Bincang Ringan dengan Idris Sardi

0
236
Idris Sardi

Idris Sardi tidak mau dipanggil “pak”.

Idris Sardi

Senja mulai turun, saat Sang Pendekar Biola ini Ghiboo temui, beberapa waktu lalu. Ia menggunakan sarung berwarna cokelat dengan kemeja putih dan jaket kulit berwarna cokelat. Duduk berdua dengan istrinya, Ratih Putri, Idris Sardi melempar sebuah senyum sembari mempersilakan Ghiboo mewawancarainya sebentar saja, sebelum ia masuk menonton film karya temannya, di senja itu.

“Apa kabar pak?”
Kelahiran 7 Juni 75 tahun lalu di Jakarta ini langsung mengoreksi saya. “Panggil saya, Mas, Bang, atau Bung, asal jangan Bapak.”

Perkenalan awal itu membekas dalam ingatan saya. Jadi bagi siapa saja yang ingin berkenalan dengannya, panggilan Mas kepada Maestro Biola ini bakal menjadi awal yang baik memulai perbincangan.

Mas, ke mana saja? Sudah jarang sekali tampil di teve..
Biasa, konser, tapi karena nggak ada gosip jadi nggak ada beritanya. [sekali lagi Idris Sardi tersenyum]

Konser ke mana Mas?
Kemarin ‘kan baru pulang dari Malaysia, konser ‘The Legendary P Ramlee. Tribute Concert by Violin Maestro Idris Sardi’ [12-13 September 2013] dalam rangka perayaan 50 tahun kemerdekaan Sarawak, Malaysia.

Nah kalau sekarang yang lagi dikerjakan apa, Mas?
Tiap hari saya rekaman. Banyak sih. Di samping itu saya juga mentransfer pita-pita saya. Yang sekarang sudah 1.900 CD karya saya. Luar biasa, saya tidak menduganya.

“Coba bayangkan, ada 1.900 CD kali 70 menit, dan kurang lebih hampir 80 penyanyi, bukan bentuk album. Saya pembuat lagu untuk film. Saya bukan pembuat lagu untuk album, tapi untuk film, jadi beda.

Film terakhir yang pernah lagunya dibuat?
Untuk festival FFI [Festival Film Indonesia] Kuberikan Segalanya. Cerita asli mengenai perempuan yang nggak punya tangan.

Idris Sardi - courtesy of indonesianfilmcenter.com
Idris Sardi – courtesy of indonesianfilmcenter.com

Mas Sardi sebagai jagonya biola Indonesia..
Ia langsung memotong saya. “Nggak ah, pemain biola Indonesia jago-jago semua kok. Saya kebetulan saja dibilang jago, padahal nggak.”

Jawabannya membuat senyum saya mengembang. “Itu kalau kita lihat pemain biola di pinggir jalan itu ‘gila’. Kita nggak bisa main seperti itu. Makanya disebut di musik tidak ada nomor satu, di seni tidak ada nomor satu, karena setiap orang mendeskripsikannya berbeda. Jadi jangan sombong.”

Mas melihat musik Indonesia seperti apa?
Nggak jelas. Kita justru kehilangan identitas. Tapi mungkin suatu proses ya. Saya nggak mau menyalahkan anak-anak muda. Karena mereka itu korban zaman. Dan semua pakai uang, dan bagaimana mereka bisa mengembangkan karir tanpa uang, dan terpaksa akhirnya mereka mengambil suatu jalan pintas.

Ya cuma kadang-kadang setelah dapat mereka lupa. Seharusnya setelah dapat mereka kembali ke titik awal bagaimana dia mengembangkan bakatnya dengan mengembangkan budaya Indonesia. Luar biasa kalau mereka sadar budaya kita, terminal musik dunia ini di Indonesia. Yakin saya.

Alasannya?
Kita ‘kan kaya, Jakarta saja ada Tanjidor, Gambang Kromong, belum yang lainnya. Kalau Korea, sama, Jepang, sama, tapi Indonesia luar biasa. Makanya saya ‘kan mendalami itu perlu beberapa tahun. Sejak tahun ’63 saya sudah memainkan lagu-lagu etnik. Saya lihat di situ hebat, kekuatan musik, dan saya bisa keliling dunia karena memainkan lagu-lagu etnik, “Es Lilin” dan sebagainya.

Berapa lama untuk bisa membawakan lagu-lagu etnik?
Sulit, saya ‘kan jebolan klasik dan ternyata nggak bisa bermain etnik. Alat saya biola itu dari Barat, kemudian dari kecil belajar klasik Barat. Tetapi setelah saya besar saya melihat, oh ternyata saya tidak bisa main keroncong dan sebagainya dengan segudang ilmu barat nggak bisa.

Kemudian saya merasa malu. Sebagai bangsa Indonesia tidak bisa memainkan dengan perasaan lagu-lagu Indonesia, karena itu saya harus bisa dan itu lama. Musik itu ‘kan rasa, bukan hanya mengenai main teknik notasi, tapi bagaimana menyatukan rasa sebagai seorang Indonesia. Seperti main lagu Sunda, kita butuh pengalaman, kita butuh bergaul, nyatu dengan mereka, dan itu tidak mudah. Dan ternyata dengan itu saya bisa keliling dunia.

Keren Mas. Mmmm, pertanyaan terakhir, rahasia menjaga kesehatannya seperti apa Mas?
“Saya tidak merokok, tidak minum, tidak judi. Pokoknya saya nggak bisa kalau nggak kerja. Kalau nggak kerja pasti saya sakit. Itu sudah begitu. Hidup ‘kan diberi oleh Tuhan, jadi motto hidup saya untuk dua, Tuhan dan Indonesia.”¬†¬ę [teks & foto @bartno]

SHARE