Idris Sardi: Pada Suatu Ketika

0
480
Idris Sardi

Hari itu adalah hari ketika pebiola senior mangkat di usia ke-75.

Idris Sardi meninggal duniaSaya berdiri di sebelah liang lahatnya, berdesakan bersama orang-orang yang ingin mengantar kepulangan mendiang ke haribaan-Nya. Pria yang dikenal karena kepiawaiannya memainkan lagu “Gugur Bunga” ciptaan Ismail Marzuki ini, harus pamit melangkah pergi. Gugur sebagai orang yang sudah berjasa dalam mengharumkan nama Indonesia dalam bidang musik.

Pria itu dikenal dengan nama Idris Sardi. Seorang figur yang tak pernah menyia-nyiakan bakatnya dalam bidang bermusik. Dunia mengakui itu.

Di tahun 1975, ia sempat tampil di Tokyo memimpin sebuah orkestra Jepang dalam World Pop Song Festival. Idris mengomposisi ulang lagu “Renjana” milik Guruh Soekarno Putra. Ia berduet dengan Grace Simon, penyanyi senior yang dulu suka manggung di TVRI. Sejak penampilan itu, dunia mengakui Idris Sardi sebagai komposer muda berbakat.

Jika ditelaah, ketika tampil di Tokyo, Idris Sardi baru berusia 37 tahun. Publik internasional langsung menganggap ia sosok berbakat. Bakatnya itu merupakan turunan dari ayahnya, seorang direktur musik profesional, Sardi. Lelaki ini biasa akrab dengan sapaan “Mas Sardi”. Pria yang acap tampil dengan rambut klimis ini menyambut kelahiran seorang bayi laki-laki pada 7 Juni 1938, yang diberinya nama Idris Sardi. Idris merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara.

Barangkali, biola adalah kado terindah yang pernah diterima Idris Sardi dari sang ayah. Bersama ‘sahabat setianya’ itu, Idris berhasil memukau publik Yogyakarta ketika manggung pertama kali. Sejak itu ia disebut sebagai bocah ajaib, karena kepiawaiannya memainkan biola.

Suasana pemakaman Idris Sardi
Suasana pemakaman Idris Sardi

Kepergian
Sejak Sabtu [26/04], Idris Sardi dilarikan ke Rumah Sakit Meilia Cibubur akibat komplikasi penyakit yang telah lama ia idap: masalah pencernaan. Violist yang biasa terlihat rapi dengan kemeja berkerah dan jaket itu, terbaring lemas mengenakan selang infus untuk mengasupkan cairan gizi ke dalam tubuhnya. Tubuhnya tampak kurus. Tulang pipi mencolok. Matanya sayu. Kamar rehatnya didominasi wallpaper hijau dengan corak bunga. Bantalnya yang tebal, tempat ia berbaring, juga berpulas hijau.

Idris tak dapat mengonsumsi apapun akibat penyakit yang ia derita. Pihak dokter pun tak berani melakukan operasi karena kondisinya yang terus menurun. Selama dua hari, Idris Sardi berpuasa. Begitulah yang diungkapkan Helmi, sahabat karibnya.

“Mas Idris terkena kanker usus,” kata Helmi. Pria berperawakan Arab dengan kulit kecokelatan itu biasa disapa “Rano” oleh mendiang untuk sekadar bercanda. Badannya yang tambun, potongan rambut, juga perawakannya membuat ia tampak mirip Rano Karno. Hanya tahi lalat dan kumis tebal saja yang tak ia punyai yang jadi pembeda.

Dua hari, pebiola sekaligus komposer ini terbujur tak berdaya di rumah sakit ditemani istri ketiganya, Ratih Sumarto Putri. Penyakit yang menyerang sistem pencernaannya itu telah ia derita sejak 2013. Sewaktu bertemu Idris beberapa bulan silam, ia membocorkan sedikit rahasia. Untuk menjaga kesehatan serta performanya di atas panggung ia berhenti merokok, minum minuman beralkohol, dan judi. “Saya nggak bisa nggak kerja. Kalau nggak kerja, saya sakit,” begitu ujarnya.

Tapi usia tidak bisa membohongi ketahanan tubuh. Idris Sardi pun jatuh sakit. Dia telah berjuang melawan penyakitnya selama dua hari, karena masih ingin berkarya. Namun, dari tanah harus kembali ke tanah. Dari abu harus kembali ke abu. Dari-Nya harus pulang ke -Nya. Senin [28/04], pukul 07.25, di Rumah Sakit Meilia Cibubur, Idris Sardi menghembuskan nafas terakhir di hadapan seluruh keluarga serta karib terdekatnya. Ia mangkat.

Next page top 5

1
2
3
4
SHARE