Kopi Indonesia dan Aroma Surga

0
242

Ini cerita tentang kopi asli Indonesia

Aroma of HeavenPada abad ke-18, ketika VOC menjajah wilayah Hindia-Belanda, kopi mulai diperkenalkan di Bumi Pertiwi. Para penjajah itu memaksa para petani untuk mulai menanam kopi di daerah dataran tinggi. Karena faktor tanah yang kaya hara dan cuaca yang apik, kopi bisa tumbuh subur kala itu. Alhasil, hampir 40% kopi yang beredar di tanah Eropa berasal dari Indonesia.

Di masa itu ketika seseorang menginginkan secangkir kopi, mereka tidak menyebutkan ‘coffee’. Melainkan ‘java’, secangkir kopi berarti ‘a cup of java’. Jauh sebelum Argentina, Brazil, Kolombia, dan negara latin lain mengekspor kopi, Indonesia sudah mengukuhkan hegemoninya. Melalui film dokumenter Biji Kopi indonesia – Aroma of Heaven, Papang Lakey & Nicholas Yudifa [produser] bersama Budi Kurniawan [sutradara] mengenalkan sebuah mahakarya bernama kopi.

Dari sebuah biji berwarna hitam –setelah melewati proses sangrai– cerita tentang keragaman budaya juga hayati Indonesia bisa diangkat. Karena dari Sabang hingga Merauke, setiap tempat punya kopi andalan dan cara khas untuk menikmatinya. Misalnya Kopi Gayo, masyarakat di sana menikmati kopi sambil mencemil biji kopi dan gula merah. Atau di Bumi Parahyangan, yang menikmati kopi dengan camilan gorengan.

Faktanya, para coffee master di Eropa tidak mungkin membuat secangkir espresso yang nikmat tanpa kopi dari Sumatera. Mengapa? Karena kopi dari Sumatera mampu menghasilkan secangkir kopi pekat. Rasa, aroma, tekstur, juga cream yang sempurna.

Sayangnya, biji-biji berkualitas itu semuanya diekspor. Sementara yang diperdagangkan di ranah lokal, hanya biji kualitas dua atau tiga. Setelah melewati rantai kapitalis yang rumit dan panjang, kopi itu dikembalikan ke Indonesia lewat toko-toko kopi kelas internasional. Dan, tentu dijual dengan harga yang jauh lebih mahal. Itulah yang dikeluhkan oleh Mahdi Usati, pemuda asal Gayo.

Tuti Mochtar, spesialis kopi, mengatakan jika kopi Indonesia memiliki keunikannya sendiri. Hal itu juga dipengaruhi cara pemetikan buah kopi. Jika di luar negeri telah menggunakan mesin untuk menyortir kopi. Di Indonesia itu masih dilakukan secara manual, memetik menggunakan tangan. Ada beberapa buah yang belum matang pun dipetik. Tapi justru itu yang menambah cita rasa dari kopi lokal. Rasa asam dan pahit melebur menjadi satu.

Tak disangka bukan, dari sebuah biji mungil –yang terlihat tidak berharga– menyimpan sebuah cerita yang panjang, pelik, juga getir. Atau bahkan, telah menjadi sepenggal manuskrip yang menyimpan fakta dari zaman penjajahan hingga sekarang. Menikmatinya memang sederhana, tapi kenali juga kisah di balik pembuatannya. Seru! « [teks @HaabibOnta | foto dokumentasi film dan kover freeimages.com]

SHARE