Who’s the Boss?

0
103

Siapa mengataskan siapa?

Tak lama lagi, negeri ini akan memasuki babak baru. Fase ketika suksesi kepemimpinan berganti, dan momen saat tongkat estafet leadership negeri ini berpindah tangan. Di sekitar kita, ramai obrolan mengenai pergantian kepemimpinan itu. Di dunia nyata, juga di jagad maya.

Meski gaungnya sudah agak menyurut akibat perhatian masyarakat tersedot gelaran Piala Dunia dan persiapan puasa, tetapi agenda pilpres ini tak akan berhenti hingga saatnya nanti, pada 9 Juli 2014, semua warga negara yang sudah memenuhi syarat, wajib memberikan suaranya, memilih satu di antara dua kandidat yang ada, untuk menduduki kursi kepresidenan Republik Indonesia selama lima tahun ke depan.

chair 2Hingga saat ini, saya belum memutuskan, siapa yang akan saya pilih. Dan menurut saya, belum saatnya juga saya menentukan pilihan itu. Ini agak berbeda dengan beberapa teman dan kerabat saya yang sudah sejak lama, dengan bangga hati, mengelus-elus jagonya di kancah pemilihan presiden itu. Andai mereka hanya menggadang-gadang kandidat yang dipilihnya saja, mungkin itu tidak terlalu mengganggu. Tetapi ketika antar-pendukung ini saling berbantah-bantahan, baik secara langsung maupun di jejaring sosial, itu bikin muak.

Saya pikir, bukan hanya saya saja yang merasakan seperti itu. Sayangnya, atas nama demokrasi, perihal ‘saling bantah dan saling serang’ itu dilindungi oleh undang-undang. Dan bagi yang jengah dengan segala debat kusir tak berujung itu, hanya ada permohonan untuk bisa bersabar dan menikmati keriuhan pesta demokrasi di negeri ini.

Saya bukan anti-politik. Bukan pula a-politis. Tapi ketika segala cara digunakan untuk mendapatkan dukungan –baik melalui kampanye positif maupun negatif, baik white campaign maupun black campaign— sepertinya dunia ini tak lagi bisa kita nikmati dengan nyaman ya. Dan ini benar-benar bikin jengkel.

Kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. Setiap individu punya kelemahan, dan memiliki rekam jejak yang tak melulu baik. Saya membatin, bagaimana perasaan orang-orang yang dulu mendukung mati-matian pemimpin yang sekarang tengah berkuasa. Apa yang mereka rasakan, saat rezim yang ia bangun –dengan tak mengesampingkan segala prestasinya– juga sarat dengan praktek politik kotor dan nuansa yang kental korupsi-kolusi-nepotisme? Mana kita tahu bahwa kandidat yang kini sedang gila-gilaan kita bela akan menjalankan amanah dengan baik? Mana kita tahu bahwa kandidat yang saat ini kita cibir-cibir, kita hujat, dan kita jegal jalannya menuju kuris RI 1 adalah justru pembawa amanah yang lebih baik dari jagoan kita? Apa jaminan atas semua itu?

Saya rasa, sikap yang paling tepat, adalah dengan mendukung siapapun yang terpilih nanti. Men-support dengan kesungguhan hati, pikiran, ucapan, dan perbuatan, agar negeri tercinta ini dapat melalui masa-masa sulitnya, dan menjemput era gemilang di masa depan. Indonesia sangat butuh uluran tangan rakyatnya, untuk bahu membahu membangun negeri ini agar senantiasa aman, nyaman, bersih, subur, makmur, gemah ripah loh jinawi, baldatun thayyibatun, wa Rabbun ghafur. «

Salaam,
@hagihagoromo

~tentang judul~
Who’s the Boss adalah serial sitkom yang dulu pernah ditanyangkan di RCTI pada awal ’90-an. Serial yang berkisah tentang hubungan antara majikan dan stafnya ini dibintangi Tony Danza, Judith Light, dan Alyssa Milano.

SHARE