Monolog 8 Perempuan Indonesia

0
555
Monolog Para Perempuan di Galery Indonesia Kaya
Happy Salma, bersama para perempuan pembaca monolog.

 “Aku Adalah Perempuan [Monolog Para Perempuan]”

Monolog Aku Perempuan di Galeri Indonesia Kaya
Happy Salma saat membacakan monolog “Aku Perempuan”

Hari Kartini, yang diperingati setiap 21 April merupakan tonggak perubahan hak asasi kaum perempuan Indonesia, atau biasa disebut emansipasi.

Demi kembali menumbuhkan rasa patriotisme pahlawan RA Kartini, yang berjuangan untuk kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki tersebut, Galeri Indonesia Kaya mempersembahkan pertunjukan monolog, yang mengisahkan biografi para perempuan.

Pertunjukan bertajuk “Aku Adalah Perempuan [Monolog Para Perempuan]” ini, berlangsung di Auditorium Galeri Indonesia Kaya [GIK], Minggu [20/4].

Pergelaran Monolog Aku Perempuan melibatkan delapan perempuan dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada pilot, art dealer, manager, penyanyi, aktris, seorang ibu, office girl, dan atlet tae kwon do. Kemudian, para perempuan ini, sengaja ditampilkan dengan dunianya masing-masing dalam satu panggung dengan kisah yang berlainan.

Adapun para perempuan yang terlibat dalam monolog ini, antara lain; Jais Darga [art dealer], Tience Sumartini [pilot], Renitasari Adrian [program direktur], Ina Febriana Sari [atlet tae kwon do], Ati Sriati [penyanyi], Eka Siwi [office girl], Bunda Iffet [manager], dan Happy Salma [aktris dan seniman].

Melalui monolog, para perempuan mengemukakan apa dan bagaimana sesungguhnya menjadi perempuan. Bagaimana perempuan memaknai karier di ruang publik, bagaimana ia memaknai tubuhnya sebagai seorang ibu, dan bagaimana ia memaknai kehadiran lelaki yang menjadi pasangannya.

Biografi tubuh, pikiran, dan perenungan sebagai perempuan Indoenesia yang ditampilkan para perempuan terasa nyata di hadapan penonton yang hadir di GIK.

“Pertunjukan monolog ini membawa penonton pada berbagai permasalahan perempuan yang tetap aktual hingga kini. Ketertindasan, perlawanan, dan pergulatannya menjadi “Aku” yang dibentuk dan dipengaruhi realitas sosial-budayanya.

“Penonton juga akan diajak meresapi kegelisahan kaum perempuan sebagai sebuah kontemplasi ke dalam diri, bahwa seseorang tidaklah lahir sebagai perempuan tapi terpilih sebagai perempuan,” ujar Happy Salma, selaku produser pertunjukan Monolog Para Perempuan.

Sekitar 90 menit, para perempuan ini tidak hanya mencurahkan perasaan serta peran mereka sebagai perempuan Indonesia yang berkarir, namun juga menyampaikan beragam konflik dari sudut pandang mereka, yang menjadi benang merah dan inti dari pertunjukkan ini.

Pihak GIK tak mau kelewatan memuja partisipasi Happy Salma, yang sukses membangkitkan semangat kaum perempuan lewat pertunjukkan Monolog Para Perempuan ini.

Happy Salma dan Dunia Seni

“Happy Salma merupakan seniman yang mendedikasikan dirinya dalam dunia seni dan budaya Indonesia dan selalu tampil dengan beragam ide kreatif,

Kali ini dengan semangat Kartini, Happy menampilkan pertunjukan dimana perempuan sebagai subjek dengan segala haknya untuk menjadi seseorang, eksistensi perempuan di tengah situasi yang seringkali didominasi kaum lelaki,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Peran Happy Salma dalam kegiatan pertunjukkan, memang bukan kali pertama dilakukan dipergelaran Monolog Aku Perempuan ini. Terakhir, wanita asal Sukabumi ini baru saja sukses menggelar pertunjukan wayang orang kontemporer bertajuk Wayang Orang Rock Ekalaya, di pertengahan Maret lalu.

Lainnya? Happy Salma juga dikenal sebagai penulis dan aktris. Tercatat, ia sudah menerbitkan dua buku kumpulan cerpen yaitu Pulang [2006] yang masuk dalam nominasi Literary Khatulistiwa Award, Telaga Fatamorgana [2008]. dan novel kolaborasi Hanya Salju dan Pisau Batu [2010].

Sedangkan, debut pertamanya di dunia seni dimulai saat mementaskan Nyai Ontosoroh sebagai Nyai Ontosoroh [2007]; kemudian monolog Ronggeng Dukuh Paruk [2009] di Amsterdam, Bern Swiss, dan Taman Ismail Marzuki adaptasi dari novel berjudul sama karya Ahmad Tohari; Jabang Tetuko [2011]; Java War “Diponegoro” [2011]; Monolog Inggit dan Roro Mendut [2011]. Monolog Inggit telah dipentaskan beberapa kali dari 2011 sampai 2013.

Dengan perjalanan kariernya di dunia seni yang tidak sebentar itu, Happy pun ‘diganjar’ dengan berbagai penghargaan, di antaranya Pemeran Pembantu Terbaik FFB [Rinduku Cintamu – 2008], Pemeran Pembantu Wanita Terbaik FFI [7 Hati 7 Cinta 7 Wanita – 2010), Pemeran Pembantu Terbaik IMA [7 Hati 7 Cinta 7 Wanita – 2011].

Di tahun 2013, istri Tjokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa ini mulai merambah dunia sutradara. Film yang digarapnya adalah Rectoverso. Kemudian berlanjut menyutradarai sekaligus memproduseri film pendek Kamis Ke 300. Wah… banyak sudah peran Happy Salma untuk seni teater tanah air. Semoga, makin banyak generasi muda lainnya yang juga peduli dan mau melestarikan seni budaya Indonesia. « [teks @DonT_D4 | foto dok Image Dynamics]

SHARE