Gagasan Om Ray untuk Indonesia

0
186

Gagasan sebagai modal terbesar Indonesia

negri tanpa telinga 2

Berkecimpung di dunia seni, menurut Ferenc Raymond Sahetapy, atau yang dikenal sebagai Ray Sahetapy, merupakan sebuah cara untuk memajukan Indonesia. Pasalnya, di dalam dunia seni, muncul gagasan-gagasan yang menjadi modal terbesar Indonesia di masa kini.

“Tanah air ini sebenarnya luar biasa. Terletak di antara dua benua dan dua samudra, serta dilewati dua garis khatulistiwa. Sayangnya ‘kan memang banyak dipengaruhi asing…”, ia terdiam sejenak sembari meneguk kopi, “Diambil semua, dan bukan untuk kita. Jadi ya kekuatan kita sekarang ini, [tinggal] kebudayaan dan gagasan.”

Untuk itu, menurut pria asal Donggala ini, rakyat Indonesia, terutama mereka yang bekerja di industri kreatif harus berpikir kritis.

“Negara ini ‘kan luas. Materi [yang bisa diambil] juga luar biasa. Jadi kita harus pikirkan dan olah, materi-materi tersebut dengan baik,” ungkapnya dengan tegas.

Itulah sebabnya ia senang bermain dalam film-film Indonesia yang tak hanya bermutu, tetapi juga dapat membanggakan Indonesia di mata dunia. Seperti dalam film The Raid 1: Redemption atau dalam film Negeri Tanpa Telinga yang akan dirilis.

“Bagaimanapun caranya. Entah lewat film, produk, atau apapun. Yang penting harus berpihak kepada tanah air. Soalnya kita ini istilahnya sudah dirampok, eh diperkosa juga. Masa’ masih mau bilang ‘monggo’ sih?”

Salah satu hal yang disayangkan oleh mantan suami Dewi Yull mengenai Indonesia, adalah masalah kopi. Pria yang mencintai kopi ini mengaku bahwa ia suka menikmati kopi apa saja, hanya kecewa karena jarang menemukan kopi toraja.

“Pernah ada pertandingan kopi dunia. Finalisnya Kanada dan Brazil. Dan Kanada menjadi pemenang. Kopinya memang nikmat. Tapi setelah ditelusuri, tahu dari mana asal kopinya? Toraja,”  ia lantas menanyakan persediaan kopi pada seorang pelayan, dan merasa kecewa saat menemukan bahwa tak ada kopi toraja di sana.

“Itu, kopi toraja [sering] kosong di mana-mana. Gimana itu? Atau jangan-jangan, Kopi Toraja udah bukan punya kita lagi?”

Ia menghela nafas, “Itu tuh, persoalan paling ruwet di negara ini. Punya sendiri kok dijual sama negara lain. Jadi primadona pula di negara asing.”

Ketika ditanya mengapa kini tak terjun saja ke dunia politik, untuk langsung mengungkapkan gagasan tersebut, diakui oleh pemimpin Perhimpunan Seniman Nusantara tersebut, bahwa ia “tak kuat” dengan politik.

“Saya itu pernah, Mbak, terjun ke politik [ikut dalam kampanye PNBK, red]. Tetapi…kayaknya bukan jalan saya itu. Seniman itu memang bisa di politik. Tetapi memperjuangkan apa yang menjadi keyakinan kita, itu susah banget lho.

“Bukannya saya mau bilang kalau politik itu jahat lho. Tapi ya pendidikan politik di negara ini musti dibenahi. Mulai dari membenahi perilaku orang-orang [politik], dan mengubah pola pikir masyarakat juga. Banyak ‘kan, orang yang nggak mau membantu, kalau pandangan politiknya nggak sama…,” tuturnya sembari mengenang kehebohan pilpres beberapa waktu lalu.

Ketika ditanya mengenai presiden pilihan, ia enggan menjawab, “Siapapun presidennya, akan selalu saya dukung untuk memajukan Indonesia.”

Menanggapi Hari Raya Kemerdekaan yang akan tiba tak lama lagi, ia hanya berpesan satu hal kepada rakyat Indonesia. Khususnya kaum muda, “Berpikirlah sesuai dengan cara kamu sendiri, bukan apa yang orang lain pikirkan. Jadilah diri sendiri, sesuai tempat di mana kamu berada sekarang. Dengan cara itu kita bisa menunjukkan Indonesia di mata dunia.” « [teks:@intankirana foto:@bagusdimsum]

SHARE