Cerita Kopi Toni Wahid

0
484
Kopi
Kopi

Toni Wahid adalah seorang pemerhati kopi

Kopi

Sejarah kopi di Indonesia dimulai saat Gubernur Belanda di Batavia mendapatkan kiriman biji kopi dari Gubernur Belanda di Malabar, India, pada tahun 1696.

Sejak itu, di bawah penjajahan Belanda, VOC [Verenigde Oostindische Compaqnie] sebagai Perusahaan Hindia Timur Belanda berhasil memonopoli penjualan kopi di dunia, dari hasil kebun-kebun kopi di Indonesia.

Namun, kejayaan itu tak lama. Karena hama, produksi kopi menurun drastis. Hanya yang ditanam di atas area 1.000 meter di atas permukaan laut yang selamat. Di antaranya Bukit Barisan [Sumatera], Mandailing, Lintong, Sidikalang [Sumatera Utara], dan dataran tinggi Gayo [Aceh].

Toni Wahid, seorang pemerhati kopi, F&B, dan fotografer, yang juga bekerja di salah satu perusahaan multi nasional, punya pengalaman tentang kopi Gayo. Sekitar tahun 2000-an, ketika ia berkunjung ke San Francisco, Amerika, di salah satu tempat ngopi di sana, ia merasakan kopi terbaik selama hidupnya. Aroma, dan rasanya masih ia ingat, namun ia tersentak saat mengetahui kopi itu, kopi Gayo asal Indonesia.

Sejak itulah pengelanaan kopinya tak pernah henti. Beberapa tempat ngopi yang berkesan baginya adalah warung kopi Ko Abun di Samarinda, Kalimantan Timur, dan Kopi Aroma di Jl. Banceuy 51, Bandung.

Baginya, sah-sah saja perbedaan dalam cara menikmati kopi. “Ada yang suka menambahkannya dengan gula atau tidak silakan saja. Kopi mau dingin atau panas juga fine. Pendampingnya juga terserah, tapi kebanyakan orang kita lebih senang sama sesuatu yang manis,” ungkap Toni.

Perbedaan juga terjadi saat memesan kopi. Toni mengingat, seperti di Singapura dan Malaysia misalnya, jika ingin memesan kopi hitam, bilangnya harus kopi kosong. Kalau kopi saja itu artinya kopi dengan susu.

Mengerutkan kening sebentar, Toni bercerita lagi, mengenai pengalamannya di luar yakni di Vietnam. Menurutnya kopi Vietnam sangat kental dan warganya sangat bangga dengan kopi mereka. Sampai-sampai, pengungsi Vietnam di Amerika harus mengimpor langsung kopinya dari negara asal mereka. Ada satu kedai kopi namanya Cafe Lam, itu adalah salah satu warung kopi tertua di Vietnam. “Mungkin umurnya jauh sebelum perang sudah ada,” jelas Toni. [Perang Vietnam terjadi pada 1 November 1955 – 30 April 1975].

Selama mengarungi dunianya ini, tempat yang paling berkesan saat ngopi  adalah di pegunungan Ijen-Raung, Bondowoso, bersama dengan para petani kopi arabika.

Sebagai pengakhir cerita kopinya, Toni Wahid memberikan tip mengenai kopi.

Cerita Kopi Toni Wahid
Toni Wahid

Cara membuat:
Beli biji kopi yang telah digoreng. Gunakan alat penggiling biji kopi untuk menghaluskannya. Seduh air hingga mendidih, lalu diamkan selama satu menit atau dalam kisaran suhu 93-96 derajat celcius.

Seduh kopi menggunakan chemex dengan kertas filter. Supaya menghilangkan bau kertasnya, tuangkan sedikit air panas tadi ke sekeliling kertas diamkan sebentar kemudian buang airnya. Baru masukan biji kopi ke chemex dan seduh dengan air tadi.

Bila beli biji kopi pilihlah yang sudah digoreng. Dan belinya tak perlu banyak. Cukup 200 gram per minggu. Karena sifat biji kopi hidroskopis, yakni menyerap aroma di sekitarnya, sehingga dapat membuat rasa asli kopi menurun.« [teks @bartno | foto courtesy of freeimages.com]

SHARE