Legacies of Power dari ART|JOG

0
252
artjog
artjog

ART|JOG mencoba menggali persoalan demokrasi di Indonesia

artjogMeski tak semua orang suka, namun sebagian dari kita pastinya menyukai hal di bidang seni. Beberapa bahkan ikut terlibat aktif dalam kegiatan seni, apapun bentuknya. Baru-baru ini, berlangsung sebuah bursa seni, yang telah memanjakan para pecinta seni. Bursa seni tersebut dikenal dengan nama ART|JOG.

ART|JOG adalah sebuah bursa seni rupa kontemporer internasional berbasis di Yogyakarta, yang pada awalnya merupakan bagian dari Jogja Art Fair di tahun 2008. Namun di tahun 2010 ART|JOG mengubah namanya hingga sekarang dan dikenal sebagai wadah yang unik untuk para seniman, baik yang lokal dan internasional.

Tahun ini, ART|JOG kembali hadir, bukan hanya mendorong tetapi juga mengapresiasi karya seni rupa berkualitas dari berbagai macam medium. Di tahun 2014 ini, ART|JOG hadir sejak 7 hingga 29 Juni lalu bertempat di Taman Budaya Yogyakarta, dengan mengangkat tema Legacies of Power.

Tema tersebut dipilih karena Indonesia sebentar lagi akan menghadapi pemilihan umum presiden. Dengan kata lain, Indonesia akan menghadapi sebuah puncak atau titik perpindahan kekuasaan tertinggi dalam sebuah negara.

Lewat tema tersebut pula, ART|JOG mencoba menggali persoalan demokrasi dengan melihat kembali sejarah peralihan kekuasaan di Indonesia, baik melalui konfrontasi yang bersifat fisik, adu diplomasi maupun proses yang lebih demokratis seperti pemilihan umum, sebagai fenomena yang perlu kita gali lebih lanjut karena banyak hal bisa ditemukan di sana.

Ternyata, tema tersebut disambut baik oleh seniman-seniman, baik yang berasal dari Indonesia atau internasional. Acara ini pun dimeriahkan oleh 103 seniman lokal dan internasional dalam tiga program utama: Commission Work, Special Presentation, dan Art Fair. Campuran antara seniman muda, senior dan internasional menjadikan ART|JOG acara yang unik di ranah budaya kesenian Asia.

Tidak hanya yang senior, seniman muda dan pemula pun berkesempatan untuk memamerkan hasil karya mereka. Sebagai bentuk apresiasi, ART|JOG memberikan penghargaan dengan mengumumkan tiga pemenang Young Artist Award. Penghargaan ini diberikan untuk seniman muda yang berpartisipasi dengan usia maksimal 33 tahun. Beberapa seniman senior juga tak absen dari perhelatan ini.

4 4mEdhieSunarso'sSculpture_Seniman senior Indonesia seperti Djoko Pekik, hadir dengan karyanya yang berjudul “Go to Hell Crocodile”. Pemahat kenamaan Edhie Sunarso, yang ikut berkontribusi, kali ini membawa patung setinggi 4.4 meter yang diberi nama “Keberangkatan Pengasingan Presiden Soekarno oleh Belanda ke Pulau Bangka”. Patung ini memberi pandangan unik terhadap seorang figur pendiri kemerdekaan Indonesia.

Pemilihan pemenang Young Artist Award pun dipilih oleh juri-juri kompeten di bidangnya seperti Aminudin TH Siregar [Kurator], Farah Wardani [Direktur Indonesian Visual Art Archive] dan Hendro Wiyanto [Kurator]. Dan tiga seniman muda yang terpilih yaitu Agung Prabowo, Eldwin Pradipta, dan Olga Rindang Amest. Masing-masing akan diberikan dana pembinaan dan kesempatan residensi di Starke Foundation, Jerman.

Kabar menggembirakannya dari acara kali ini mencatat jumlah pengunjung yang tertinggi sepanjang penyelenggaraannnya. Rata-rata 4.000 pengunjung pada hari kerja datang dalam acara ini dan mencapai 5.000 pengunjung di akhir pekan. Karena itu, perhelatan kesenian ini pun mengadakan perpanjangan waktu, seiring dengan permintaan yang tinggi dari pengunjung.

Kesuksesan acara ini pun dilengkapi dengan adanya dukungan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu. Beliau juga sekaligus mempergunakan ajang ini untuk menyelenggarakan diskusi publik mengenai pentingnya ekonomi kreatif untuk menopang perekonomian negara.

Ketinggalan menikmati atau berpartisipasi dalam acara ini? Mungkin tahun depan bisa mencobanya dan tertantang dengan tema-tema baru yang selalu ditawarkan oleh ART|JOG kepada seniman-seniman yang giat berseru lewat- karya-karyanya. [teks @nandiyanti | dok Edelman]

Also read: No Tears For The Dead: Ketika Kesalahan Pertama Membayangi

SHARE