Pornography Can Kill Your Sexual Desire

0
360

Menyulut gairah dengan pornografi?

Ilustrasi bercinta 2Foreplay memiliki andil yang cukup besar dalam menentukan kepuasan yang dirasakan pasangan suami istri saat sedang bercinta. Ada beberapa pasangan yang menonton pornografi atau biasa yang kita kenal dengan film biru sebagai foreplay sebelum mencapai orgasme saat bercinta. Hey, it’s a big No No!

Terlalu sering menonton pornografi sebelum bercinta akan sangat mengancam kehidupan berumahtangga. Kecanduan menonton pornografi akan memboikot kebahagiaan pasangan suami istri. Sebagian orang mengidentikkan perilaku ini dengan selingkuh karena secara tidak langsung kita menjauhkan diri dari pasangan kita.

“Pornografi itu membuat pasangan itu jadi memboikot kebahagiaan rumahtangganya. Itu ‘kan sama aja kayak kita ngajak orang ketiga. Kita nggak mau pasangan kita selingkuh, tapi kita ngebiarin diri kita untuk nonton [pornografi] sama pasangan karena kita ngerasa kita udah nikah, udah dewasa, jadinya ya kita nonton aja.

“Itu nggak bisa. Masa mau turn on aja sama orang kita cinta yang ada di sebelah kita itu tuh kita mesti di-turn on sama orang lain [pornografi],” ujar Psikolog Zoya Amirin beberapa waktu lalu.

Zoya menambahkan, orang yang kebiasaan menonton pornografi menjadi tidak sabar dengan proses. Padahal untuk memulai berhubungan intim, kita membutuhkan proses terlebih dahulu seperti membujuk rayu istri atau melakukan obrolan-obrolan ringan yang bisa membuat kita turn on.

“Kalau di pornografi itu ‘kan semua serba shortcut. Dicolek dikit, langsung terangsang, terus basah. Istrinya [dalam film biru] bisa kayak ‘gitu. Orang yang kebiasaan sama nonton pornografi nggak sabar sama proses. Kalau istri ‘kan mesti dibujuk dulu, mesti ada obrolannya dulu. Memang susah sih untuk memulai mengajak pasangan untuk berhubungan,” ujarnya.

Selain itu, tak jarang beberapa pasangan juga menjadikan pornografi sebagai panduan gaya dalam bercinta. Menurut Zoya, hal tersebut dilakukan karena biasanya mereka sudah hopeless.

Mereka berpikir bahwa pornografi dapat membantu pasangan suami istri untuk menciptakan posisi bercinta yang lebih bervariasi. Namun, hal tersebut hanya akan merusak hubungan, dan bahkan akan mematikan sexual desire kita.

Zoya menambahkan, memang, untuk mencapai sexual well-being, kita harus mengganti posisi setiap tiga bulan sekali. Namun, untuk menciptakan variasi posisi dalam bercinta tidak harus selalu merujuk kepada film biru. Kita bisa melihatnya di majalah-majalah dewasa atau browsing melalui internet.

Nggak tau kenapa ya orang-orang tuh mikir ngejadiin pornografi sebagai referensi gaya. Padahal coba kita pergi ke toko buku atau liat majalah. Berapa banyak majalah sekarang yang udah ngasih tau posisi hubungan seksual. Ambil aja dari situ atau browsing.

“Yang paling ideal sebenarnya supaya kita nggak kecanduan sama pornografi untuk sexual well-being adalah kita mesti ganti posisi lho setiap tiga bulan sekali, mencoba minimal satu posisi baru. Mungkin ada ya orang yang maunya posisi missionary melulu. Apalagi buat yang cewek-ceweknya, lebih enak kalau di bawah.

“Nggak masalah di bawah, tapi coba dong posisi-posisi lain yang minimal dicoba selama sebulan itu. Jadi jangan sebulan nyoba lima posisi. Jangan. Kalau bisa, sebulan itu satu posisi baru sama satu posisi lama karena yang nyaman itu mesti terus dijalanin. Sehingga kita jadi nggak sempat mikir pornografi, orang terlalu asik bareng-bareng,” ujar perempuan berambut panjang tersebut.

Untuk mengatasi supaya kita tidak kecanduan terhadap pornografi, kita bisa melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan saat pacaran. Cobalah untuk menikmati hal-hal yang real yang ada di depan kita. Selain itu, cobalah untuk mengomunikasikan dengan pasangan kita untuk mencapai orgasme agar tercipta sexual well-being tentunya.

So, G-Readers, kalau ada yang lebih nyata untuk dinikmati, kenapa harus mencari yang tidak nyata untuk mendapatkan turn on situation? « [teks @ratihwinanti | foto berbagai sumber]

SHARE