Ine, ‘Wakil Rakyat yang Terhormat’

0
219
Ine Febriyanti

Ini pertama kali Ine membawakan sebuah monolog politik

SONY DSC

Sha Ine Febriyanti tampil berbeda saat membawakan monolog berjudul Wakil Rakyat yang Terhormat. Monolog tersebut adalah salah satu dari dua monolog yang dipentaskan dalam acara Pentas 2 Monolog, yang diadakan pada 19 dan 20 Juli 2014 di Bentara Budaya Jakarta.

Selain Ine, Didon Kajeng juga membawakan monolog lainnya yang bertajuk Orgil.

Dua monolog tersebut diambil dari buku berjudul Monolog Politik karya Putu Fajar Arcana atau yang akrab disapa Bli Can. Dan malam itu, penampilan Ine, berhasil menyihir penonton yang memenuhi salah satu ruangan di Gedung Bentara Budaya, Jakarta.

Muncul dari balik layar putih, Ine yang mengenakan celana panjang dan kaus panjang, menari dengan gemulainya, sebagai adegan pembuka. Tampak satu yang aneh dari penampilannya, yaitu topeng buruk rupa yang melekat pada wajahnya. Ternyata topeng itu adalah cerita inti dari monolog Wakil Rakyat yang Terhormat.

Monolog ini menceritakan tentang seorang wakil rakyat yang telah menyalah gunakan kekuasannya. Di balik perilakunya, ia mengaku hanya mengikuti topeng yang mengambil alih pikirannya dan menentang hati nuraninya. Sebuah cerita paradoks, tentang pengakuan wakil rakyat yang tersiksa karena korupsi yang ia lakukan selama ini.

Sepanjang monolog berlangsung, Ine dengan pandainya menyuarakan pledoi dari seorang wakil rakyat yang tertuduh. Selama ini dirinya dipandang sebagai orang yang memakan uang rakyat. Melakukan korupsi dan segala perbuatan yang merugikan rakyat.

Tapi kenyataannya, ia juga merasa dirugikan dengan segala perjuangan yang telah dilewatinya. Sang Wakil Rakyat merasa dirinya yang diperas oleh rakyat.

Dalam monolognya, ia mengatakan rugi besar selama menjalani proses menjadi wakil rakyat. Sawah, rumah, bahkan hasil saudara yang menjual anak gadisnya habis demi posisi sebagai wakil rakyat. Ia merasa sedih. Setiap kali beraksi, sang Wakil Rakyat selalu memiliki topeng yang berbeda. Mewakili pembawaan dirinya, tergantung pada situasi yang dihadapinya.

Jika ia harus menghadapi pendemo yang meminta haknya, maka ia akan mengenakan topeng putih. Berpura-pura baik. Ketika ia menceritakan kegeramannya atas tuduhan-tuduhan, ia mengenakan topeng berwarna merah, menyerukan isi hatinya yang selalu salah di mata orang. Dan ketika ia menceritakan pengalaman di masa lalu ia mengenakan topeng berwarna hitam.

Suasana tentang korupsi dan Wakil Rakyat terasa kenal dengan didendangkannya lagu ”Wakil Rakyat” milik Iwan Fals, saat monolog berlangsung, yang dinyanyikan oleh beberapa pendukung acara.

Cerita terus bergulir tentang sudut pandang yang menyatakan bahwa bagaimanapun, Wakil Rakyat yang melakukan kesalahan masih memiliki hati nurani, mengetahui kalau itu semua salah.

Namun kembali lagi, ada sebuah topeng, sebuah lakon yang harus ia mainkan dengan cantik, meski pada kenyataannya topeng tersebut berwujud buruk rupa. Di akhir cerita, petualangan sang Wakil Rakyat yang Terhormat harus berhenti.

Sesusah apapun ia berusaha mencopot topengnya itu, akhirnya harus dicopot oleh sebuah kenyataan. Karena cepat atau lambat, semua kedok di balik topengnya akan terungkap. Sang Wakil Rakyat yang Terhormat ditangkap dan diadili. Dan saat itu pula, wujud asli Wakil Rakyat yang Terhormat pun terkuak.

Kenyataannya, topeng buruk yang selama ini dilihat oleh masyarakat, tidak lebih buruk dari wajah asli sang Wakil Rakyat. Ine mengatakan hanya menghabiskan waktu satu minggu sebelum tampil. Menurutnya monolog ini berbeda dari monolog atau teater yang sebelumnya ia jalani.

Ini pertama kalinya Ine membawakan sebuah monolog yang bertemakan paradoks seorang wakil rakyat. ”Ini seperti teater rakyat. Biasanya kan lebih ke naratif, ke sastra, ini lebih ke ya seperti ini,” ujar Ine.

Monolog ini juga terasa berbeda karena Ine memilih sendiri monolog yang akan dibawakannya dari delapan monolog yang ada di buku Monolog Politik. Menurutnya cerita ini menarik, karena terdapat berbagai elemen yang bisa dibuat lebih menarik, termasuk adanya aksen topeng di dalam ceritanya.

Ine pun suskes dengen monolognya. Selain kesuksesan Ine, Didon Kajeng juga berhasil membawakan salah satu monolog milik Bli Arcan, di pertunjukan berikutnya. « [teks @nandiyanti | foto @bartno]

SHARE