100 Ribu ke Bali ala Nugie

0
224
Nugie
Nugie

“Gaya gayanya anak mahasiswa…,” ujar Nugie

NugieSeusai tampil di program streaming #RabuGhiboo yang tayang setiap Rabu pukul 3 sore Ghiboo.com, Nugie bersedia meluangkan waktu untu membagi kisah tentang liburannya di Bali. Intermeso, bagi saya, bila menyebut nama Nugie, yang akrab di telinga adalah lagu bernuansa alam seperti “Pembuat Teh” dan “Burung Gereja”

Kami duduk santai di sofa letter L berwarna abu-abu. Dimulai obrolan basa basi, hingga akhirnya Nugie bercerita bahwa ia dan kelima temannya pernah berpetualang ke Bali. Modal di kantung hanya uang 100 ribu ke Bali! “Gayanya gaya anak mahasiswa yang bukan berpetualang, culun semua, ha ha ha,” ujar Nugie, mengenang.

Usai menyeruput kopi, Nugie kemudian melanjutkan kisahnya itu, menjawab rasa penasaran saya. “Tahun 1993, semester 4. Gue berenam dari FISIP UI. Cewek tiga, cowo tiga, sepakat berangkat ke Bali menggunakan angkutan umum.

“Tabungan yang gue punya saat itu seratus ribu rupiah. Pokoknya kita sepakat nggak mau berfoya-foya. [Saat itu naik metro mini dari Depok ke Pasar Minggu masih 100 perak] Berangkat naik metro mini dari Depok ke Pasar Minggu, lalu terus nyambung lagi ke Gambir.

“Kita nggak naik kereta penumpang. Tapi, kereta barang yang tidak perlu bayar untuk menuju Jogja [perjalanannya lebih kurang 11 jam]. Sampai di Jogja kita harus nyari tempat tidur dong, karena benar-benar mau berhemat. [Sambil mengangguk, benak saya bertanya dengan cara apa?].

“Kita mencari suatu nama di buku telepon [saat itu di beberapa telepon umum atau wartel tersedia buku telepon] dan menemukan nama [Nugie tertawa ringan], yang kata temanku, ‘eh ini kayanya nama saudara gue deh’ ditelpon lah. Terus temanku ngomong pakai bahasa kasarnya Jawa dan dia mengiyakan..’oh iya-iya tidur di rumah pakle [paman] aja, tapi kamarnya kamar sederhana lho’. Ternyata memang rumahnya sangat sederhana. 

“Kita tidur di sana dua malam, dan hari ketiga kita pamit. [Sambil tersenyum, Nugie melanjutkan] Di situ udah makan gratis, tidur gratis, dapat kamar mandi, dan sisa duit belum kepake sama sekali, belum belanja, pokoknya kita mau ke Bali, jadi itu duit nggak ada yang dibelanjain.” 

[Nugie kembali menyeruput kopinya, saya menunggu kisah selanjutnya, penasaran. “Terus selanjutnya,” kata saya, setelah melihat ia usai menelan minumnya]

“Dari Jogja kita naik kereta barang lagi. Kata pakle yang kita inapin itu, kereta barang yang ke Surabaya adanya malam [lama perjalanannya sekitar 5 jam dari Jogja ke Surabaya]. Kita naik dari Stasiun Tugu. Setelah kereta barangnya muncul, kita loncat ke atas,” jelas Nugie, dengan gerakan tangan seolah menggapai langit.

“Di Surabaya modusnya begitu lagi. Cari lagi lewat buku telepon [tertawa ringan]. Tapi gue inget punya saudara di sini. Hanya nggak bisa diinepin, cuma bisa buat istirahat, jadilah kita mampir ke situ, dan [Nugie tersenyum lebar] kemudian kita dibayarin naik bis buat nyebrang ke Bali [tertawa].

Udah sampai Bali, teman ku yang ngaku-ngaku punya saudara di Jogja, nekat lagi, nyari lagi di buku telepon, dan berhasil lagi. Malahan kita dipinjemin mobil, sama yang diaku-akuin saudara sama teman gue. Mobilnya VW Safari. Tapi masalahnya nggak ada yang bisa nyetir. Alhasil gue yang paling nekat nyetir dengan segala macam keterbatasan.”

Penghobi sepeda ini melanjutkan, “Di Bali itu kita ke Bedugul, Sanur dan ke tempat-tempat wisata lain dengan mobil VW yang dipinjem ama temen gue dalam tanda petik [ha ha ha tawa Nugie], itu selama seminggu. [Keren, sela saya singkat. Kemudian Nugie cerita lagi].

“Supaya hemat, kita itu makan nasi bungkus yang saat itu sekitar 1000-an lah, jadi di sana benar-benar nikmatin liburan aja. Kita juga udah siapin duit oleh-oleh buat orang rumah. Kalau gue bawa hiasan pisang-pisangan gitu yang bisa dicopot.

“Pas balik, kita naik mobil bak ke Gilimanuk-nya, dan terus naik kereta ke Jogja. [Sambil tertawa ringan, Nugie menjelaskan], Kita dapat tambahan ongkos dari Om-nya teman gue yang di Bali, supaya naik kereta yang lebih enakan lagi untuk sampai ke Jakarta.”

“Seru banget tuh,” tanggap saya. Senyum dan anggukannya menegaskan pernyataan saya itu.

Obrolan dilanjutkan dengan hal lainnya, diantaranya impian Nugie untuk ke Papua, “Yang pengin sih ke Papua lagi. Tapi bukan ke Raja Ampatnya, tapi ke Merauke-nya,” tutur Nugie, yang tidak lama setelah itu, manajernya mengajak untuk beranjak sekarang menuju ke acara selanjutnya. «[teks @bartno | foto @mirzablue]

Also read: Nugie Super PD Bersama Prisca Soetikno

SHARE