Destinasi Impian Riyanni Djangkaru: Mars

0
557

Ya, wisata ke luar angkasa memang sudah dibuka

Ryani DjangkaruMasih ingat nggak sama Riyanni Djangkaru? Era 2002-2006, ia adalah presenter acara Jejak Petualang di salah satu televisi nasional. Caranya membawakan acara petualangan itu, memberi inspirasi dan menambah banyak jumlah para pecinta wisata alam di Republik ini.

Setelah menikah, sempat ia tak nongol lagi di layar kaca. Namun kini seiring umur jagoan barunya, Brahman Ahmad Syailendra semakin besar, wanita lulusan Universitas Pakuan ini aktif lagi di dunia yang membesarkan namanya itu.

Acara Jejak Petualang masih dipegangnya, tapi hanya untuk edisi khusus saja, seperti misalnya mengenai kelautan. Karena memang, Riyanni juga menjadi CEO PT Divemag Indonesia yang menerbitkan majalah gratis Divemag.

Pertemuan dengannya di sebuah acara produk rumah tangga tidak Ghiboo sia-siakan untuk menanyakan kabar dan cerita serunya.

hi riyanni apa kabar, ke mana saja, sudah jarang sekali terlihat di televisi?
“Ada, gue kan sekarang totalitasnya di majalah selam. Dan baru balik lagi di Jejak Petualang Desember kemarin, kita cuma ngambil edisi khusus mengenai kelautan aja.”

kalau begitu sebelum masuk di Jejak Petualang lagi, kesibukannya apa?
“Sejak beberapa tahun kemarin, jalannya cuma buat majalah atau sama buat anak-anak aja sih. Travelingnya aku rasa malah lebih intens setelah nggak di Jejak Petualang.”

wah, asyiknya jalan-jalan terus. flashback ya, dari begitu banyaknya petualangan yang telah dilakukan, mana sih yang bikin loe merasa paling membahayakan?
“Sering banget sih kita, tipes masih di jalan dan banyak lagi episode-episode yang kita lagi sakit, tapi masih ada di jalan. Dulu itu kita sering geber dari waktunya dan aktivitasnya. Nah sekarang kita lebih bijak belajar dari dulu-dulu. Sekarang sudah tidak mau lagi seperti itu.”

Mmmmm, “Dulu pernah masih cedera lutut tapi maksain mendaki Puncak Jaya. Itu selama 11 hari. Jadi pas balik langsung operasi. Enjoy dan sempet kesel juga sih,” [ia tersenyum]

terakhir diving?
“Buton yang terakhir dan sebelumnya di Raja Ampat.”

dan kalau tempat terbaik untuk diving?
“Indonesia itu punya macam-macam tempat diving. Diver itu nggak bisa bilang secara spesifik lokasi A bagus. Kalau kita nyari ikan besar mungkin di tempat B kalau kita cari yang lain mungkin di tempat C, kaya gitu-gitu. Jadi misalnya kalau ditanya tempat diving mana yang bagus, itu yang gue nggak bisa jawab. Karena gue suka semuanya.”

bicara masalah equipment, lo pilih merek lokal atau luar?
“Kalau gue tergantung fungsi ya. Kalau misalnya merek lokal ada yang bisa, gue pake merek lokal. Dan kalau merek lokal belum ada yang bisa bikin sesuatu yang gue butuhkan, gue akan dorong, ayo bikin!”

handphone, kamera, atau gadget apa yang selalu lo bawa saat jalan-jalan?
He he he, gue bukan gadget freak yang harus bawa ini-itu. Paling handphone ama charger doang. Kalau perlu mah nggak usah bawa.”

sejauh ini tempat mana yang menurut lo memiliki sunrise dan sunset yang keren?
“Jakarta.”

kenapa?
“Logikanya gini. Kalau di Jakarta bisa lihat sunrise dan sunset, betapa gilanya Jakarta. Iya kan? Lo lihat sunrise di Raja Ampat, itu adalah Raja Ampat man. Buat gue berkah paling gede bisa lihat sunrise dan sunset di Jakarta.”

Ryani Djangkaru 2di mana yang bagus?
“Dari kantor kita di Jakarta Selatan bisa, dari apartemen temen gue di Citywalk sunsetnya juga keren. Nggak nyangka kan, di Jakarta bakal punya begituan.”

nah, anak lo kan sudah mulai beranjak besar nih. nanti saat dia akan memulai traveling pertamanya, apa yang akan lo sarankan?
Safety first, meskipun aplikasinya cukup susah, dan yang kedua enjoy. Jangan kita duluin enjoy baru safetynya. Karena safety itu membutuhkan persiapan cukup lama, dan itu bikin orang suka males. Karena itu, to be honest ya, kalau loe kenapa-napa di alam karena tidak mengindahkan soal safety, itu risiko loe.

Gue lumayan ketat soal safety ini. Karena dari pengalaman sendiri, gue pernah nggak safety. Dari gue nggak ngikutin prosedurnya seperti apa, sepatunya seperti apa, bajunya bagaimana, dan itu kerasa banget nggak nyamannya. Ngapain jika kita udah tahu cara membuat diri di alam lebih nyaman, ngapain nggak dilakuin. Kan intinya seperti itu.”

ya ya ya, benar juga. setelah semua ini, impian travel lo selanjutnya ke mana?
“Mars, bagus ya?” [dalam hati, gue nggak nyangka dia bakal jawab seperti itu, tapi keren. Sambil mengangguk-angguk] Ya, wisata ke luar angkasa memang sudah dibuka, dan itu baru dimulai ke bulan aja.

“Pokoknya luar angkasa aja. Gue pengin bayangin, ketika loe udah keliling Jawa aja, prespektif lo udah berubah. Keliling Indonesia prespektif lo juga berubah, keliling dunia prespektifnya lain lagi. Apa jadinya kalau gue bisa ada di luar bumi. Prespektif apa yang bisa gue punya, itu kan yang menarik. Gue nggak tahu deh terjadi apa nggak. Yang penting kan mimpi dulu.” [tersenyum]

Saya juga ikut tersenyum mendengarnya. Dan itulah pertanyaan terakhir yang saya ajukan ke Riyanni. Seusai berjabat tangan, ia pun langsung menggerakan kakinya ke arah panggung untuk memberikan penghargaan kepada ibu yang berhasil memenangkan hadiah dari acara tersebut.

Saat ini, kecintaannya terhadap alam, dia terapkan dalam kesehariannya. Yaitu menghemat air. Riyanni mandi hanya dengan menggunakan dua gayung air saja. Caranya adalah, gayung pertama berisi air dan campuran sabun secukupnya. Gunakan waslap untuk mengusap seluruh tubuh.

Gayung kedua yang cuma air bersih saja digunakan untuk membilas dengan juga menggunakan waslap. Bersih kok katanya. Tak hanya itu, Riyanni juga mengajak para tetangganya untuk membuat lubang resapan biopori yang berguna untuk meningkatkan daya resapan air.«[teks @bartno | foto @deahijjrah]

Also read:
Lima destinasi favorit Dian Sastro
Kind traveler bukan sekadar wisata
Deretan sinetron saduran

SHARE