JALANAN, Dokumenter Pengamen Jakarta

0
343

Jujur, nihil eksploitasi, menginspirasi.

IMG_8278-2
Team Jalanan: Ki; Luky Annash, Ho, Boni, Kartika Jahja, Titi, Daniel Ziv

Bukan seperti dokumenter biasanya. Film dokumenter JALANAN karya sutradara Daniel Ziv asal Kanada membuat emosi saya jungkir balik. Iya, rasa bangga, lucu, inspiratif dan haru membuat saya melakukan standing ovation sehabis film ini selesai. Dan ternyata penonton lain juga melakukan hal sama.

Karya hebat ini membutuhkan waktu pengerjaan tujuh tahun. Lima tahun dihabiskan Daniel Ziv dan timnya untuk proses pengambilan gambar.

“Saya tertarik dengan cerita JALANAN bukan karena berambisi untuk menjadi pembuat film ataupun sekadar mencari ‘topik menarik’ untuk sebuah film dokumenter,” ujar Daniel menuturkan alasan membuat dokumenter JALANAN.

Daniel tertarik membuat dokumenter pengamen jalanan setelah secara tidak sengaja menjumpai sekelompok individu dengan cerita perjalanan hidup mereka. “Saya tidak bisa mengacuhkannya,” katanya.

“Cerita mereka adalah sebuah cerita dengan segala macam bahan racikan yang diinginkan seorang pembuat film dokumenter: pribadi yang menarik, isu ketidakadilan sosial yang mencengangkan, perjuangan individu yang memberi penerangan pada permasalahan universal, gurauan tak senonoh, sub-budaya perkotaan penuh warna, dan – sebagai bonus tambahan – lagu-lagu orisinil luar biasa yang terdapat dalam film JALANAN.”

jalanan movie 3Cerita diawali dengan musik sebagai pengantar. Tiga karakter utama Boni, Ho dan Titi punya kisah hidup masing-masing yang seru dan unik.

Boni tinggal di kolong jembatan Tosari. Ho berkelana di mana saja, sedangkan Titi tinggal bersama suami dan anaknya.

Aktivitas mereka direkam sang sutradara hingga harus terjun ke gorong-gorong bawah jembatan, berlama-lama menongkrongi para tokoh utama, menyusup hingga ke pedesaan Jawa, tanah asal mereka. Semata agar dapat menangkap rupa-rupa momen penting [dan nggak penting] di kehidupan Boni, Ho dan Titi.

Daniel tidak  menghindari rekayasa peristiwa sebagaimana sering tercuat dari reality show, wajah dangkal dan gestur duh-gusti lebay khas sinetron.

Drama, humor cerdas, kocak, terkadang nyerempet jorok, sehingga nyaris tak terasa bahwa ini adalah film dokumenter biasa.

Pertama kali dipertontonkan ke publik Oktober 2013, film JALANAN memenangkan ‘Best Documentary‘ di festival film terbesar di Asia, Busan International Film Festival di Korea.

Karena hal-hal itulah, JALANAN mendapat kehormatan untuk diputar di bioskop-bioskop umum. Nah, mulai 10 April 2014, film ini bakal tayang serentak di Cineplek 21 Jakarta, tepatnya Plasa Senayan dan Blok M.

jalanan movie 2

The Comments
Joko Anwar, Sutradara
“Belum pernah saya menyaksikan karya dokumenter, atau sebuah film, atau sebentuk itikad menggambarkan Jakarta, atau Indonesia, seblak-blakan JALANAN.

Jujur, nihil eksploitasi, menginspirasi, memukau sekaligus puitis. Membuat semangat saya menjulang.

Saya tertawa, saya menangis, menggugah saya untuk menjadi manusia lebih baik. JALANAN adalah sebuah puisi, mencampuraduk antara semangat, kekecewaan, kemarahan, perasaan cinta, serta serbaneka unsur yang menghidupi kehidupan.

Dan yang paling utama: menyuguhkan semangat sambung rasa antar manusia.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini akan menjembatani si kelas atas dengan kaum papa, jika memang mereka para kaya raya itu masih punya hati.

Jika mereka sudah tak punya, film ini bakal mengembalikan hatinya. Film ini adalah sepucuk potret penting yang wajib ditonton setiap orang. Ya, setiap orang.”

Michael Vaitkiotis, Majalah Tempo English Edition, Nov 2013.
“Stunningly vivid and full of energy… Jalanan is one of the finest portrayals of Indonesian life to emerge for outside audiences in years. Shorn of stereotypes and finely observed, it presents a gritty reality that even Indonesians find shocking.”

Leila S. Chudori, Majalah Tempo, Oct 2013.
“Ho, Titi & Boni menguak Jakarta dan sama sekali tak ingin dikalahkan oleh kemiskinan dan kebodohan. Ziv menunggu begitu lama, merekam akhir dari cerita ketiga warga Jakarta ini dengan mengharukan.

Film ini, meski tetap kritis, tetapi menolak untuk meratap dalam kekelaman Jakarta. Jika para penonton di halaman Museum Blanco Ubud bertepuk tangan dan berdiri menghormati tim Daniel Ziv & ketiga penyanyi, bukan hanya karena ini film yang bagus, tetapi juga karena harapan yang ditiupkan film ini adalah sesuatu yang segar.” « [teks @bartno | foto @bartno dan dok JalananMovie]

Trailer:

 

SHARE