Pilihlah Aku..

0
91

‘Gimana Pemilu PiLeg kemarin? Seru?

Setiap warga negara, punya hak pilih yang sama di masa Pemilu. Kecuali mereka yang karena satu dan lain hal, memang haknya dibatasi. Tidak boleh memilih. Atau terpaksa tidak bisa memilih. Or, mereka yang merasa hak pilihnya tak punya pengaruh apa-apa. Karena hidup masih juga akan tetap begini. Memilih, atau tidak memilih, dunia tetap bakal berputar. Eh, tapi, benarkah begitu?

@sxc.hu

Saya kuatir, nggak tau persis jawabannya. Karena saya relatif nggak punya banyak pilihan, di Rabu, 9 April kemarin. Buat saya, semua jadi nyaris sama saja. Karena sistemnya sudah corrupt, mau pembela rakyat atau pejuang syahwat, ujungnya nanti terjerembab di tempat yang sama. Jika bisa selamat tak tergelincir dari licinnya genangan darah rakyat, belum tentu mereka dapat lepas dari stereotip wakil rakyat yang kerap identik dengan politik praktis: kejam, kotor, dan [rawan] penyimpangan.

Saya bukan anti-politik. Saya pun nggak mau tergolong a-politik. Tapi memang saya nggak tertarik dengan sistem politik negeri ini yang kondisinya acak-acakan begini. Dan karena saya tak melihat peluang untuk bisa dengan mudah mengubah sistem, maka saya memilih buat mengubah diri sendiri saja. Saya berharap, dengan pilihan itu, sedikitnya ada sedikit sumbangsih saya untuk negeri ini. Paling tidak, saya tak membuatnya menjadi semakin kacau. Itu harapan saya, yang saya yakin, juga diharapkan banyak orang.

Mengenai siapa partai yang bakal punya dominasi kuat di parlemen, atau partai-partai mana saja yang masih berusaha untuk dapat tempat di poros kekuasaan dengan menjalin koalisi, itu pun tak menarik perhatian saya. Biarlah mereka yang haus kekuasaan itu saling berebut pengaruh. Yang terpenting bagi saya adalah kepentingan rakyat banyak tetap menjadi prioritas mereka. Dan karena kebanyakan rakyat masih berada di batas ambang kemiskinan, atau bahkan jauh di bawahnya, inilah yang harus menjadi prioritas mereka, para wakil rakyat, dan siapapun yang akan mereka majukan sebagai calon presiden negeri ini, nantinya.

Meski agak pesimis dengan harapan itu, tapi saya percaya, keseimbangan bakal terjadi. Keadilan, semiris apapun, tetap bakal tercapai, –dengan sukarela atau terpaksa. Dan karenanya, saya menyarankan, kepada masyarakat umum, untuk tetap setia menjadi warga negara yang baik, dan menjalankan apapun kewajiban yang melekat dalam posisi itu. Bahwa setiap warga negara punya hak, ini juga harus kita percayai, akan dapat kita peroleh, lewat satu dan lain cara.

Oh oh, apakah dengan prinsip seperti itu, saya sudah bisa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat? Entah. Yang jelas saya ogah. Mewakili diri sendiri dan keluarga saja saya belum tentu sanggup, apalagi jika mesti mewakili orang banyak. Mohon maaf, saya tak bisa. Dan aku #rapopo.

Salaam,

@hagihagoromo
hagihagoromo

SHARE