Seno Gumira Kemas Ulang Trilogi Insiden

0
160

Inilah audio-book perdana Seno Gumira.

seno gumira1Seno Gumira Ajidarma [SGA], penulis kaliber berat, meluncurkan kembali novel Trilogi Insiden-nya dalam bentuk lain. Kali ini bersama sejumlah seniman lain, Seno mengemas novelnya itu dalam bentuk audio. Para penikmat karyanya itu dapat memiliki pengalaman baru dalam menikmati karya dari pria kelahiran Boston ini.

Di karya audio-nya itu SGA menarasikan secara personal kumpulan esai Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Narasinya itu berdurasi hingga enam jam lamanya. Lewat buku ini sang sastrawan berusaha berbicara, jurnalisme bisa saja diberangus oleh pengusaha, perusahaan, aturan, atau siapapun. Tetapi sastra tidak. Meski dibredel, kebenaran akan terus digunjingkan.

“Ini adalah karya saya yang pertama kali dibuat dalam bentuk buku audio dengan bantuan banyak sahabat yang mau meluangkan waktu untuk membacakan karya saya dan memberikan atmosfer yang berbeda dalam setiap kisah yang dibacakan. Buku audio ini penting bagi sastra Indonesia dan juga menarik karena memanfaatkan internet, teknologi komunikasi mutakhir yang paling populer saat ini,” ujar SGA.

Esai Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara adalah satu dari tiga rangkai karya yang terinspirasi dari Insiden Timor Timur [kini dikenal dengan nama Timor Leste]. Ada kumpulan cerpen Saksi Mata, buku pertama dalam Trilogi Insiden, serta kisah roman Jazz, Parfum, dan Insiden. Karya-karya itu dinarasikan sejumlah tokoh seniman. Sebut saja Ayu Laksmi, Butet Kartaredjasa, Landung Simatupang, Niniek L. Karim, dan Ria Irawan.

Trilogi Insiden merupakan bagian dari catatan sejarah dan bukti perjuangan dari seorang Seno Gumira Ajidarma yang mendokumentasikan peristiwa Timor Timur melalui rangkaian kata-kata dari sudut pandang seorang penulis dan seniman. Maka ketika saya diminta untuk membawakan Seruling Kesunyian dengan aransemen musik tersendiri, saya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memberikan persetujuan,” ujar Ayu Laksmi ketika ditawari untuk mengerjakan proyek ini.

seniman1SGA menggunakan sastra untuk menceritakan kejadian yang ia lihat di Timor Leste, saat tragedi Santa Cruz ditutupi rezim yang berkuasa saat itu. Rekaman Trilogi Insiden seluruhnya berdurasi 17 jam. Dikerjakan di tiga studio yang berbeda. Studio Kua Etnika milik Djaduk Ferianto di Yogyakarta, Studio Soeara Madjoe pimpinan Anjar Prabowo di Jakarta, dan Studio Antida pimpinan Anak Agung Anom Darsana di Denpasar.

Buku audio perdana SGA juga dilengkapi aransemen musik, sehingga jadi lebih kaya. Tidak hanya narator, thok.

Selain kelima nama narator tadi, ada juga deretan pesohor yang ikut terlibat dalam pengerjaan buku ini. Mereka adalah Chairul Umam, Sitok Srengenge, Leon Agusta, Adi Kurdi, Maudy Koesnaedi, Remy Sylado, Renny Djajoesman, Nicholas Saputra, Laksmi Notokusumo, dan Dian Sastrowardoyo.

Audio-book ini dapat diperoleh dengan cara mengunduhnya lewat ponsel dan dikenai biaya Rp 119.000 [novel utuh], dan Rp 49.000 [untuk cerita satuan].

Bersamaan dengan diluncurkannya buku audio ini, ada harapan sastra terus dapat tumbuh di tanah air. Agar generasi yang baru mau mengetahui sejarah yang dibingkai dalam sastra dengan cara yang modern. « [teks & foto @HaabibOnta]

SHARE