Masjid Agung Demak Dulu dan Kini

0
390
Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak

Inilah sejarah tentang pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa

Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak, Indonesia memiliki tempat-tempat historis agama Islam yang tersebar hampir di seluruh wilayahnya.

Masjid Agung Demak menjadi bagian dari itu. Sejarah berdirinya masjid ini dimulai di tahun 1466, saat tempat ini merupakan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Kemudian ditingkatkan fungsinya sebagai Masjid Kadipaten Glagahwangi Demak pada tahun 1477.

Baru pada tahun 1479, di bawah pemerintahan Raja Demak Pertama, Raden Patah, dan dibantu Wali Songo, berdirilah Masjid Agung Demak yang berlokasi di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Beberapa bagian di Masjid Agung Demak ini mempunyai makna islami. Seperti pada bagian atapnya yang berbentuk limas dan terdiri dari tiga bagian. Makna ketiga bagian itu menggambarkan Iman, Islam, dan Ihsan. Kemudian, lima pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, menggambarkan Rukun Islam; syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Lalu enam buah jendela yang terdapat di masjid ini memiliki arti Rukun Iman; iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada rasul-rasul Allah, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada qada dan qadar.

Secara keseluruhan luas bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 meter persegi. Ditambah serambi masjid yang berukuran 31 x 15 meter persegi.

Pada bagian utama masjid, terdapat 4 buah tiang kayu besar yang disebut juga Soko Guru dan dibuat khusus oleh empat Wali dari Wali Songo. Tiang di bagian Barat Laut dibuat oleh Sunan Bonang, tiang di bagian Timur Laut dibuat oleh Sunan Kalijaga, sementara Sunan Ampel membuat Soko Guru di bagian Tenggara, dan Sunan Gunungjati mengerjakan Soko Guru di Barat Daya.

Bila ditotal, keseluruhan bangunan ditopang 128 soko. Yang terdiri dari 50 tiang penyangga masjid, 28 tiang penyangga serambi, 34 tiang penyangga tatak rambat, dan 16 tiang keliling.

Setelah jadi, Masjid Agung Demak digunakan Wali Songo sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan perencanaan metode penyebaran agama Islam di Nusantara, terutama di tanah Jawa. Saat ini, selain digunakan sebagai tempat ibadah dan tujuan wisata, masjid ini juga digunakan sebagai tempat ziarah. Karena dalam linkungan masjid ada Museum Masjid Agung Demak yang berisi benda-benda bersejarah dari masjid ini, serta terdapat makam raja-raja Kesulatanan Demak dan para abdinya.

Jika Anda tertarik berkunjung ke masjid ini menjelang bulan suci, sehari sebelum Ramadhan akan ada Megengan yaitu sebuah Pasar Tiban di Alun-alun Kota Demak, yang jaraknya tak terlalu jauh dari masjid ini. Di sana Anda bisa menemui beragam jajanan terutama makanan-makanan khas di bulan Ramadan, seperti sate keong, lontong lodeh, nasi doreng, atau setup pisang.

Dan bila Ramadan tiba, Masjid Agung Demak menjadi pilihan banyak umat Muslim di sekitar wilayah ini untuk melakukan i’tikaf. « [teks @bartno | foto courtesy of  touringrider.wordpress.com]

SHARE