Keputusan Hijrah Dewi Sandra

0
2056

Kisah Dewi Sandra setelah dan sebelum hijrah

dewi sandraSiang itu sekumpulan wartawan hiburan berkerumun. Tak mau kalah satu sama lain mendapatkan berita terbaru dari Dewi Sandra seputar perannya di film terbarunya berjudul Haji Backpacker.

Senyumnya selalu terkembang saat menjawab pertanyaan para wartawan. Wajah indonya tak terlihat lelah meski harus menjawab pertanyaan sama berkali-kali.

”Kenapa Mbak Dewi mau menerima peran di film ini?” tanya seorang wartawan. Dalam kurun waktu dua jam terakhir, setidaknya ia telah mendapatkan pertanyaan sama sebanyak lima sampai enam kali. Namun ia tetap menjawab. Lagi dan lagi.

“Semenjak saya hijrah saya merasakan manusia selalu punya proses. Film ini kan memperlihatkan perjalanan seseorang menuju ‘cahaya’. Semua orang punya perjalanan masing-masing, ini cerita yang baik,” ujarnya dengan wajah berseri-seri.

Dewi Sandra memang akan bermain di sebuah film religi. Ceritanya mengenai perjalanan seorang pria bernama Mada, diperankan Abimana, yang mencari kembali kepercayaannya kepada Sang Pencipta.

Dewi meladeni semua pertanyaan yang dialamatkan kepadanya, termasuk lokasi mana saja yang akan ia datangi demi kebutuhan film tersebut. “Kebetulan saya akan syuting di Indonesia dan di India.”

Sekitar 15 menit kemudian, satu per satu media yang berkerumun itu meninggalkan pelantun tembang “Menari-Nari” itu. Hanya tinggal tiga wartawan yang masih mencuri waktu untuk sekadar berbincang santai dengan Dewi, termasuk saya.

”Sorry, Mbak Dewi mau istirahat dulu ya,” ujar sang asisten secara tiba-tiba, memberi kode untuk menyudahi sesi wawancara yang diadakan di Kantor Falcon Pictures, Duren Tiga, Jakarta itu.

Nggak apa-apa,” kata Dewi kepada asistennya. Ia mempersilakan kami melanjutkan sesi bincang-bincang santai itu.

Berhijrah
Dewi Sandra Setelah membahas film terbarunya, Haji Backpacker, pertanyaan bergulir. Kali ini saya mencoba menanyakan apakah setelah berhijab Dewi hanya akan bermain di film bertema agama? Pertanyaan sepele. Namun Dewi memberikan jawaban lebih dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Dulu, orang mengenalnya sebagai penyanyi berpenampilan seksi. Tapi kini, Dewi Sandra telah berhijrah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hijrah diartikan sebagai perpindahan Nabi Muhammad bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah. Kemudian, kata hijrah seringkali dialamatkan untuk sebuah perpindahan menuju sesuatu yang lebih baik.

Dalam hal ini, hijrahnya Dewi adalah berhijab atau menutup aurat selayaknya perempuan muslim yang telah tertulis dalam kita suci Al-Quran, surat An-Nur ayat 31. Semenjak itu pula, Dewi mengubah dirinya menjadi seorang yang ingin lebih mendalami agamanya sendiri.

Semenjak memutuskan berhijab di tahun 2012, Dewi lebih menjaga diri. Ia memfilter tawaran pekerjaan yang datang kepadanya.

”Saya percaya rezeki itu pasti ada. Allah maha pengatur segala sesuatu dengan sangat amat baik. Kalau dulu saya disibukkan dengan musik, nyanyi, segala macam, saat ini pintu itu sedang tertutup untuk saya,” katanya, yang telah mengeluarkan lima album musik.

“Saya memang sedang tidak ingin menyentuh itu. Tapi justru ada pintu lain yang terbuka, sekarang pintu yang ada adalah akting.”

Memilih film
dewi sandraMenurut perempuan berdarah Inggris-Indonesia ini, tak ada salahnya kalau saat ini ia lebih banyak menghabiskan waktu bermain film. Dengan catatan, film tersebut bisa membawa kebaikkan untuk penontonnya dan juga bisa menjadi media syiar untuknya. Lagi pula, dengan bermain di film bertema agama justu membuatnya semakin banyak menimba ilmu dari teman-teman di sekitar.

Saat ini Dewi mengakui dirinya masih berada di tahap haus akan ilmu agama. Setiap hal yang dilakukannya adalah belajar. Termasuk bermain film.

“Saya itu ekspresif sekali. Dulu kalau selesai apa-apa udah heboh sendiri. Yess selesai. Loncat-loncat. Sekarang kalau selesai take, langsung punya alarm ke diri sendiri. Ayo Dewi nggak boleh lagi kayak dulu lagi. Dan untungnya, semenjak berhijab selalu dapat peran perempuan manis, jadi memang beda ya dibanding dulu,” kata Dewi sambil tertawa.

Berhijrah, di mata Dewi bukan sekadar berubah secara penampilan fisik. Namun juga dalam hal spiritual, jiwa, ibadah, dan berbagai macam hal lainnya. Berhijrah bukan saja membuat Dewi tampil dengan hijabnya. Tapi juga membuatnya lebih tenang dan bijak. Meski memang bukan perkara gampang.

Dewi membutuhkan waktu dua tahun lamanya untuk terus memantapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik seperti sekarang.

“Saya butuhkan dua tahun sampai ke titik ini dan itu. Tarik-ulurnya memang sangat dahsyat. Tapi kembali lagi saya berusaha menjemput hidayah. Itu magical, tidak seperti yang saya bayangkan. Saya memang harus mencari hidayah untuk bisa berhijrah,” kata perempuan kelahiran Brasil, 30 April 1980 ini.

Berguru ke ustaz
dewi sandraSebelum berhijrah, Dewi sempat berguru ke beberapa orang yang lebih paham soal agama. Ia juga banyak membaca buku-buku referensi tentang Islam. Buku yang luar biasa tebal pun, menurutnya terasa begitu nikmat dipahami jika niat seorang hamba adalah mencari hidayah-Nya.

Dewi mengingat kembali perjalanan dirinya ketika berguru kepada Ustaz Yuke Semeru. Di saat banyak pertanyaan-pertanyaan hidup tak bisa dijawab oleh dirinya sendiri, Dewi bersyukur ada yang mau membimbingnya. “Kalau tahu, Ustaz Yuke dulunya rocker. Tapi beliau itu luar biasa sekali bisa menjadi ustaz seperti sekarang. Beliau berjasa bagi saya,” cerita Dewi, bersemangat.

Dewi masih ingat betul tantangan yang diberikan oleh Ustaz Yuke. ”Beliau bilang, Dewi kamu salat lima waktunya gimana? Waktu itu saya bilang, masih bolong-bolong ustaz. Dan dia berkata ‘bagaimana kamu mau bagus agamanya, salat saja masih bolong’. Semenjak itu, alhamdulillah saya berusaha untuk tidak meninggalkan [salat] lima waktu,” ujarnya.

Kebetulan, siang itu sudah masuk waktu solat zuhur. Dewi mengajak kami untuk salat bersama. “Ngomong salat jadi ingat, habis ini kita salat yuk, belum pada salat kan?” katanya ramah mengingatkan. Kami, wartawan yang sedang asyik berbincang dengannya seolah tersentil. Kami tersenyum. Saya sendiri berpikir ternyata di tengah kesibukkannya Dewi masih mengingat kewajibannya.

Usai menawari kami salat berjamaah dia kembali melanjutkan tanya jawab kami. “Jadi bagaimana tadi?” tanyanya. Saya mencoba me-refresh kembali obrolan kami tentang masa-masa Dewi Sandra sebelum hijrah. “Oh ya. Memang banyak sekali orang yang berjasa,” ungkapnya.

Dewi Sandra 8
Dewi Sandra dan suami, Agus Rahman

Didukung suami
Selain berguru pada Ustad Yuke Semeru, Dewi mengaku dirinya sedang asyik mendalami tulisan-tulisan handai taulan lainnya. Saat ini ia suka membaca buku-buku dari Ustad Felix Siaw dan juga Peggy Melati Sukma.

Semenjak 2012 lalu, tak ada sedikit pun beban yang dirasakan Dewi dalam hal mendalami agam Islam. ”Islam itu luas dan indah, tak ada habisnya untuk memahami itu semua.”

Karena ketika kita menikmati setiap proses sebagai pembelajaran, maka tidak akan ada satupun hal yang terasa sia-sia. Seperti itulah Dewi melihat perjalanannya tiga tahun terakhir ini. Terlebih dukungan Agus Rahman, sang suami sangat besar untuk kebaikkan dirinya.

“Meski bukan manusia yang sempurna tapi saya berusaha menjadi istri yang baik. Jadi semua tingkah laku dan pekerjaan itu harus ada ridho dan doa dari suami. Orangtua saya sudah meninggal, jadi tanggung jawab saya tentu saja ke suami dan juga orangtua dari suami saya,” katanya.

Saat memutuskan berhijab, tak ada keraguan sama sekali. Satu malam sebelumnya, di bulan Desember 2012, Dewi salat tahajud dan meyakinkan dirinya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Keesokan harinya, tanpa memberi tahu siapapun, Dewi sudah tampil dengan hijabnya. Sang suami sangat mendukung keputusan Dewi untuk urusan yang satu itu.

Dewi pernah dinobatkan menjadi wanita terseksi oleh majalah FHM. Dulu hal itu menjadi sesuatu yang membanggakan baginya. Namun kini, setelah berhijrah Dewi merasa salah dengan tittle sebagai wanita terseksi itu. Ia merasa tak semestinya ia memamerkan tubuhnya di masa lalu. Hijrahnya Dewi memang bukan sekadar di permukaan saja. Namun benar-benar sudah menggenapi dirinya secara utuh.

Ketika saya memujinya sebagai perempuan yang luar biasa, Dewi mensyukurinya. Tapi kembali lagi Dewi mengingatkan bahwa setiap manusia pasti tidak ada yang sempurna, termasuk dirinya.

Mindset saya sampai saat ini kita harus selalu merunduk. Selalu berdoa dan memperbaiki,” kata penyanyi yang berjaya di awal tahun 2000-an itu.

Ujian hidup
dewi sandra Perempuan yang aktif di pengajian mingguan ini mengatakan, setiap orang pasti akan menemukan titik perubahan hidup seperti yang dirasakannya. Setiap orang di dalam hidupnya pasti telah mencicipi cobaan-cobaan di dalam hidup.

Menurutnya semua orang harus berterima kasih atas ujian itu. Seperti dirinya yang sangat berterima kasih atas ujian yang didapatkannya selama ini. Kehilangan kedua orangtua, dua kali merasakan kegagalan berumah tangga dan berebagai ujian lainnya telah melahirkan kembali seorang Dewi yang lebih tangguh lagi.

”Karena ujian tersebut yang bisa membuat saya menjadi sosok yang seperti sekarang. Yang tadinya saya bertanya salah gue apa, salah di mana, yang tadinya ingin berontak dan lari. Tapi jawabannya adalah dengan menerima,” tuturnya.

“Menerima diri sendiri dan kenyataan bahwa manusia akan menemukan titik ’itu’, untuk kembali ke hidayah-Nya. Sooner or later, pasti. Bersyukur saya telah bertemu dengan itu, alhamdulillah,” lanjutnya, mengakhiri obrolan kami.

Saya berterima kasih kepada Dewi yang telah meluangkan waktunya berbincang bersama di siang itu. Pesinetron “Nada Cinta” itu pun menyambut pamit saya dengan senyum dan juga berpamitan. Tak lupa ia kembali mengingatkan untuk menjalankan ibadah solat zuhur.

Setelahnya, ditemani sang asisten, Dewi beranjak menuju mushalla yang terdapat di bagian belakang kantor Falcon Pictures untuk menunaikan ibadah salat zuhur. « [teks @nandiyanti | foto dok Ghiboo dan Dewi Sandra]

Also read:
Suatu sore bersama Sophie Muller
Rahasia Luna Maya
Up close and personal: Sarah Sechan

SHARE