In The Mood

0
95

Ke mana mood jika sedang dibutuhkan?

Apa yang paling sering dijadikan kambing hitam jika hasil pekerjaan tak sesuai dengan harapan? Yak, Anda benar. Jawabannya adalah mood.

Tidak, ini sama sekali bukan masalah keahlian, bukan juga soal tenggat waktu yang terlalu sedikit. Ini murni tentang kondisi hati ketika kita mengerjakan tugas-tugas itu.

mood2Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang kerap menggunakan dalih itu, jika pekerjaan saya tak juga beres. Lucunya, jika sudah dijawab bahwa penyebab ketidakberesan itu adalah karena tidak mood, sepertinya tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menggerutu ya.

Tapi sepertinya, jawaban “lagi nggakmood” itu bukan alasan yang profesional ya. Jika kita sudah mengikatkan diri dengan tali komitmen pada suatu pekerjaan atau profesi, artinya kita tak lagi punya hak untuk menggunakan mood sebagai dalih jika pekerjaan kita tak beres.

Lalu apa yang harus dilakukan jika kita memang benar-benar sedang kehilangan mood, atau tak sedang bersemangat untuk mengerjakan suatu tugas?

Jawabannya adalah mood booster.

Tetapi sebelum masuk ke mood booster, ada baiknya kita teliti dulu, penyebab hilangnya mood dalam diri kita. Intinya, jika kita tahu penyebabnya, maka solusi untuk menghadirkannya kembali bisa lebih mudah kita tentukan.

Ah ya, saya tahu. Sebagian besar kita mungkin terlalu malas untuk melakukan itu. Jadi, instead of meneliti penyebab hilangnya mood, kita lebih suka untuk bermalas-malasan, atau mengerjakan hal lain, yang –sering, langsung atau tidak langsung, dapat– membangkitkan mood kita lagi.

Hahaha, baiklah. Dari yang kerap saya alami, cara efektif membangkitkan mood adalah dengan memberi rangsangan-rangsangan tertentu kepada panca indera kita, agar semangat bisa terbakar lagi.

Apa saja? Mata, tontonlah film-film yang Anda suka. Atau video-video lucu. Atau baca majalah atau komik ringan yang membuat Anda bisa segar kembali. Window shopping juga sering bisa dengan cepat mengembalikan mood Anda. Telinga, putar musik kesayangan Anda. Yang tempo-nya up beat, mungkin? Atau musik klasik? White noise juga bagus. Mendengarkan rekaman suara hujan, misalnya. Mana saja, yang paling Anda sukai. Hidung, coba nyalakan lilin aroma terapi yang baru Anda peroleh di pusat perbelanjaan. Lidah, manjakan indera pengecap Anda ini dengan makanan or minuman kesukaan. Tak perlu banyak, yang penting bisa menyembuhkan rasa malas dalam diri kita. Cokelat –berupa makanan atau minuman– biasanya ampuh untuk urusan ini. Kulit, periksa lagi, kapan terakhir Anda melakukan body treatment. Spa atau pijat ringan sering mujarab untuk mengembalikan kesegaran pada tubuh Anda.

Semua itu, jika kita teliti satu persatu, sangat boleh jadi berasal dari kejenuhan yang Anda alami tanpa sadari. Jika sudah begitu, mungkin saja Anda memang terlalu dekat dengan pekerjaan yang rutin Anda lakukan. Anda harus dijauhkan –sedikit– darinya. Liburan, barangkali?

Selain memberi rangsangan-rangsangan untuk indera kita, boleh juga Anda lakukan hal lain. berkumpul bersama teman-teman lama, misalnya. Atau tekuni hobi Anda yang terbengkalai. Pendeknya, perbaiki mood Anda sebelum ia terbalik dan menjadi doom! « [foto sxc.hu]

Salaam,
@hagihagoromo

 

~tentang judul~
“In The Mood” adalah single nomor satu yang merajai era big band pada tahun 1939. Lagu ini direkam dan dipopulerkan Glenn Miller, seorang pemain trombone dan pemimpin The Glenn Miller Orchestra, sebuah big band jazz di akhir era 1930-an. Lagu ini menduduki puncak tangga lagu pada tahun 1940 di Amerika Serikat dan satu tahun kemudian ditampilkan dalam film Sun Valley Serenade. Sayang, pesawat yang ditumpangi Glenn Miller saat hendak menghibur tentara Amerika yang tengah bertempur pada Perang Dunia II hilang ditelan cuaca buruk di atas Kanal Inggris. «

SHARE