Musik Indonesia di Mata Ikang Fawzi

0
267
ikang fauzi
ikang fauzi

Sekarang berbeda dengan zaman dulu saat saya bermusik

ikang fauzi3

Siapa tak kenal dia, boy anak orang kaya punya teman segudang karena pergaualannya…“.

Jika mendengar potongan lirik lagu yang terkenal sejak 1987, mungkin langsung teringat sosok rock star Ikang Fawzi.

Nama Ikang Fawzi mulai terkenal di dunia hiburan tanah air pada era 80-an. Awal perkenalan Ikang dengan dunia seni peran adalah saat mengisi malam puncak FFI 1981. Kemudian pada tahun 1982, ia mendapat peran di film “Pengantin Remaja II”.

Walaupun usianya kini menginjak 54 tahun, semangat untuk bermusik terus mengalir dalam dirinya. Hal ini diakuinya ketika Ghiboo bertemu dengan suami dari aktris dan politisi Marissa Haque di bioskop kawasan Senayan beberapa waktu lalu.

“Saya sekarang banyak disibukan dengan kegiatan bisnis properti, real estate. Namun ngamen [menyanyi-red] masih terus jalan, biar bagaimanapun itu profesi utama saya,” ujarnya.

Musikus yang sudah menunjukan karyanya di industri musik tanah air dengan mengeluarkan total 9 album ini bukan hanya terus bermusik baik secara on air maupun off air. Dia juga terus mengamati perkembangan musik tanah air.

“Menurut saya industri musik Indonesia masih mencari celah berkembang. Dari yang nggak terlalu probisnis sekarang benar-benar terlihat kalau ini menjadi sebuah bisnis. Zaman dulu produser adalah orang yang punya uang, sekarang prodser musik itu yang punya gagasan dan karya. Kalau orangnya punya duit terus jadi produser seringnya disebut sebagai finance produser,” tutur pemilik nama lahir Ahmad Zulfikar Fawzi.

Dia menambahkan, kalau kini musik hanya tertuju pada satu atau dua genre saja, berbeda saat era 80-an yang menurutnya hampir semua genre musik hidup dan bisa berkembang dengan baik.

“Saya ngelihatnya sekarang hanya satu atau dua genre yang berkembang. Beda dengan dulu, semua genre seperti jazz, rock, pop, bahkan dangdut bisa berkembang dengan baik. Mungkin ini akibat tuntutan rating harus tinggi, harusnya kita yang kelola, manage, arahin rating, bukan sebaliknya,” ujarnya dengan mimik wajah cukup serius.

Saat Ghiboo meminta tanggapannya tentang bermunculannya teknologi dalam dunia musik serta aplikasi digital yang bisa digunakan oleh banyak musisi di Indonesia, dia menjawab dengan cukup singkat.

“Kalau pake teknologi digital itu namanya pengedit, kalau musisi itu harus terus berlatih untuk mengasah kemampuan bermusiknya,” ujar pria kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959.

Di akhir obrolan, dia mengungkapkan harapannya untuk para musisi serta industri musik Indonesia. “Harapan saya, kita sebagi musisi jangan mati berkarya, terus menggali potensi dan semua genre musik yang ada. Serta yang paling penting jangan sampai rating yang mengarahkan musisi dalam membuat sebuah karya,” kata musikus berdarah campuran Sunda-Bugis ini. « [teks @boyMALI | foto @bagusdimsum]

SHARE