Cerita Ramadhan Sandhy Sondoro

0
206
sandi sandoro
sandi sandoro

Sandhy Sondoro merindukan masa puasa di Jerman

sandi sandoroMenjadi mahasiswa, hidup sendiri, dan harus memenuhi semua kebutuhan pribadi secara mandiri kerap dilakukan para perantau. Bahkan tak jarang para intelektual ini mencari tempat makan untuk mengurangi biaya hidup.

Kehidupan sebagai mahasiswa beragama muslim asal Indonesia tampaknya juga menjadi cerita ramadhan yang seru dan tak terlupakan bagi penyanyi Sandhy Sondoro.

Hal ini terjadi karena ia menjadi satu-satunya orang Indonesia di kampus Fachhochschule für Bauwesen biberach an der Riß, Jerman.

“Pengalaman ramadhan saya yang nggak bisa dilupakan pas kuliah di Jerman,” katanya, “Di sana saya hidup sendiri, saya orang Indonesia satu-satunya kala itu dan beragama muslim jadi menjalankan puasa benar-benar terasa berbeda dengan di Indonesia.”

Sandhy -sapaan akrabnya- mengaku beruntung bisa menjalankan ibadah puasa di negara orang karena banyak bertemu dengan saudara-saudara muslim dari berbagai negara di belahan dunia, terutama negara di Timur Tengah.

“Saya bergaul dengan teman-teman dari berbagai negara, namun saat puasa paling sering bersama mahasiswa asal Turki,” ujar personel Trio Lestari ini.

“Saya pernah diajak ke rumah salah seorang teman asal Turki, di sana makan bersama dengan anggota keluarganya yang lain, rasanya terharu banget dan senang karena tali persaudaraan sesama umat muslim nggak kenal perbedaan ras dan suku bangsa,” ceritanya sembari mengingat kembali kenangan di sana.

Kehidupannya selama 15 tahun di Jerman menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga untuknya. Selain menjadi kaum minoritas, perbedaan waktu juga menjadi tantangan tersendiri baginya untuk tetap beribadah.

“Kalau musim panas, siangnya panjang banget otomatis puasanya jadi lebih panjang. Jujur saya suka nggak kuat puasa. Kalau lagi musim dingin enak, terangnya lebih sedikit, jadi waktu berpuasa pun lebih singkat,” ujarnya sembari tersenyum.

Di sana dia dan teman-temannya juga merasakan harus bersama-sama menumpang berbuka puasa di salah satu mesjid yang menyediakan hidangan berbuka untuk menghemat biaya hidup.

“Saya paling seneng janjian sama teman-teman untuk buka puasa bersama di salah satu mesjid orang-orang Turki. Di sana mereka nyiapin makanan buka gratis walaupun makannya kaya di penjara karena dijatah dan nggak bisa nambah. Tapi tetap enjoy karena mau gimana lagi saya kan seorang diri di sana jadi harus bisa tetap hidup,” lanjut suami Ade Fitria Sechan ini.

Pria yang memulai kariernya sebagai musisi jalanan di Kota Berlin, Jerman, mengamen di Metro, serta bermain musik dari pub ke pub ini mengaku pengalaman puasa ini yang sampai sekarang selalu ia rindukan.

“Sekarang kan alhamdulillah udah ada istri serta anak-anak, jadi pas mau buka puasa sudah ada yang masak, tapi sejujurnya pengalaman di Jerman selalu buat saya rindu dan mungkin hal ini juga yang membuat saya jadi orang yang tidak memilih-milih makanan, yang disediain sama istri ya saya makan,” tutur pria yang mengkahiri masa lajang pada 31 Agustus 2012.

Di akhir obrolan, penyanyi yang selalu tampil dengan alat musik ini mengaku dua tahun ini cukup menjaga pola makan termasuk saat berbuka. Sandhy Sondoro pun lebih senang jika bisa berbuka dan menunaikan ibadah sholat di rumah,

“Buat saya sekarang ini, buka puasa cukup dengan air putih dan kurma atau roti, nggak terlalu banyak makan berat. Puasa buat saya ngurangin aktifitas, jadi bisa lebih sering buka puasa dan sholat magrib di rumah.” « [teks @boyMALI | foto @bagusdimsum]

SHARE