Masakan Mengandung Budaya dan Sejarah

0
283

William Wongsong melestarikan masakan nusantara

William Wongso dan Santhi Serad
Pengamat kuliner William Wongso bersama food scinetist Santhi Serad

Sayangnya, peminat masakan khas nusantara jauh berkurang. Pemicunya adalah makanan cepat saji dari luar negeri. Bahan baku yang sulit di dapat. Serta resep yang tidak dibukukan atau diturunkan. Sehingga jembatan penyambung antar generasi terputus.

Melihat kecenderungan ini, William Wongso bersama Santhi Serad, seorang food scientist, berkeliling Sumatera untuk menjaga kelestarian khas masakan nusantara dari kepunahan. Mereka berdua bergabung ke sebuah NGO bernama ACMI. Aku Cinta Masakan Indonesia.

Dalam acara bertajuk “Cerita Cita Rasa Nusantara” di galeri Indonesia Kaya, mereka mengungkapkan ketakjubannya akan resep masakan indonesia. “Bayangkan saja rendang itu, ada puluhan resepnya. Setiap desa punya rahasianya masing,” ungkap william.

Masakan-masakan itu terancam punah jika tidak dibukukan, katanya. Permasalahannya hanyalah “bahasa” karena satu bahan yang sama punya nama berbeda di tiap daerah. Misalnya kecombrang, di lain tempat namanya, misal Aceh tunas itu disebut menjadi Kala.

5Selain itu, menurut William hanya di Indonesia saja di sekolah tata boga tidak mengajarkan masakan lokal. Padahal itu adalah kekayaan bangsa sendiri. Kurikulum sekolah-sekolah perhotelan cenderung mengajarkan masakan Barat. “Tidak mungkin ada seorang pribumi yang bisa terkenal karena memasak spaghetti di luar. Bayangkan jika dia memasak rendang?”

Dari hasil pelesiran ACMI, Wiliam dan Santhi menghidangkan Nasi Minyak dan Faging Melbi serta Ayam Bak Kala. Nasi Minyak dan Daging Melbi merukan masakan khas dari Jambi. Sementara Ayam Bak Kala itu dari Aceh. Itu semua dibagikan cuma-cuma kepada seluruh orang yang hadir di Galeri Indonesia Kaya, malam itu.

Rasa nasinya gurih dan aromanya kuat. Begitu juga ayam , rasa tunas kecombrang yang khas menambah nafsu untuk menyantapnya.

William hanya menyayangkan, kenapa rasa-rasa khas itu tidak lagi diminati. Menghilang secara perlahan. Atau berganti nama, sesuai dengan bahasa inggris. Padahal nama makanan adalah identitas yang tidak boleh diubah.  « [teks dan foto @HaabibOnta | shantiserad.com]

Also read: Kepedulian seorang Nadya Hutagalung

SHARE