Bak Bik Buk Bersama IndoDrummers

0
242

Kaum penggebuk drum bicara pembajakan dan cara kreatif bertahan di industri musik Tanah Air

Indonesian Drummers (2)Suatu malam, sejumlah pria dan seorang wanita bertandang ke redaksi Ghiboo. Sebagian mereka terlihat memegang stick drum. Tak usah heran, karena mereka adalah pengurus dan anggota komunitas Indonesian Drummers [@IndoDrummers].

Kedatangan tetamu seperti itu, kami menyambut mereka di ruang meeting. Yang menyesaki ruang saat itu ada Gilang Ramadhan [Nebula, GIF, Exit, Karimata, Krakatau, Nera – @GilRamadhan], Sandy Andarusman [PAS Band – @sandyPASBand], Brian Kresnaputro [Sheila On 7 – @BrianSO7], Gusti Hendy [GIGI – @GUSTIHENDY], Seno Aji Wibowo [Audio Jet – @SenoAUDIOJET], Chandra ‘Konde’ Christanto [Samsons – @kondesamsons], Adev Chudaiva [@adev_Chudaiva], dan Desty Rahmawati [@desty_unyil].

Mereka berbagi cerita tentang pembajakan album, saran band baru untuk bertahan di industri musik, juga peran media. Berikut bincang santai Editor in Chief @hagihagoromo dengan mereka yang diselingi canda tawa. Sebagai orang yang dituakan, tentu jawaban-jawaban banyak keluar dari mulut Gilang Ramadhan. Simak petikannya berikut ini.

hello semua, selamat datang di ghiboo. selama ini, drummer sering diposisikan di belakang. tapi tentu kalian bukan yang terbelakang. menurut kalian, bagaimana penjualan album musik fisik sekarang ini? stabil?
Gilang Ramadhan [GR]: “Kalau dibilang penjualan yang tadinya stabil, lalu dibandingkan masa sekarang, ini parah. Karena saya dan keluarga dari industri musik juga. Anak-anak yang main musik nambah, dan saya rasa penjualannya mungkin berbeda.

“Saya mengutarakanya seperti itulah, kalau tidak kreatif, gulung tikar lagi. Kecuali kalau anak band berpikirnya bisnis, pasti mereka akan lebih maju lagi. Dan saya lihat anak band sekarang, mungkin otak bisnisnya lebih jalan.”

apa yang harus dilakukan buat survive kalau memang penjualan album musik turun?
GR: “Dibilang turun? Mungkin dilihat dari yang ada di teve ya. Orang saat ini sukanya mungkin bukan mendengarkan, mungkin lebih suka melihat. Orang-orang lebih suka tertawa ngeliat mukanya Hendy [Gusti Hendy] dilempar bedak, ketimbang melihat cara mainnya.

“Tapi orang-orang yang melihat secara musikalitas tekniknya juga banyak. Terus terang saya main musik itu beragam, dari musik kontemporer, sampe bahasa Inggris istilahnya ‘chunky’, musik itu saya melakukan.

“Tambah banyak ‘gitu orang-orang yang intelektualnya meningkat dari sudut pendengaran musik, tapi banyak juga yang ingin melihat mukanya Hendy dibedak-bedakin, ‘yang itu tuh, yang musik-musik yang itu, [sambil memberi isyarat kepada Hendy yang duduk persis di depannya] hahaha, itu banyak juga’. Itu nggak akan ada perubahan sampai kapanpun.

“Dulu saya ingat ‘gitu, teve cuma ada satu. Saya mengalami, syuting cuma satu teve. Sekarang, harus ke beberapa teve, harus ke beberapa radio, berapa media ‘gitu. Beda. Beda sekali. Kemudian kalau dibilang [pendapatan] menurun, anak-anak band pendapatannya malah lebih. Unik ya?

Gilang berhenti sebentar. Mengambil donat. Mengunyahnya sebentar. Lalu melanjutkan.

Gilang Ramadhan
Gilang Ramadhan

“Ya tapi saya, sebagai musisi terus terang, sampai sekarang harus terus fight. Ini bajakan harus dihilangin. Kita harus cari cara baru buat manage penjualan kita. Terakhir orang banyak terlena RBT [Ring Back Tone], tapi tidak mempersiapkan ketika masa itu sudah turun.

“Sekarang ‘kan lagi banyak musisi-musisi dari label juga bekerjasama dengan produk. Mungkin branding dari image-nya dia atau bagaimana, jadi mungkin untuk sementara ini industri musiknya memang belum stabil.”

album fisik sudah nggak bisa diharapkan. yang digital juga belum naik. lalu apa solusinya?
GR: “[Penjualan] fisik masih bisa diharapkan. Kalau menurut saya konsepnya kayak lukisan, kolektor item. Umpamanya saya punya pemikiran, harga 1 CD 500 ribu. Ada artwork-nya segala macam. Kolektor maunya yang kayak ‘gitu, kayak lukisan.

“Ada hal-hal lain umpamanya rekaman, ada beberapa band di luar negeri, begitu band itu tampil, terus langsung direkam. Sebenarnya yang mesti kreatif itu bukan bandnya, tapi pebisnisnya.

“Pebisnis ‘kan di musik kreatif, kalau kami [musisi] harus lebih kreatif dari sudut bermain musiknya. Saya terus terang, [kalau] saya yang menciptakan content terus saya yang harus mikirin bisnisnya, itu sulit banget. Apalagi saya harus melakukan musik yang kontemporer, itu gila lagi.

“Tapi kalau seandainya saya masih membutuhkan orang-orang manajemen, manajer aja. Manajer band itu sulit banget. Manajer yang kapasitasnya bisa bahasa Inggris, punya link, supaya bisa jualan bukan hanya di Indonesia aja. Karena punya band jangan berpikir bisa main di Indonesia aja.”

kalau pemasukan dari iklan, ‘gimana?
GR: Ini mereka-mereka nih yang merasakan uang dari iklan [menunjuk rekan-rekan lain: Hendy GIGI, Konde Samsons, dan Brian Sheila On 7].

bagaimana pemasukan dari konser?
GR: “Konser? Sekarang lebih banyak konser luar yang ada. Konser luar, ini masalah pajak harus diperhatikan. Berapa pajaknya untuk mereka? Berapa pajak untuk musisi Indonesia?

“Band Indonesia kalau tampil, itu tax-nya terlalu tinggi, buat security, segala macam. Terus kalau band luar, saya rasa tax-nya memang harus tinggi, walaupun dulu saya pikir band luar jarang ke sini. Sekarang kita kayak kebobolan, nggak sekali dua kali mereka datang ke sini.

“Tapi kalau seandainya win win ‘gitu, seandainya ada yang masuk ke Indonesia berapa, mungkin kita bisa main di Jepang berapa, itu ‘kan berarti urusan ke pemerintah lagi, ‘gitu.

“Sebenarnya bukan pemerintah yang nggak support ya. Umpamanya ngarepin bajakan, ‘kan bajakan bukan CD aja? Cuma ‘kan mereka nanyanya kalau sekarang [bajakan] dibendung, berapa orang yang nggak makan? [tersenyum sinis]

“Tapi walau begitu bajakan tetap harus dimusnahkan. Campaign-nya ‘gini, di Jakarta aja. Pokoknya yang ada bajakan, masuk penjara, langsung di Jakarta aja.”

lo yang baru rilis album ‘gimana [menunjuk ke Konde], pendapat lo tentang pembajakan?
Konde [K]: “Pembajakan sih menurut gue satu hal yang udah jadi budaya ya di sini. Dulu mungkin 2006 awal Samsons keluar album, pembajakan udah ada. Cuma mungkin di beberapa kalangan yang nggak mampu beli album. Cuma sekarang udah lebih besar lagi, macam yang free download. Jadi intinya ya balik ke diri kitanya masing-masing sih.”

Sandy [S]: “Kalau dulu gue ngalamin. Dulu pernah tuh bajakan dibasmi. Jamannya Bob Geldof! Wuuh bersih, nggak ada pembajakan sama sekali. Udah senang gue. Eeeehh, terus krismon [krisis moneter] ‘kan. Anjlok lagi lah!

GR: “Jadi kalau saya sih, percaya tidak percaya, sebenarnya pembajakan bisa dihapus. Dalam satu minggu aja, kalo penekanannya international aja, langsung pada takut semuanya. Kalau ada itu, beres. Umpamanya kalo di Turki, lebih gila lagi. YouTube nggak boleh masuk. Lebih gila lagi. Kalau di Jepang, CD masih laku.”

Next page top 5

1
2
SHARE