Jenahara, Syiar Agama Melalui Fashion

0
819
Jenahara

Jenahara berdakwah melalui fashion

Jenahara

Kata hijabers beberapa waktu ini memang sering sekali terdengar. Hijabers adalah sekumpulan perempuan yang menggunakan hijab dan bergaya as fashionable as they can. Tidak jarang gaya berpenampilan atau berhijab para hijabers tersebut menjadi panutan perempuan berhijab lainnya.

Selain hijabers, saat ini di Indonesia banyak sekali bermunculan desainer-desainer yang menciptakan pakaian muslim yang fashionable dengan model yang tidak “kuno”.

Ya, bisa dibilang tren fashion muslim memang sedang berkembang saat ini di Indonesia. Tidak heran, karena memang mayoritas masyarakat Indonesia terdiri dari muslim.

Salah satu desainer yang turut mengembangkan tren fashion muslim adalah Jenahara. Ia menciptakan busana dengan gaya dinamis dan wearable. Selain itu, Jenahara juga memiliki lini fashion pakaian muslim dengan nama yang sama dengan dirinya.

Beberapa karya miliknya sudah dipasarkan baik secara lokal maupun internasional, seperti ke Rusia. Usahanya hingga terkenal di pasar internasional tidak diraih dengan cara instan. Ia mengaku sudah memikirkan hal ini sejak tahun 2005.

“Jadi gini, waktu aku bikin Jenahara ini konsepnya udah aku pikirin dari tahun 2005. Mungkin orang ngeliatnya gila tiga tahun cepat langsung booming. Padahal ini sebenernya udah ter-planning atau terencana,”¬†¬†ujar Jenahara, beberapa waktu lalu.

“Terencana itu maksudnya ketika saya bikin konsep Jenahara itu udah saya pikirin sedemikian rupa, kayak misalnya mau bikin baju yang kayak gimana, target marketnya siapa, apa sih yang bikin brand saya berbeda dari brand lain, terus kayak butiknya mau kayak gimana. Itu sebenarnya udah saya pikirin. Tapi kadang konsep yang matang kan butuh waktu yang tepat untuk menjalaninya.”

Terinspirasi Alexander Wang
Selain sudah dipikirkan segalanya dengan matang, perempuan yang akrab disapa Jehan tersebut juga mendapat dukungan dari keluarga dan suaminya, Ari Galih. Menurutnya, dukungan dari keluarga tersebut yang membuatnya termotivasi untuk semangat dalam bekerja keras dan terus belajar untuk lebih sukses lagi.

“Kalau motivasi sih, saya yakin semua orang kalau kerja keras dan punya keinginan yang besar, bagaimana pun keadaannya pasti bisa. Selama, buat saya, yang saya kerjain sekarang ini orang bilang sukses tapi buat saya sukses itu relatif. Buat saya ini proses belajar yang nggak semua orang mau. Kebanyakan orang maunya instan,” ujarnya.

Keinginan belajar Jenahara yang tinggi sudah tertanam sejak ia masih kecil. Sejak berumur empat tahun, ia sudah bertekad untuk menjadi seorang desainer seperti ibunya, Ida Royani.

Ia pun belajar dari sang ibu bagaimana proses mendesain dan menghasilkan sebuah baju. Ia terus mengasah bakat yang diturunkan dari ibunya tersebut. Baginya, jika memiliki bakat namun tidak diasah, akan sia-sia.

Walaupun banyak belajar dari sang ibu, bukan berarti desain baju muslim miliknya juga terpengaruh seperti sang ibu. Desain-desain baju muslim milik perempuan bernama lengkap Nanida Jenahara Nasution terinspirasi dari dua perancang favoritnya, yaitu Alexander Wang dan Alexander McQueen.

“Mereka kan gayanya kan modern, lebih edgy, potongannya lebih asymmetric. Nah, saya mau coba terapin itu di pakaian muslim. Pakaian muslim seringnya kesannya romantis, warnanya pastel, atau heboh. Mereka nggak coba buat sesuatu yang simpel tapi tetep elegan,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 28 tahun lalu tersebut.

Dengan mengambil inspirasi dari dua desainer favoritnya tersebut, Jenahara termasuk salah satu desainer yang berani keluar dari pakem baju muslim yang banyak dijual di pasaran. Menurutnya, saat ini orang suka salah paham dengan konsep baju muslim yang selalu terkesan heboh. Baginya, hal tersebut tergantung dari bagaimana seseorang mix and match pakaian muslim mereka.

Jenahara

Debatable jilbab modern
Walaupun perkembangan tren fashion muslim di Indonesia saat ini cukup besar dibandingkan beberapa tahun lalu, tren fashion muslim di Indonesia masih terkesan latah. Masyarakat Indonesia masih mengikuti tren yang dipakai orang kebanyakan.

“Beda kalau di luar negeri. Mereka punya tren masing-masing. Semua desainer itu menciptakan tren. Nah, saya berharap semoga ketika Jakarta menjadi kiblatnya muslim di dunia tapi tetap bisa jadi referensi orang untuk mencari tren. Indonesia itu kan macem-macem ya, nggak mungkin kan semua orang pake tren yang sama. Jadinya saya cuma mau kasih pilihan aja,” harapnya.

Walaupun mendesain dan menciptakan pakaian muslim, Jenahara tidak mau mengkhususkan desainnya hanya untuk yang berhijab. Ia ingin desainnya bisa fleksibel digunakan untuk yang berhijab ataupun yang tidak.

“Saya cuma mau kasih perspektif berbeda aja ke orang. Setiap orang ngeliat brand saya, orang selalu ngeliat saya. Harus pakai jilbab. Saya cuma mau melebarkan pasar saya. Dan bahkan mungkin, siapa tau orang yang tadinya nggak berhijab, kalau ngeliat baju saya, siapa tau dia jadi berhijab. Ngajak orang itu kan nggak harus ‘eh, lo harus pakai hijab.’ Itu kan terlalu ekstrim. Menurut saya, yang penting orang itu tertarik dulu ngeliat baju muslim.

“Jadi aku sebenarnya mau kasih pandangan yang berbeda aja ke orang-orang kalau berhijab itu nggak harus selamanya monoton, pakai atasan, bawahan, paketan sama kerudung, atau pake kebaya. Nah, perspektif itu yang mau saya ilangin,” jelasnya panjang lebar.

Menurutnya, saat ini zaman sudah sangat modern. Perempuan-perempuan berhijab saat ini sudah banyak yang aktif dan memiliki jenjang karier yang cukup mumpuni. Ia hanya ingin men-support hal-hal yang menyesuaikan kebutuhan perempuan-perempuan tersebut.

Walaupun sempat ada perdebatan mengenai jilbab modern, Jenahara tidak pernah memikirkan hal tersebut. Ia merasa selama masih menuruti pakem yang ada, seperti tetap tertutup dan tidak transparan, ia tetap akan berkarya dan mengembangkan tren fashion pakaian muslim di Indonesia.

“Kalau saya sih gini, buat saya, ini kan udah nyambungin agama sama fashion. Kalau ngomongin agama, menurut saya, mending nggak usah ada desainer muslim. Beneran, karena buat saya buat apa kalau udah disambungin sama agama. Udahlah mending sekarang kita kembali aja ke jalan yang benar. Ngaji aja yang benar.

“Di Indonesia itu Islam ada 73 macam which is punya pendapat dan keyakinan yang berbeda. Nggak bisa disamain. Yang penting dengan pakem yang ada aja, kayak misalnya tetap tertutup, nggak boleh transparan bajunya, sesimpel itu aja. Sekarang gimana cara orang memakainya aja. Saya hanya memberikan pilihan dan perspektif berbeda ke orang. Sesimpel itu aja,” ujarnya menutup obrolan sore itu. [teks @ratihwinanti | foto @gregbimz]

SHARE