Lidah Bersilat, Piring Berdenting

0
178

Dentingan piring pengiring tari Tom Ibnur.

TOM-IBNUR-MEMECAHKAN-PIRINGTom Ibnur dikenal sebagai koreografer Indonesia. Karya-karya tariannya berbasis pada seni tari Minangkabau. Pada Minggu, 6 April 2014, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Tom Ibnur mencoba mengajak penonton lebih mengenal tarian kreasi Ranah Minang bertajuk “Lidah Basilek, Piriang Badantiang.”

Dalam bahasa Indonesia, Lidah Basilek, Piriang Badantiang berarti lidah bersilat, piring berdenting. Dua hal ini terinspirasi dari seni kuliner dan juga seni pertunjukan yang digabungkan.

Ketika lidah menikmati kuliner yang dihidangkan, piring pun berdenting. Bunyi yang dihasilkan ini kemudian dikreasikan dalam Tari Piring oleh Tom Ibnur.

“Minangkabau dikenal dengan kekayaan ragam kulinernya yang menggoyang lidah, tarian indah dan kaya akan filosofi. Tom Ibnur menggabungkan keduanya dalam satu pertunjukan kreasi yang indah namun masih berpegang pada pakem tradisi masyarakat Minang,” ujar Renitasari, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Tom tampil selama 45 menit, ditemani oleh lima penari pengiring. Dengan gemulainya Tom membawakan tari piring yang bercerita tentang kehidupan rakyat agraris yang bekerja bercocok tanam, mengolah padi dan beras.

Ide ini kemudian berkembang dan tumbuh, mengungkap makna-makna baru untuk menyampaikan pikiran dan ide-ide baru seni pertunjukan.

TOM-IBNUR-DAN-PARA-PENARIDisiplin tari Tom Ibnur bermula dari seni tari Minangkabau dan Melayu, khususnya Zapin. Seiring berjalannya waktu, kamus tarinya berkembang mulai dari kekayaan tari dan budaya Nusantara menuju pada kreasi baru dan kontemporer.

Ia bangga bisa melestarikan warisan budaya Indonesia. “Kebanggaan akan kekayaan dan keunikan budaya ini yang ingin saya bagi dengan para pengunjung Galeri Indonesia Kaya,” ujar Tom Ibnur.

Sebagai seniman, ia juga mendalami desain mode, modelling serta manajemen kesenian. Ia merupakan penggerak dan konsultan Revitalisasi Seni Pertunjukan di berbagai daerah di Indonesia, Direktur Langkan Budaya Taratak [Taratak Cultural Centre] di Jambi, Direktur Jambi Arts Festival, Dewan Artistik Art Summit Indonesia, Direktur Artistik Liga Tari Krida Budaya Universitas Indonesia di Jakarta, dan Direktur Artistik Studio One Fashion & Modelling Jakarta.

Selain giat mengenalkan tarian daerah tersebut, ia juga berprofesi sebagai pengajar Opera Jelajah Anak Indonesia [OJAI] di Jakarta, Dewan Artistik Pasar Tari Kontemporer dan Temu Zapin Indonesia di Pekanbaru Riau, Dewan Pendiri Indonesian Dance Festival, Ketua Zapin Centre Indonesia, Konsultan Festival Zapin Nusantara di Johor Baru Malaysia, Konsultan Seni Pertunjukan Melayu dan Zapin D’Muara Festival di Singapura, serta Anggota Triangle Arts Program bidang Arts Management untuk Amerika-Jepang-Indonesia. [teks @nandiyanti | foto dok. Image Dynamic]

SHARE