Monolog Politik Berdendang Kritik

0
376
Putu Fajar Arcana
Putu Fajar Arcana

Diluncurkan Monolog Politik karya Putu Fajar Arcana

Putu Fajar Arcana
Putu Fajar Arcana

Sebuah buku cantik mengenai kritik, berjudul Monolog Politik, karya Putu Fajar Arcana baru saja diluncurkan di Jakarta ini, bersamaan dengan aksi monolog Sha Ine Febriyanti.

Monolog Politik berisi 5 naskah monolog yang ditulis dalam rentang waktu lima tahun, merupakan cermatan sang penulis melihat kondisi politik dan hukum di sini, di negara penuh santun.

“Mengapa sastra harus bicara? Karena kita pikir kekotoran ini pelan-pelan harus kita hapuskan dengan cara-cara yang lebih bermartabat, dengan menghargai moralitas sebagai pegangan yang sangat prinsip. Menegakkan kembali moralitas lewat kesusastraan,” tutur Can, sapaan akrab Putu Fajar Arcana.

Buku 150 halaman ini adalah buku ketujuh dari Can yang juga berprofesi sebagai editor kebudayaan Kompas minggu.

Lima naskah monolog yang dituliskan dalam buku ini adalah, Pidato, Wakil Rakyat yang Terhormat, Bukan Bunga Bukan Lelaki, Orgil, dan Cermin Dibelah.

Sha Ine Febriyanti mengambil monolog kedua, Wakil Rakyat yang Terhormat untuk dipentaskan. Dan Didon Kajeng memilih monolog keempat, Orgil untuk ditampilkan. Kedua seniman itu menampilkannya pada Sabtu-Minggu, di Bentara Budaya Jakarta akhir pekan lalu.

Bali dan Bandung direncanakan menjadi tempat baru pementasan monolog-monolog yang ada di buku ini, yang tidak hanya menampilkan kritik, tapi juga unsur budaya Bali, Topeng Pajegan [seorang aktor menampilkan karakter-karakter yang berbeda lewat topeng-topeng yang tak sama].

They say:

Happy Salma, aktris dan sutradara
“Cermin Dibelah salah satu favorit saya dari sekian monolog karya Bli Can. Naskah ini membuat saya terbayang-bayang ingin berada di panggung. Membayangkannya saja sudah senang.

“Saya seolah bisa jumpalitan dan bisa menjadi apa saja. Bli Can yang santun tetapi dalam berututur dia sering mengagetkan saya. Di balik santunnya dia begitu menohok dan membuat saya secara pribadi terobsesi. Bahwa suatu saat nanti, saya harus memainkannya di atas panggung.

“Saya ingin menjadi apa yang dikisahkan konteks. Itulah yang membuat kisah-kisah dalam buku ini seperti hidup dan bernyawa di hadapan kita.”

Putu Wijaya, sutradara teater dan sastrawan
“Monolog ini bila dimainkan di saat ditabukannya usaha menyentuh pejabat, akan bisa membuat penonton histeris. Tetapi kini keadaan sudah berbeda. Toh keberanian itu tetap memiliki daya pikat, bila aktor dan sutradaranya lihai memberi sudut pandang baru. Karena kalimat-kalimat Can, menyimpan pesan dan daya pukau.

“Lakon politik bukan hanya dulu, kini pun tetap akan jadi suguhan menarik. Karena tetap saja, bahkan kian ‘menyebalkan’, masih saja ada orang yang sudah ketahuan belangnya, berani mencoba meyakinkan kita, bahwa dia bersih.

“‘Saudara-saudara siapa pun itu, tolong selamatkan saya. Tidakkah hati Saudara-saudara terketuk mendengar permohonan saya. Saya benar-benar ingin bertobat, kembali ke jalan semula.’ Can penyair yang wartawan, sudah menjepret dengan kepenyairannya, sebuah kebohongan politik.”«[teks & foto @bartno]

Sophia Muller

SHARE