Iwan Fals Sang Maestro: Pertemuan Pertama

0
693

Apa syarat jadi seorang maestro?

Pengantar Redaksi
Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat seri yang ditayangkan dalam waktu dua minggu, hingga akhir Mei.

Dunia politik penuh dengan intrik..” — Iwan Fals

Iwan Fals 1 - okkeganiaBegitulah sepenggal lirik yang terus saya ingat sejak duduk di bangku kelas 2 SMP. Cuma lagu itu yang saya suka. Maklum, pada jaman itu, jaman reformasi, generasi saya lebih kenal musik punk. Musik balada dan country milik Iwan Fals tidak terlalu familiar. Kurang nge-hits. Tapi entah. Saya suka lagu itu. Judulnya “Asik Nggak Asik”

Seiring berjalannya waktu, saya mulai tahu sedikit demi sedikit tentang pelantun lagu itu. Iwan Fals pemusik paling fenomenal. Dari dulu hingga sekarang. Wajahnya, jadi sebuah legitimasi rupa seorang bumiputera. Sudah tiga dekade ia berkarya dalam dunia musik. Ratusan lagu sudah ia rekam. Ada yang dijual ke industri. Ada juga yang cuma ia mainkan ketika konser. Lirik-lirik pedas yang ia buat menjadi salah satu alasan. Ketika zaman orde baru berkuasa, sistem amatlah represif. Bahaya jika asal njeplak. Bisa-bisa dia hilang ditelan bumi seperti korban-korban penghilangan paksa lainnya.

Dalam kondisi represif itu, Iwan Fals tumbuh. Ia bicara lugas, apa adanya. Lebih lugas dari jurnalis yang dibungkam. Bicara tentang kondisi sekitar yang ia lihat. Nasib guru, sistem politik, tragedi kapal meledak, narkoba, dan cinta.

Wong cilik merespon antusias karya yang ia buat. Karena serasa lekat dengan nasib yang mereka alami. Eh, tapi bukan cuma wong cilik yang terhisap pesona ‘Si Gondrong’. Pengusaha Setiawan Djodi juga mendekatinya. Mengajak Iwan membentuk grup band SWAMI, bersama Sawung Djabo, Toto Tewel, Nanoe, Naniel, dan Inisisri.

Memasuki awal ’90-an, hegemoni Sang Maestro tak dapat lagi dipelak. Wajah brewoknya sudah terpampang di mana pun. Orang-orang berkumpul membentuk fans club-nya, persis seperti sebuah partai. Dan, Iwan Fals adalah Presidennya.

Angin Barat sudah bertiup berkali-kali. Musim pun sudah berganti. Rezim otoriter juga telah digulingkan. Seperti kupu-kupu yang keluar dari kepompong, Iwan Fals juga mengalami metamorfosa. Dari pemuda lusuh berambut gondrong dengan kumis tebal, kini menjadi seorang pria tua berambut abu-abu dengan pakaian rapi dan suka bicara cinta. Cintanya kepada alam semesta.

Ketika generasi yang muda lebih tertarik mendengarkan musik cadas, bukan berarti eksistensi Iwan Fals berkurang. Ia tetap memiliki fans yang loyal. Bahkan di halaman fesbuknya, dia memiliki 4 juta penggemar. Dan itu pun masih terus bertambah.

Bersama Toto Tewel dan Sonata, ia membentuk ‘Iwan Fals dan Band’. Personilnya: Iwan Fals, Toto Tewel, Ardy, Sonata, Edy Daromi, dan Yose. Di antara mereka hanya Ardy dan Yose yang masih berusia muda. Baru menginjak 26 tahun, kira-kira usia mereka. Keduanya ada di antara para dedengkot musik tanah air. Sebelum Yose, ada Raiden yang mengisi posisi penggebuk drum. Tapi Raiden memilih hengkang karena ada tawaran yang lebih menggiurkan.

Seorang pemusik belum bisa ditahbiskan sebagai maestro jika belum mentransfer ilmunya. Baik ilmu kebermusikan atau filosofi hidup. Tulisan ini akan mengulas tentang Iwan Fals di mata mereka yang masih berjiwa muda.

Next page top 5

1
2
SHARE