Iwan Fals Sang Maestro: Si Oom Sangat Kreatif

0
1043

Obrolan dengan Ardy Yusuf Sikki masih berlanjut..

Pengantar Redaksi
Tulisan ini adalah bagian kedua dari empat seri yang ditayangkan dalam waktu dua minggu, hingga akhir Mei. Tulisan pertama dapat dibaca di artikel bertajuk Iwan Fals Sang Maestro: Pertemuan Pertama.

***

SAAT ITU, di tahun 2012, kenang Ardy, Iwan Fals kehilangan pembetot bass-nya. Sementara, pengerjaan album Raya belum rampung sepenuhnya. Batas waktu rekaman album tak lebih dari tiga bulan. Tak ada pilihan lain untuk Ardy selain mengisi kekosongan. Ketimbang cari sana-sini, Iwan percaya saja dengan nama yang disodorkan Toto Tewel. Ardy pun melakukan proses jammin’ dengan Iwan untuk menyetel permainan keduanya.

Iwan Fals 1
Sang Maestro di Konser Suara Untuk Negeri di Monas

Namun jarak generasi tak bisa dipungkiri. Ardy yang tumbuh dengan musik funk jadi lebih ngoyo ketika membetot senar bass-nya. Bayangkan saja jika seorang Flea RHCP harus mengiringi Bob Dylan. “Wah, itu perjuangan banget waktu bikin album Raya. Gue biasa main funk atau rock harus main country balad ‘gitu. Untung aja si Oom mau ngebimbing,” kenangnya sambil menyeringai.

Belum lagi waktu pengerjaan album yang mepet. Proses menyetem, pengenalan lagu, dan rekaman, semua melebur seiring jalannya waktu. “Oom sih selalu ngebebasin saat lagi latihan. Kadang gue yang ngikutin alur mainnya dia. Kadang Oom yang ngikutin. Ganti-gantian aja. Jadi enak,” sahutnya lagi.

Dari hal sesimpel itu, Ardy paham jika dalam musik, tidak ada senioritas. Meski ia harus bermain dengan dedengkot musik Indonesia, ketika senar sudah dipetik, kreativitas adalah segalanya.

“Oom itu orangnya megang apa yang sudah dia bilang. Di rumahnya, cuma ada satu merek kopi. Elo tau lah. Hahaha,” katanya sambil terkekeh, “Kalau dia udah bilang ‘A’ ya ‘A’,” tegasnya lagi.

Namun tidak begitu dengan aransemen lagu. Semua bisa berubah kapan saja, kata Ardy. “Hari ini ‘gini, besok bisa beda lagi kalau nggak direkam. Tergantung inspirasi aja,” tuturnya sembari kembali menyeruput kopi.

Satu hal yang juga dikagumi Ardy dari frontman-nya, Iwan Fals tak pernah kehabisan ide untuk mencipta lagu. Berbeda dengan kritik yang sering dilayangkan kepadanya satu dekade terakhir ini. Setelah kepergian putra pertamanya, Galang Rambu Anarki, Iwan lebih sering menciptakan lagu cinta nelangsa. Tidak lagi kritik kepada rezim penguasa.

Mangkatnya Galang memukul telak sang Presiden Orang Indonesia [Oi]. Ia dikritik tak bisa membuat hits lagi. Puncaknya, di album 50:50, Iwan meminta Bongki, Pongki, Dewiq, dan Opick untuk membuatkan lagu-lagu bertema cinta. Secara gamblang ia berterus terang jika orang lain kini lebih hebat menciptakan lagu cinta.

Pada sebuah kesempatan, Iwan menuturkan keluh-kesahnya, “…saya belum bisa mewujudkan lagu-lagu cinta saya. Tidak sebagus Opick bikin, Digo, atau mungkin Pongki dan yang lain. Kekinian. Saya sudah mulai hilang bunyi-bunyi cinta. Syair pendek tapi yang benar-benar tulus. Saya kesulitan membuat lagu seperti itu.”

Namun itu disanggah Ardy. Menurutnya, sosok yang dia panggil ‘Oom’, dua tahun ini ialah sosok yang kreatif. Setiap kali standar motornya disandarkan di Leuwinanggung, selalu ada lagu-lagu baru yang siap direkam lewat gadget Sang Maestro. “Kadang justru lagi pas istitahat atau ngobrol santai dia malah bikin lagu. Ide suka dateng tiba-tiba aja. Langsung deh direkam. Soalnya, kalo nggak ‘gitu, besok bisa lupa,” paparnya sembari terbahak.

Album yang dikerjakan secara sporadis, akhirnya rampung. Ada 18 lagu baru yang ‘digenjrengkan’ Iwan Fals dan Band. Sejak itu pula, Ardy selalu ikut serta ke mana pun ‘Si Oom’ manggung.

***

MATAHARI TERLALU TERIK untuk sekadar dilewatkan. Rajawali sudah keluar dari sarangnya untuk bersolek. Menunjukkan paruh kokoh serta cemgkraman kukunya yang sangar. Di balik daun meranti, punguk mengagumi sayapnya yang kharismatik. Berpikir suatu saat jarum evolusi kembali berdetak, memberi ia sebuah sayap untuk terbang melukis angkasa.

Dari Leuwinanggung yang teduh, Iwan Fals mulai berkeliling lagi. Mengamen dari satu kota ke kota lainnya, seperti Si Budi kecil menjajakan koran, dari mobil ke mobil di lampu merah Tugu Pancoran. Pertama kali ikut Si Oom manggung, Ardy berpikir jika konser pertamanya akan berlangsung rusuh. Sekumpulan anak muda yang lusuh, mabuk, gemar mengibarkan bendera besar yang dikumpulkan di satu tempat. Berdesakan. Sumpek, bau keringat. Sikut sana, sikut sini, dan terjadilah keributan. Begitulah stigma yang melekat di tubuh penggemar Iwan Fals.

“Konser pertama gue, gila banget!” ungkap Ardy berapi-api. “Baru kali itu gue ngeliat banyak banget orang yang dateng!”

Ardy masih ingat sebelum konser dimulai. Iwan dan Cikal bilang kepadanya untuk tidak menahan diri di atas panggung. “Waktu itu, urusan ngacak-ngacak dikasih ke gue sama Raiden, hahaha,” kenangnya sembari tertawa. Seperti mendengar titah dari seorang raja, Ardy pun melesat ke sana-sini bak Flea, idolanya.

“Awalnya gue pikir bakal rusuh,” kenang Ardy, “Tapi nyatanya nggak . Mereka semua nurut sama apa yang dibilang Oom Iwan, kok. Nggak ada ribut-ribut. Bendera gede juga nggak ada. Di situ kali ya kharisma-nya Oom Iwan. Bayangin aja, ada ribuan orang yang mau nurut apa yang dia bilang.”

Sepanjang bersama Virgiawan Listanto [nama lengkap Iwan Fals-red], Ardy cuma mengalami dua kali kerusuhan. Sayang, akibat banyaknya lokasi konser, dia tak bisa mengingatnya. “Gue lupa di mana. Tangerang.. eh bukan. Di mana ya? PRJ? Ah lupa,” ujarnya.

“Yang pasti, pas rusuh pertama kali itu, Si Oom ngambek sama anak-anak Oi,”katanya meneruskan. Kerusuhan bermula ketika konser disesaki penggilanya. Sebagian massa yang merasa kesempitan berusaha merobohkan pagar. Petugas security kontan berusaha mengamankan suasana. Kondisi kian memanas. Baku hantam antar-kedua pihak pun tak terelakkan. Massa penggemar Iwan sampai mencopot spanduk guna mengambil bambunya untuk dijadikan senjata. Pihak keamanan berhasil dipukul mundur. Pagar berhasil mereka robohkan. Dan di situ, Sang Maestro mulai ambil komando. Iwan segera menghentikan jalannya acara. Konser tidak akan berlangsung jika kerusuhan masih mengular.

Mendengar itu, massa yang semula mengamuk perlahan menjadi tenang. Mereka sadar telah membuat idolanya geram melihat tingkah vandal itu. Ardy pun diam, tak tahu harus bagaimana. Beberapa saat kemudian massa coba membayar kekacauan yang telah diperbuat. “Mereka ramai-ramai ngebangun pagar yang sudah dirobohin. Bambu juga dibuang ke pinggiran. Suasana jadi kondusif lagi abis Si Oom bicara,” sambung bassist yang hingga kini masih aktif main bass di band Elpamas, FF, dan The Siti ini.

Usai itu, konser kembali dilanjutkan. Semua berjalan lancar. Tak ada lagi kerusuhan. Tapi pernah suatu kali, Iwan Fals benar-benar menghentikan konsernya akibat massa yang berkelahi. Mereka tak lagi mendengar kekesalan Sang Maestro. Atmosfer konser pun terlanjur penuh amarah. Massa terlalu sibuk baku hantam. Tak menghiraukan Iwan di atas podium yang ingin bernyanyi suka cita.

“Baru kali itu gue paham, kalau Oom Iwan lagi marah kayak ‘gimana,” kata pria yang acap bertelanjang dada saat latihan band ini.

Next page top 5

1
2
SHARE