Karier Siaran Iwet Ramadhan

0
354
iwet ramadhan
iwet ramadhan

Iwet bercerita tentang kariernya di dunia broadcasting

iwet ramadhan G-Readers yang tinggal di Jakarta, atau rajin menyimak siaran Breakfast Club di 90.4 Cosmopolitan FM melalui aplikasi radio streaming, tentu tak asing lagi dengan suaranya yang khas. Tak aneh jika vokalnya yang ramah di telinga begitu ‘kena’ ke hati Cosmoners –sapaan akrab pendengar 90.4 Cosmopolitan FM.

Pasalnya, Iwet Ramadhan memang sudah malang melintang bergiat sebagai penyiar radio sejak lama.

Pria bernama lengkap Wethandrie Ramadhan, kelahiran Yogyakarta, 24 Juli 1981 ini mengawali kariernya sebagai broadcaster saat masih kuliah di Bandung.

Memulainya dari sebuah radio di Bandung, lulusan jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan ini kemudian melanjutkan karier bercuap-cuap di corong siaran pada 87.7 Hard Rock FM Bandung.

Boleh jadi, karena Dewi Fortuna merupakan pendengar setianya, keberuntungan senantiasa menyertai kerja keras Iwet. Kariernya di bidang broadcasting menuntunnya hijrah ke Jakarta, dan bekerja pada 87.6 Hard Rock FM Jakarta.

Bukan hanya siaran, ia juga sempat menjajal profesi dengan memperkuat tim marketing pada Mugi Rekso Abadi Broadcasting Media Division [MRA-BMD]. Kemampuannya membawakan acara kemudian membuat Iwet didapuk menjadi pemandu sebuah tayangan infotainment di Indosiar.

Sempat terjun ke dunia akting pada film Arisan! 2 pada tahun 2011, kini Iwet juga menggeluti dunia fashion dengan membuka lini busana miliknya sendiri bernama TikPrive.

Bagaimana pria ini menjalani kesehariannya? Berikut ini obrolan santai Editor @nandiyanti dan Reporter @boyMALI dengan Iwet Ramadhan saat berkunjung ke redaksi Ghiboo beberapa waktu lalu.

halo iwet, apa kabar?
Alhamdulillah baik.

saat ini apa saja kegiatannya?
Sekarang itu aku adalah Group Station Manager [GSM] yang bertanggungjawab atas semua I-Radio Network di semua kota. Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Medan, Makassar, dan Banjarmasin. Job desc-nya mengurus semua hal, mulai dari program, advertising, dan promotions.

Kalo sales sebenarnya sudah ada departemen sendiri, tapi semua berkaitan lah. Kalo programnya nggak bener, pasti sales-nya turun. Jadi akhirnya semuanya harus dilihat secara keseluruhan.

Iwet Ramadhan Quotesudah berapa lama di MRA Group?
Penunjukkan aku sebagai GSM 9 Juni 2014. Itu resminya. Tapi aku sudah di MRA sejak 2001. Berarti sudah 13 tahun. Pertama itu di Hard Rock FM [HRFM] Bandung, siaran. Kalo awalnya dari unit daerah, itu justru terlatih untuk semua hal.

Karena walaupun penyiar, tapi belajar juga produksi, belajar juga advertising and promotions juga. Lalu tahun 2004 pindah ke Jakarta. Sempat ke MTV on Sky [sekarang 101.4 Trax FM-red ]. Dulu sempat juga jadi Account Executive [AE] sambil siaran. Terus pindah ke HRFM Jakarta, siaran Kucing dan Drive n Jive. Masih sempat jadi Senior AE, terus aku sempat jadi Media Relations juga. Jadi sempat nyobain semua departemen.

Terus 2006 aku aktif siaran sore, sampai akhirnya aku mikir, ini kayaknya udah waktunya fokus di siaran aja. Karena waktu itu juga masih mandu KISS [Kisah Seputar Selebriti yang ditayangkan Indosiar-red], dan beberapa acara lain. Waktu itu aku juga ngajar dalam bidang entertainment.

Terus seperti itu sampai sekarang, di HRFM. Terakhir aku siaran pagi, sampai 2011. Lalu aku resign. Juni 2012 aku balik lagi di Cosmo [90.4 Cosmopolitan FM-red]. Sempat vakum juga, karena waktu itu aku ngerasa di HRFM udah ketuaan banget. Sebenarnya secara umur nggak, cuma lifestyle-nya udah nggak dapet sama HRFM waktu itu.

Lalu Mas Hario, boss MRA BMD, menawarkan posisi GSM I-Radio Network itu. Prosesnya cukup cepat. Pulang dari Cosmo Trip ke Sydney, aku langsung diresmikan menempati posisi itu. Rasanya tertantang sih, apalagi brand-nya I-Radio, Indonesia sekali. Kebetulan aku juga cinta sekali dengan Indonesia, dan ini medium baru yang bisa dipegang. Jadi aku tertantang.

apa saja tantangan di I-Radio?
Sebenarnya nggak ada bedanya dengan radio lain. Yang beda cuma karena kita muterin 100 persen lagu Indonesia. Terus kita bicara tentang Indonesia secara keseluruhan. Aku justru lebih senang dengan I-Radio sebenarnya.

I-Radio itu lebih menjejak bumi, aku bilangnya. Kenapa? Karena, I-Radio lebih laid back. Dalam artian, ya udah orang Indonesia itu memang seperti ini. Kalo punya uang, gue beli. Kalo nggak punya uang, gue nggak beli. Yang penting gue tau. Jadi lebih menyenangkan.

Dan tantangan yang baru ini, aku mau naikin kelasnya I-Radio. Aku mau naikin kelasnya orang Indonesia. Kalo selama ini ‘kan, segmennya C-B-A. Jadi piramidnya terbalik. Nah, nantinya masih sama segmennya, cuma, si segmen besarnya itu di C dan B. Nah, aku mau bikin orang-orang ini jadi orang Indonesia yang keren.

Bahwa ketika bicara saya orang Indonesia, bukan berarti nggak bisa bahasa Inggris, bukan berarti nggak tahu apa-apa, bukan berarti tradisional yang pikirannya sempit. Nggak ‘gitu. Jadi ini lagi dibuka nih.

Sebenernya I-Radio ini jadi gives back-nya MRA sama rakyat Indonesia. Kami sudah sekian lama di dunia broadcasting, terus kami bikin apa nih buat orang Indonesia? Lewat I-Radio bikinnya. Kami kasih tahu lagi budaya Indonesia, seperti apa kerennya. Lalu jadi orang Indonesia yang keren itu seperti apa. Lalu tren fashion yang keren untuk orang Indonesia itu yang kayak apa. Financial plan yang bagus untuk orang Indonesia itu seperti apa.

Terus, orang Indonesia itu harus punya usaha sendiri, karena ekonomi kita itu, ‘gini. Negara akan maju kalo enterpreneur-nya banyak, dan kami punya program itu supaya i-Listeners [sapaan pendengar I-Radio-red] terpacu untuk punya usaha sendiri. Ini lho gambaran orang Indonesia yang keren.

I-Radio adalah radio yang memutar 100% lagu Indonesia. Pertama mengudara pada 1 September 2000, namun secara resmi diperkenalkan ke publik pada 28 Maret 2001. Setelah lima tahun mengudara, I-Radio melebarkan sayap ke Bandung, dan membuat I-Radio Network pada 28 Maret 2006. Berikutnya, I-Radio juga mengudara di Jogjakarta, Medan, Makassar, dan Banjarmasin.

kesulitannya apa?
Bicara soal kota. Justru kalau kita dengar di masing-masing kota yang aku bikin sekarang adalah, begitu sampai Bandung, itu akan Bandung banget. Ketika sampai Medan itu akan Medan banget. Karena si I-Radio ini, secara mapping besarnya akan jadi ensiklopedinya Indonesia dalam bentuk audio.

Kalo kita bicara kotanya Jogjakarta, maka dia adalah ensiklopedianya Jogja dalam bentuk audio. Jadi kalau mau cari tahu apapun tentang Jogja, cari tahunya di I-Radio Jogja. Nah kalau mau tahu tentang Indonesia, cari tahunya di I-Radio Jakarta.

berapa persen porsi network dan lokal?
Kalo dari jumlah jam siaran, lokal 8 jam, network 10 jam. Masih lebih banyak network, memang.

‘gimana caranya jadi daerah banget?
Ini tantangan sih. Supaya misalnya Bandung banget, itu sudah jelas, masuk lewat prime time. Prime Time Bandung itu punya yang namanya Urban atau Urang Bandung. Itu ngomongnya bisa bahasa Sunda banget. Tapi yang diomongin bisa yang keren-keren.

Terus kemudian, kalau di Medan, Indonesia Keren Banget, kami ubah jadi Indonesia Keren Kali Bah! Karena logat mereka nggak terima kata ‘banget’. Jadi kami pakai ‘keren kali’. Makassar juga punya acara-acara yang namanya Makassar sekali.

Nah yang jadi pekerjaan rumah adalah national time-nya, karena semua dari Jakarta. Dan yang jadi keluhan pendengar itu adalah ‘kok gue merasa nggak disapa, ya’, karena Jakarta banget. Jadi kami akan bikin event setiap Senin sampai Jumat, di setiap daerah dan setiap event itu akan di-live report ke Jakarta.

Jadi cerita soal hari ini misalnya Jakarta, lagi Grebek Kampus di UI. Besoknya Grebek Kampus UII Jogja, besoknya Unpar, jadi semua gabung segala macam. Kemudian, kami minta untuk semua Program Coordinator mengirimkan konten lokal setiap hari ke I-Radio Network, untuk disiarkan di Jakarta.

Berita yang dibawakan penyiar akan banyak yang dari daerah, kontennya lokal. Walaupun dengan dialek yang tak bisa dipaksakan.

Tantangannya lagi adalah mengubah si penyiar yang sudah berada di comfort zone selama 13 jam. Jadi tadinya penyiar I-Radio itu bicara dengan phase yang lambat. Lalu ngomongnya kering, nggak pake batch segala macam. Kami ‘kan cut to cut, lebih cepat, tidak panjang. Karena sekarang, tren radio itu tidak banyak ngomong.

Nah acara yang menyatukan semua program di daerah adalah Kirim Salam. Mereka [I-Listeners-red] senang namanya disebut di radio dan senang menyampaikan salam untuk teman-temannya. Satu jam penuh itu ugal-ugalan, malah maunya setiap jam ada Kirim Salam.

Kami bikin on air. Kami bikin tiga SMS dibacakan dan terakhirnya on air, jadi suara lokalnya tetap ada. Itu tantangannya sih. Permasalahan I-Radio Network adalah Jakarta banget. «

>>>minggu depan Iwet akan bicara tentang bisnis fashion line-nya<<<

Sophia Muller

SHARE