling pengertian, saling memahami, terutama kalau udah lama nggak ketemu, pasti kangen,” ujar Rieka, 44 tahun.

Selain itu, 17 tahun berarti sebuah pendewasaan. Menurut perempuan kelahiran Sukabumi itu, The Groove saat ini sudah lebih matang dibandingkan saat-saat awal mereka baru terbentuk.

“Kalau saya pribadi ngeliatnya sekarang The Groove lebih terkendali dibanding kami zaman muda-muda dulu. Apalagi [genre] musik kami ‘kan sendirian. Untung sekarang ada adik-adik kami yang meneruskan kayak RAN, Maliq & D’Essentials, Tompi, dan lain-lain.

“Dulu kami kan sendirian, jadi rasanya pressure masyarakat terhadap musik kami tinggi sekali. Sepertinya kami harus berlomba dengan industri musik kebanyakan. Tapi sekarang dengan banyaknya festival jazz atau apa, kami jadi lebih banyak temannya.

“Tapi lahan kami nggak berubah. Kami dulu berjuang itu ada artinya. Tujuh belas tahun itu adalah proses pengertian kami bisa menghargai diri sendiri,” katanya lagi.

Tak hanya dewasa bagi diri mereka masing-masing, The Groove pun kian dewasa dalam bermusik. The Groove semakin menyadari bahwa musik mereka tak akan pernah berubah sampai kapan pun.

“Yang terasa sama kami sih ya musik kami memang begini. Dulu mungkin sempat ada yaa. Namanya juga pekerjaan, ada yang mau musik kami berubah. Ternyata sekarang setelah 17 tahun, kami ngerasa yaa musik kami memang begini.

“Mau era berubah kayak apa juga kami nggak bisa jauh dari ini. Pernah waktu itu dicoba pas bikin “Kusambut Hadirmu”, coba bikin aransemen yang lain. Tapi ternyata pas ketemu, balik lagi ke situ.

“Jadi, ini proses pendewasaan bahwa kami tuh warnanya seperti ini. Tapi yang terpenting sih kami itu 8 bersaudara plus manajemen plus kru ini udah jadi satu keluarga, bukan hanya main musik aja,” papar Rieka panjang dan lebar.

Bertahan hingga usia 17 tahun bukan berarti mereka adem ayem saja. The Groove pun harus berjuang untuk tetap mempertahankan eksistensi mereka di tengah banyaknya band-band baru yang bermunculan.

Bagi mereka, dengan terus konsisten dengan jalur musik yang telah mereka pilih dan tak meniru menjadi orang lain merupakan salah satu cara untuk tetap bertahan di industri musik.

Harapan The Groove di usianya yang ke-17 tahun dan juga bagi musik Indonesia adalah semoga musik-musik yang mempunyai karakter seperti The Groove akan tetap mempunyai tempat dan ruangan untuk terus berkarya. Selain itu, bisa seimbang antara musik industri dengan musik idealis.

“Harapannya, kita selalu mempunyai tempat dan ruangan untuk berkarya. Yang imbanglah antara musik yang di industri kebanyakan sama musik-musik idealis,” pungkas Rieka mewakili keinginan teman-temannya. « [teks @ratihwinanti | foto @boyMALI]

SHARE