Pembantaian di Himalaya Difilmkan

0
284
Ilustrasi film Massacre in the himalayas
Ilustrasi film Massacre in the himalayas

Taliban bertanggung jawab atas pembantaian itu

Ilustrasi pendaki nanga parbat
Ilustrasi

Awalnya, para pendaki berharap itu perampokan biasa. Pada tengah malam, 22 Juni 2013, 16 laki-laki berseragam paramiliter mendekati bace camp di Diamir, jalur yang paling populer mendaki Gunung Nanga Parbat, Pakistan – elevasinya 8,126 meter.

Dengan senjata model Kalashnikovs Rusia lengkap dengan pisau diujungnya, kelompok pria bersenjata itu menarik paksa keluar 12 pendaki dari tenda, memaksa mereka berlutut di tanah, dan kemudian mengikat pergelangan tangan mereka.

“Taliban! Al Qaeda! Menyerah!” salah seorang pria bersenjata berteriak dalam bahasa Inggris. Ia menemukan seorang pendaki Pakistan yang berbicara bahasa setempat, Urdu, dan kemudian memerintahkan pendaki lokal itu untuk menanyakan apakah temannya punya uang di tenda mereka.

“Jika kami menemukan uang di tenda,” kata pria bersenjata, “kami akan menembakmu.” Mengancam.

Sebelum hari itu, di awal musim pendakian gunung di Provinsi Gilgit-Baltistan, Pakistan itu — sebuah wilayah pegunungan yang langka terhadap penyerangan warga asing –- sekitar 50 pendaki gunung dari beberapa kelompok berbeda hendak menaklukkan puncak Nanga Parbat. Ia satu dari sembilan gunung tertinggi dunia.

Sebagian besar dari 50 pendaki itu, dengan caranya masing-masing, berjalan terus menuju puncak Nanga Parbat, meninggalkan selusin pendaki di ketinggian 13 ribu kaki di base camp. Mereka yang tertinggal adalah seorang pendaki campuran China-Amerika, tiga pendaki Ukraina, tiga pendaki China, dua pendaki Slovakia, seorang warga Nepal, Lithuania, dan satu lagi warga Pakistan. Mereka semua berlutut di tanah, di luar tenda mereka dengan todongan senjata.

Zhang selamat
Satu dari selusin pendaki itu adalah Zhang Jingchuan dari China. Saat tersandra, ia terus memikirkan istri dan putranya berusia 11 tahun. Zhang berusia 42 tahun, seorang tentara veteran Angkatan Darat. Dibenaknya ia terus mencari cara bagaimana lolos dan melarikan diri dari tempat itu.

Ketika para pendaki dituntun ke sebuah padang rumput, ia melihat para pria bersenjata itu memisahkan pendaki Pakistan dari kelompok. “Tiba-tiba terdengar suara tembakan,” ujar Zhang.

Selagi pendaki di sekelilingnya ditembak, Zhang menjatuhkan diri ke tanah dan berusaha melepaskan ikatan tali dari pergelangan tangannya. Sebuah peluru sempat menyerempet kepalanya, membuat darah menetes ke wajahnya. Ia menyerang si penembak dan melarikan diri telanjang kaki. Suara tembakan terus mengikutinya dari belakang…

Cerita itu belum tuntas, ditulis Freddie Wilkinson dan telah dimuat di Men’s Journal. Perlu diketahui, beberapa hari setelah pembantian terhadap 10 pendaki asing di Himalaya, sejumlah media internasional ramai memuatnya. Juru bicara Taliban Pakistan mengaku bertanggungjawab atas pembunuhan itu.

“Orang-orang bersenjata itu adalah afiliasi Taliban bernama Jundul Hafsa. Serangan itu merupakan respon terhadap serangan pesawat tak berawak Amerika yang menewaskan wakil pemimpin Taliban, Wali ur Rehman, pada 29 Mei,” ujar juru bicara.

Gavin O'Connor
Gavin O’Connor

Ayahku pahlawan
Gianni Nunnari, produser film asal Italia, yang juga CEO Hollywood Gang Production, menilai ini kisah bagus untuk difilmkan. Sosok yang memproduseri film 300: Rise of an Empire ini pun bersedia membuat film dari cerita Freddie Wilkinson. Izin sudah dikantongi.

Gavin O’Connor ditunjuk sebagai sutradara. Ia senang dipercaya untuk menggarap film itu. Pembesut film Miracle [2004] ini mengaku suka dengan cerita dan penggunaan latar belakang kolosal K2, puncak tertinggi kedua di dunia “untuk mengeksplorasi pertempuran manusia, untuk bertahan hidup melawan Taliban, alam, dan dirinya sendiri.”

Filmnya diberi judul sesuai feature Freddie, Massacre in the Himalayas. Nunnari masih mencari penulis skenario. Ia bersemangat memproduseri film ini karena ini tentang laki-laki ekstrem dalam keadaan ektrem pula. “Dan Gavin adalah sutradara yang sempurna,” kata Nunnari, memuji.

Perlu diketahui juga, menurut cerita Freddie, empat hari setelah penyerangan itu, Zhang pulang ke Urumqi China. Ia melangkah turun dari pesawat dan langsung memeluk istrinya. Sang istri menangis di bahu Zhang.

Ketika Zhang bertemu putranya, seorang reporter bertanya kepada sang anak bagaimana perasaannya kembali bertemu ayah, dan ia berkata: “Ayahku adalah seorang pahlawan.” [teks @Tomi_Nala | Ilustrasi dan foto berbagai sumber]

SHARE