Iwan Fals, di Sore Hari Sang Maestro

0
1255
iwan fals
iwan fals

Sang Maestro angkat bicara.

Pengantar Redaksi
Tulisan ini adalah bagian terakhir dari empat seri artikel tentang Iwan Fals. Tulisan pertama dapat dibaca di artikel bertajuk Iwan Fals Sang Maestro: Pertemuan Pertama dan yang kedua di artikel berjudul Iwan Fals Sang Maestro: Si Oom Sangat Kreatif serta yang ketiga bertitel Iwan Fals Sang Maestro: Bersama Raiden Soedjono.

***

iwan-falsSETELAH PENELUSURAN panjang dari Margonda sampai Gandaria, akhirnya motor  saya bersandar juga di Leuwinanggung. Desa ini termasuk dalam wilayah Tapos, Depok, Jawa Barat. Untuk kali kedua saya tiba di rumah Sang Maestro. Saya sudah bertemu dengan Ardy Yusuf Sikki [pencabik bass] dan Raiden Soedjono [mantan penggebuk drum] dari Iwan Fals dan Band. Kini waktunya saya menemui sosok asli Sang Maestro. Pria lewat paruh baya ini sudah melegenda di jagad musik tanah air.

Ketika sampai, matahari masihlah tinggi. Namun teriknya tak berhasil menembus rindang pohon di pekarangan rumah Iwan Fals. Bagian terdepan rumahnya ada Toko Kita, sebuah toko yang menjual segala merchandise pemiliknya. Di belakangnya ada sebuah perpustakaan yang terisi penuh oleh buku. Sementara di bagian kanan ada kantor Manajemen Tiga Rambu.

Iwan Fals masih dalam sesi latihan bersama yang lain. Andy meminta saya menunggu. Ia staf Sang Maestro yang ditugaskan menemani saya.

Saya menyempatkan ke kamar kecil. Bebenah sedikit agar tidak terlihat kusut. Karena perjalanan dari Sarinah menuju Leuwinanggung, lumayan jauh. Saat di dalam kamar kecil, saya dibuat terkejut karena papan tanda dilarang merokok terpasang di sana.

Selang beberapa lama, saya dipanggil untuk menemui Sang Maestro. Sore itu dia duduk di sebuah bangku panjang di halaman depan studio mendiang Galang. Dengan kaus oblong putih, dia pegang sebuah gitar. Lalu dipetiknya perlahan.

Tibalah waktu yang dinanti. Ada sedikit rasa jengah dan canggung ketika mengulurkan tangan menyalaminya. Lalu saya duduk di sebelahnya. And the show goes on..

awalnya kenapa sampai membentuk band seperti ini, oom?
Jadi karena kebutuhan aja. Saya itu orang solo. Sendiri. Almarhum anak saya yang paling tua itu ‘kan bikin band. Saya juga sebelum ini ada Swami dan segala macam. Tapi intinya sendiri lah. Terus kita bikinin studio ini buat almarhum. Dia meninggal, sekarang saya terusin deh. Terus bikin manajemen, istri saya bantu sama temen-temen ini juga [sambil menunjuk ke arah Toto Tewel, Ardy, Sonata, dan Yose, para personel Iwan Fals dan Band].

oya, kok bisa dipilih nama ‘tiga rambu’ untuk manajemennya, oom?
Tiga Rambu itu nama anak saya. Semua ada rambunya. Galang Rambu, Cikal Rambu, Rayya Rambu..

‘kan kalo mas toto sama bang sonata sudah terbilang senior. ‘gimana rasanya main sama yang muda kayak ardy dan yose?
Sama aja. Di musik itu ‘kan nggak ada senior dan junior. Di Iwan Fals dan band yang ada A Minor sama D Minor.. hahaha.

apa ada penyesuaian sama mereka?
Ada, tapi nggak lama. Wajar aja.

‘kan sekarang yang muda genrenya lebih ke metal. itu ‘gimana nyelarasinnya?
Ya nggak masalah. Saya menghormati segala kebebasan berekspresi kok. Saya dengerin juga musik metal. Gampang. Kebetulan anak saya main juga musik grunge. Saya juga seneng Nirvana.

ketika bersama mereka yang muda ini, apa ada wejangan ‘gitu saat latihan?
Yaa, kalau perlu ngomong, saya ngomong. Kalau nggak, ya nggak. Terutama soal energi, sering tuh saya bilangin. Kalau yang muda ‘kan cenderung energik, tapi cepat kendurnya. Nah yang tua, bukan berarti bertenaga, cuma bisa mengaturnya.

Sehingga untuk durasi panjang, yang muda lebih gampang capek. Karena tenaganya besar, tapi mereka nggak pandai ngatur tempo tenaga juga. Nah kita yang berumur ‘gini ‘kan tahu diri juga. Jadi pas start-nya menggebu-gebu, ke sananya udah loyo. Tapi berkat latihan ‘gini mereka sedikit-sedikit mulai bisa ngejaganya.

nah, oom iwan ‘gimana nge-maintain tenaga?
Ya sesuai kebutuhan. Kalau perlu tenaga besar ya dikeluarkan. Kalau nggak perlu kenapa mesti dibesar-besarkan.

ada ritual sebelum manggung nggak sih, oom?
Kalau saya pemanasan tenggorokan sama pergelangan tangan. Biar nggak kaku aja.

ada latihan khusus ‘gitu buat suara, oom?
Hahaha, nggak itu nggak ada. Termasuk ‘jorok’ juga saya. Nggak terlalu pengertian.

album rayya itu butuh berapa lama waktu pengerjaannya?
Emm, itu kira-kira dua bulanan.

wah, berarti ngebut banget dong, oom?
Nggak juga, ada satu lagu dikerjain enam hari. Ada juga yang satu hari. Ya karena memang kebutuhan. Yang Belum Ada Judul itu saya kerjakan selama satu hari.

apa yang mau oom iwan sampaikan lewat album ini?
Silaturrahim, kasih sayang, tentang hal-hal sosial. Sampah, pohon, kritik sosial tentang bahaya internet. Terus tentang rekening ‘gendut’. Hubungan dengan alam, kemping, dan api unggun. Ya intinya hidup bersama harus dijaga.

Saya juga minta izin dulu sama dia [Rayya]. “Ya, aku pakai namamu nih untuk album. Aku jadiin lagu juga.” Terus dia mikir dulu. Baru diizinin. Kalau nggak boleh, saya nggak pakai namanya.

oom iwan juga ‘kan lagi ngumpulin 4 juta orang untuk “nyanyian raya”. kalau itu terjadi, dalam benak oom iwan, akan seperti apa?
Ya Alhamdulillah. Bersyukur sama Allah. Saya senang sebegitu banyak orang kumpul akan sadar dengan lingkungan, kasih sayang, sampah, terus harapan kepada presiden baru akan tersampaikan. Karena dia akan saya undang. Bersama-sama kita nyanyikan “Indonesia Raya” tiga stanza, versi aslinya.

itu akan panjang banget oom? kalau nanti ada kejadian seperti menteri yang lupa ‘gimana?
Hahaha, ya itu ‘kan kondisinya beda. Nanti ada layar besar dengan teks lagunya di situ.

saya udah perhatiin lagu oom dari dulu. kenapa nggak ada yang pakai bahasa inggris?
Waduh, saya nggak bisa Bahasa Inggris, hehehe. Kalau saya bisa, pasti saya bikin.

pernah terpikir untuk go internasional nggak sih, oom?
Kenapa harus go internasional? Di sini aja bisa. Orang-orang asing banyak yang ke mari, ngapain kita yang ke sana. Kalau jaman dulu, pas Elvis Presley, mungkin iya. Tapi sekarang dunia ‘kan sudah di jempol. Ngapain saya mesti ke Moskow, New York, Tokyo, Israel, Arab, atau ke mana pun? Cukup di sini aja. Di Leuwinanggung. Ada YouTube, dunia bisa lihat. Ada televisi dan teknologi sekarang ini.

Saya ke Jepang dan Korea beberapa kali, Alhamdulillah apresiatif. Apalagi orang Indonesia di luar negeri ‘kan banyak sekali. Kalau mereka dengerin lagu saya dan menyampaikan itu ke orang asing ‘kan sama juga. Saya pikir, mungkin, saya nggak terlalu ngotot soal itu. Kalau saya serius di sini aja, dunia juga tahu.

sewaktu konser suara untuk negeri di monas itu saya datang ‘kan oom. dan itu rame banget. tapi oom iwan pernah nggak sih bikin konser terus sepi?
Wah ya pernah! Sering juga konsernya sepi. Yang publikasinya kurang, pasti sepi. Kalau publikasinya bagus, pasti ramai. Pernah juga saya ditinggalin sama penonton. Pas di Ancol, waktu dulu. Main udah selesai, saya masih nyanyi. Akhirnya penonton bosen, pada pergi semua. Sampai sound system itu dimatiin. Speaker juga. Saya tinggal sendirian di panggung. Udah pada pulang semua, hahaha.

sejauh ini oom iwan terus konsisten dengan lagu yang sarat kritik sosial. apa yang oom iwan rasakan tentang indonesia?
Ya, ini ‘kan lagi musim kampanye. Daripada koar-koar, kampanye dengan janji-janji bohong, mendingan kontestan pemilu itu berbondong-bondong bersihin sampah. Bersihin got. Menanam pohon. Terus menghibur masyarakat dengan kerja nyata.

Nggak perlu banyak janji. Bayangin orang berbondong turun ke jalanan buat kampanye. Mendingan bikin karnaval kayak di Brazil atau Jember. ‘Kan bagus tuh, ada kesenian bisa menghibur. Tapi sampahnya diambilin, jangan buang sembarangan. Jadi setelah masa kampanye, Indonesia menjadi bersih dari sampah-sampah.

yang terakhir, ini pertanyaan yang sudah saya simpan sejak lama. apa rasanya menjadi seorang iwan fals?
Hahaha, sekarang saya tanya balik, apa rasanya jadi kamu?

enak, oom..
Nah, saya juga. « [teks & foto @HaabibOnta]

SHARE