Lola Amaria dan Film Indonesia

0
130
Lola Amaria
Lola Amaria

Lola Amaria menikmati semua proses produksi film

LolaAmaria-1Kembali ke era tahun 2000-an. Zaman yang dikenal sebagai era millennium. Lola Amaria –yang sebelumnya berprofesi sebagai model– mulai sering muncul di layar kaca, bahkan di layar bioskop tanah air, karena membintangi beberapa judul film.

Namun ternyata, hanya menjadi pemain tak membuat hatinya puas. Lola –begitu ia biasa disapa– memberanikan diri berkarya di belakang layar industri film.

Minggu Pagi di Victoria Park, Sanubari Jakarta, INERIE [Mama yang Cantik], Kisah 3 Titik, dan baru-baru ini Negeri Tanpa Telinga [NTT], menjadi karya buah tangan dinginnya.

Saat Ghiboo bertemu dengannya dalam acara media screening film NTT, perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977 ini mengaku lebih memilih cerita atau kisah yang dekat dengan kehidupan pribadinya.

“Saya memilih bercerita tentang kejadian yang nyata, ada, dan dekat dengan kehidupan pribadi saya. Jika mungkin disuruh buat film perang, sayang, belum tentu bisa bercerita dengan baik karena nggak mengalami itu. Selain kejadiannya nyata, saya coba untuk melakukan berbagai riset mendalam yang kemudian diramu dengan drama,” ceritanya dengan wajah cukup serius.

Tak heran jika perempuan yang gemar menggunakan busana daerah asli Indonesia ini terlihat sangat menikmati berbagai proses dalam membuat sebuah film, dan mengungkap akan terus berkarya selama dirinya merasa masih mampu.

“Saya mencintai proses-proses pembuatan film. Buat saya, tak ada batasan umur untuk berkarya. Mungkin akan sampai tua jadi sineas, hehehe,” ujarnya sembari melempar tawa. 

“Tapi sejujurnya,” Lola melanjutkan, “proses syuting sebuah film hanya tinggal eksekusi aja. Saya seperti mendapat sebuah energi ekstra ketika bikin skenario, lalu membuat draft atau proposal, mencari investor, presentasi, dan mencari pemainnya,” ujar perempuan yang kini tampil dengan gaya rambut pendek dan mengenakan kawat gigi ini.

Perempuan yang memulai karier di dunia hiburan tanah air dengan menjuarai lomba model Wajah Femina 1997 ini bercerita, dari semua proses yang harus dilewati, mencari penyumbang dana menjadi hal yang membuatnya melatih kesabaran.

“Sama seperti saat menjaring ikan, kita menebar proposal film kita. Ada calon investor yang ingin tahu lebih banyak, lalu saya datang untuk presentasi. Kalau gagal, ya cari lagi. Terus seperti itu. Dan saya percaya, Tuhan selalu kasih jalan. Jadi terus bersyukur karena selalu ada orang yang mau jadi penyumbang dana untuk produksi filmnya,” lanjutnya.

Lalu bagaimana tanggapan Lola Amaria terhadap perkembangan film Indonesia saat ini? Dia pun menjawab dengan cepat secara kuantitas sudah oke, namun secara kualitas harus tetap dipilih.

“Saya jarang bergaul di dunia film, tapi saya melihat film Indonesia sudah lumayan maju jika dilihat dari jumlah. Film yang keluar dalam setahun cukup fantastis, bisa mencapai 100, bahkan lebih dari itu. Namun secara kualitas dan tema masih bisa dihitung, yang layak ditonton atau tidak ditonton,” ungkap perempuan yang dikabarkan pernah menjalin kasih dengan sutradara Arya Kusumadewa.

Obrolan Ghiboo bersama Lola Amaria tentang film Indonesia pun ditutup dengan dua harapan besarnya untuk perkembangan industri film tanah air. “Harapan saya ada dua yakni film Indonesia semakin lebih baik secara kualitas, dan adanya dukungan pemerintah terhadap para sineas Indonesia,” tutupnya. « [teks @boyMALI | foto @bagusdimsum]

SHARE