Sex: Where vs Why

0
367

Perbedaan pria dan wanita menyikapi rangsangan seks

sex2Pria dan wanita memiliki banyak perbedaan. Bukan saja secara fisik, melainkan juga pada cara berpikir dan bersikap. Begitu pula untuk urusan sex.

Lewat sejumlah varian buku bertema Men Are From Mars and Women Are From Venus, John Gray menjelaskan secara spesifik perbedaan-perbedaan itu. Menurut Gray, pria dan wanita memiliki cara pandang dan cara berpikir yang tak sama. Lebih dari itu, penyikapan mereka terhadap suatu masalah akan berbeda dan mungkin saja menimbulkan masalah komunikasi di antara keduanya.

Pasangan Allan dan Barbara Pease dalam buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps juga menjelaskan perbedaan tersebut. Mereka mengibaratkan pria seperti microwave jika masuk urusan seks: langsung panas saat dinyalakan, dan mendadak dingin ketika dimatikan. Wanita, kata mereka, ibarat kompor listrik. Panasnya merambat naik jika dinyalakan, dan tak langsung dingin ketika dimatikan.

Kegiatan seks, hampir selalu dimulai saat picu-picu rangsangan teraktifkan. Stimulus-stimulus ini banyak tersebar di sekeliling kita. Pria lebih banyak mudah terangsang melalui visual, sementara wanita tidak demikian. Hampir semua wanita memasukkan faktor emosi ketika berhubungan dengan rangsangan seksual.

Menurut para ahli, tak ada perbedaan signifikan antara tingkat rangsangan pada pria dan wanita. Ini karena pria dan wanita memiliki hormon yang sama yang menyebabkan terjadinya rangsangan.

Adalah testosteron, estrogen, dan progesteron yang punya kendali dalam urusan rangsang-merangsang ini pada hipotalamus, bagian otak yang mengatur respons seksual. Namun, karena pria memiliki kadar testosteron 10 – 20 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan wanita, maka rangsangan terhadap pria umumnya lebih tinggi dari pada wanita. Itulah sebabnya otak pria seakan didominasi oleh pikiran-pikiran tentang seks.

Karena kadar testosteronnya lebih tinggi, dan mudah terangsang secara visual, umumnya pria mudah ereksi saat melihat bagian-bagian tubuh wanita yang seksi atau dianggap sensual. Dan jika sudah masuk ke fase birahi, perasaan ini akan sulit dibendung sampai hasrat seks terlampiaskan.

Berbeda dengan pria, pola rangsangan pada wanita tidak semudah itu. Untuk bisa melanjutkan ke tahapan hubungan seksual, wanita mesti mendapat perasaan yang nyaman. Gairah seksual wanita lebih dikendalikan oleh emosi. Wanita merasa tak aman jika ia belum mengetahui perasaan sang pria padanya. Apakah si pria akan menyayanginya? Apakah ia akan melindungi? Apakah ia akan menjadi pendamping yang setia? Bagi pria, tentu saja pertimbangan-pertimbangan ini hampir dikatakan nihil.

Jika untuk berhubungan seksual kaum pria hanya membutuhkan tempat, maka wanita lebih mensyaratkan alasan. Pria dengan mudah melampiaskan hasrat seksnya jika mendapat stres. Semakin tinggi tekanan yang ia dapatkan, semakin mudah pula ia melampiaskan keinginannya untuk melakukan hubungan seks. Ada pasangan, tempat yang cocok, and let’s sex begin.

Sebaliknya, wanita justru enggan berhubungan seks jika sedang merasa depresi. Bos yang marah-marah, klien yang komplain, anak-anak yang rewel, membuat mereka tak minat pada kegiatan seks. Bukannya terangsang, yang ada malah il-fil.

Meski terdapat perbedaan yang cukup jelas di antara keduanya, ini tak membuat kegiatan seks tak bisa terlaksana. Lewat komunikasi yang baik antara pria dan wanita, dan kemengertian terhadap kebutuhan pasangan, seks tetap bisa diwujudkan. Dan mencari serta mengusahakan kegiatan ini, tentu amat menyenangkan. Jika tidak begitu, tak mungkin seks menjadi topik yang seakan tak pernah habis dibahas. « [teks @EvaEvilia666 – foto sxc.hu]

Also read:
Tato di tubuh Sophia Muller

SHARE