Pengganggu Bernama ‘Tukang Keluh’

0
152

Hati-hati dengan pengaruh negatif di dunia kerja.

Ilustrasi[dropcap style=’square’]P[/dropcap]ekerjaan rutin memang sebuah absurditas. Maka tak berlebihan bila Albert Camus, seorang filsuf, mengidentikkannya dengan hukuman mitologi Sisyphus. Mendorong batu ke puncak Gunung Olympus, lalu melepaskannya kembali ke kaki gunung. Terus menerus seperti itu.

Namun sebagai manusia, kita memiliki kebebasan. Baik untuk memilih, maupun bertahan. Sayangnya tetap saja ada segelintir orang yang di ambang batas. Antara ingin pergi, tapi tak berani ambil resiko, atau bertahan dengan keluhan terhadap segala hal.

Beberapa dari Anda mungkin merasa jengah dengan tukang keluh semacam itu. Namun rasa tidak enak membuat Anda tak bisa berbuat apa-apa. Hanya saja, bila Anda biarkan saja, hal tersebut dapat memberikan aura negatif bagi Anda.

Lantas, apa yang harus Anda lakukan? Simak beberapa kasus di bawah ini.

Kasus 1: “Gaji kok kecil amat!Kita demo aja yuk di May Day!”

Selalu ada orang semacam ini di ranah kantor. Entah tak membaca kontrak, atau memang “ngelunjak”. Bukankah seharusnya kita paham segala resiko yang akan kita dapatkan saat melamar sebuah pekerjaan?

Apa yang harus Anda lakukan? Tentu saja, tak perlu mengikuti ajakannya. Kalau perlu, beritahu dia mengapa dia menandatangani kontrak, in the first place. Bila ia berkilah [orang semacam ini selalu berkilah], katakan padanya untuk mencari pekerjaan baru.

Kasus 2: “Resek banget sih, dikasih kerjaan banyak. Dipikir kita mesin pabrik?”

Entahlah, apakah orang semacam ini paham definisi dari bekerja?

Apa yang harus Anda lakukan? Biasanya, pengeluh semacam ini suka mempengaruhi Anda, agar malas bekerja. Biasanya akan mengajak Anda untuk melalaikan pekerjaan dan bersantai-santai. Mungkin Anda merasa tidak enak, tetapi ingat satu hal: dunia kerja adalah arena pertempuran yang ketat. Memangnya, kalau Anda dipecat, rekan Anda akan mencarikan kerja?

Oh ya, Anda juga bisa katakan padanya: kalau ingin dapat uang banyak dengan bersantai, ada baiknya mendekati anak konglomerat. Sayangnya, anak konglomerat juga tak suka dengan pemalas.

Kasus 3: “Bos mah pilih kasih sama gue.”

Tidak ada manusia yang obyektif. Beberapa atasan memang mungkin menyebalkan dan terlalu subyektif. Tetapi kalau Anda tak suka bikin masalah di kantor, tak suka membangkang, senantiasa menyelesaikan pekerjaan, bos tak akan “membully” Anda.

Apa yang harus Anda lakukan? Anda musti berhati-hati dengan pengeluh yang suka berbicara semacam itu. Ia bisa lho, memutarbalikkan fakta atas rekan kerja lain, lantaran rasa iri. Atau mengatakan yang tidak-tidak kepada atasan.

Sebaiknya Anda tidak cari masalah dengan orang semacam ini. Beri jarak lebar terhadap dia. Bila ia mengeluhkan hal demikian lagi, ada baiknya Anda diam saja. Tak usah menasehati apalagi menyetujui. Bisa-bisa, perkataan Anda jadi bumerang.

Kasus 4:Gue orangnya nggak suka dikekang”

Beberapa rekan kerja akan berkata begini ketika kita membagi pekerjaan dengannya. Well, sejak kapan kita bisa bebas bila memutuskan untuk bekerja di bawah orang lain?

Apa yang harus Anda lakukan? Balas saja pernyataannya dengan, “Saya juga nggak suka dengan orang yang nggak punya komitmen.” Kalau dia punya sopan santun, pastinya dia akan merasa tidak enak. Tetapi kalau wajahnya terlalu tebal, mungkin ia malah akan menggunjingkan Anda di belakang, atau menyindir dengan halus.

Anda jangan mau kalah dengan orang semacam ini. Kalau Anda kalah dan diam, ia akan menganggap Anda mengalah. Kalau perlu, orang semacam ini musti diberi pelajaran. Misalnya, tidak melibatkannya dalam proyek selanjutnya. Atau tidak merekomendasikannya.

Kasus 5: “Lo mah enak kerja lo di bagian….”, atau, “Lo mah enak posisi lo udah..”

Ini hampir sama seperti masalah gaji. Bukankah ketika melamar kerja, kita paham posisi apa yang akan kita tempati? Ataukah ia hanya iri lantaran Anda mudah mendapatkan promosi?

Apa yang harus Anda lakukan? Katakan kepadanya bahwa asal mengeluh tanpa mengetahui sebab dari suatu hal juga merupakan suatu hal yang mudah dilakukan. Aneh memang, tetapi terkadang ada orang-orang yang tidak enak kepada rekan kerja, lantas menolak suatu promosi atau malah ikut merekomendasikan orang tersebut kepada atasan, padahal dia tak layak betul untuk mendapatkan hal tersebut.

Intinya, Anda tak perlu berkorban untuk orang-orang yang “ingin menjadi seperti Anda atau orang lain”, tetapi berkilah dengan alasan ‘ketidakadilan’ dan ‘kekangan’.

Namun rekan Anda masih mengeluh, atau malah makin jadi saja? Sekali lagi, Anda benar-benar tak perlu berdekatan dengan orang-orang seperti ini. Tentunya Anda masih ingat bukan dengan pepatah, “Bila berteman dengan kayu, kau akan ikut dibakar. Maka, berkawanlah dengan tukang minyak wangi, agar harumnya sampai kepadamu..” [teks @intankirana | foto Ist]

Banner King Fisher

SHARE