Chef Degan: Masakan Indonesia Nggak Ada Kalahnya

0
349

Kita harus bangga dengan masakan Indonesia.

Tingginya lebih kurang sama dengan saya, 174 cm. Saat Ghiboo bertemu dengan juri Master Chef Indonesia ini, Chef Degan berpakaian rapi dengan setelan jas hitam, menghadiri acara undangan makan malam dari departemen pariwisata salah satu negara ASEAN di Mezzanine Moovina Restaurant, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Chef-Degan-1

Perbincangan kami diawali dengan sapaan basa-basi. “Baik, saya sekarang sedang syuting program masak di salah satu televisi lokal,” begitu ujarnya saat ditanya kabar dan aktivitasnya kini.

Chef Degan adalah juru masak handal yang telah berkecimpung di dunia kuliner selama lebih dari 30 tahun. Ia telah bekerja di hotel-hotel terkenal di dunia. Jerman dan Inggris menjadi bahasa kedua dan ketiganya.

Saat ini selain mengisi acara di televisi lokal, Chef berambut cepak ini juga mengelola Cafe Degan yang berlokasi di Kerobokan Kelod, Kuta, Bali.

“Menurut Anda, kota mana yang paling pantas mewakili wisata alam dan kuliner yang lengkap di Indonesia ini, Chef?” tanya saya.

Sambil merapikan duduknya di bangku sebelah, chef bernama lengkap Degan Septoadji Suprijadi ini menjawab, “Kalau dari segalanya, susah dibilang ya. Mmmm, Makassar punya kuliner yang bagus dan pemandangannya juga oke, Bali pemandangannya bagus-bagus dan sajian menunya juga beragam, Jakarta sekarang juga lain dibandingkan lima tahun lalu, dari segi kuliner Jakarta juga sangat tinggi.

“Sebenarnya banyak masakan di seluruh Indonesia itu enak-enak. Cuma mungkin belum semua orang tahu. Dan masakan Indonesia harus masih terus dipromosikan, kalau menurut saya.”

“Bagaimana cara mempromosikannya?” Saya mengejar, ingin tahu lebih dalam mengenai pandangannya.

“Kita sendiri harus bangga soal masakan Indonesia. Harus dimulai dari situ. Coba lihat orang Italia kalau dia ngomong tentang masakannya, seolah passionnya dia di situ, dia merasa orang lain nggak bisa masakan Italia, cuma dia doang ‘gitu. Orang Thailand, Jepang, dan China juga begitu. Dan saya rasa kita belum sampai ke situ.”

Ahli masak yang memulai kariernya dari tahun 1984 ini menambahkan alasannya, “Sekarang lihat saja, malah banyak masakan yang dari luar yang sekarang lagi tren. Jadi saya pikir, ini tergantung diri sendiri, cara kita mendidik anak-anak kita untuk menyukai makanan Indonesia, itu saja.”

“Kalau begitu, masakan Indonesia apa lagi selain rendang, sate, nasi goreng, yang pantas diperkenalkan ke dunia. Chef?” saya menyambar.

“Saya sudah kerja di seluruh dunia, di mana-mana. Masakan Indonesia nggak ada kalahnya. Masakan kita dari Sabang sampai Merauke itu ‘kan banyak sekali, iya nggak?” Saya mengangguk. “Kalau mau dibilang variasinya banyak, di Jawa banyak pilihan, begitu juga dengan daerah lainnya. Dari rasanya juga beda-beda. Ada yang agak manis, agak asin, atau yang banyak lalapan seperti Sunda. Dan itu semua sebenarnya bisa dibawa ke level yang lebih tinggi lagi,” tutur Chef Degan lagi.

“Jadi apa yang perlu ditambahkan untuk mencapai level tersebut, Chef?” saya semakin penasaran. [VIDEO: rahasia luna maya]

Kembali Chef Degan mengatur duduknya. “Kalau kita lihat masakan tradisional Indonesia penampilannya biasa saja tapi rasanya memang enak. Nah sekarang bagaimana caranya untuk membuat penampilannya lebih bagus? Saya selalu bilang, makanan itu punya jiwa. Bilang saja gado-gado, aroma dan rasa,  itu jiwanya. Kalau penampilan, itu seperti bajunya. Sekarang, bajunya boleh diganti tapi jiwanya nggak boleh berubah.”

“Misalkan Chef?” lanjut saya. “Sayur lodeh itu ‘kan enak sekali. Itu ‘kan santan. Dan orang bule pada dasarnya suka santan. Taste-nya oriental, ada daun melinjo, labu siam, kacang panjang, kol, wortel, dan kalo dimasukin begitu saja itu kan kurang menarik.

“Bagusnya, potongan wortelnya di-garnish, labu siamnya dibentuk juga, dan sebagainya untuk penampilan yang lebih bagus. Tapi tetap kuahnya kuah lodeh. Cuma disaring saja, jangan ada lengkuasnya di situ,” ia memamparkan dengan gamblang.

“Saya pernah memasak sambel goreng udang pakai pete. Itu ‘kan enak. Dan orang bule menyukainya. Cuma masih banyak orang yang belum tahu. Karena itulah kita harus bangga terhadap masakan tradisonal,” jelas Chef Degan mengisahkan pengalamannya.

Muncul perasaan bangga dalam jiwa saya. Sebentuk senyum simpul tak tertahan terbit setelah mendengar uraian chef yang pernah menjabat sebagai Executive Chef di Bayan Tree Hotel, Bangkok ini.

“Terimakasih Chef,” ujar saya sembari menjabat tangannya dan menunduk sedikit pertanda salut kepadanya, menutup perbincangan kami. Chef Degan pun kembali berbincang dengan teman-temannya di meja yang menatap langsung ke arah dapur Mezzanine Moovina Restaurant. « [teks @bartno | foto @gregbimz]

SHARE