Sabtu Bersama Bapak Adhitya Mulya

0
545

“Bayangin anak kecil nanya ‘kamu tablet-nya apa?’..

[dropcap style=’square’]S[/dropcap]epuluh tahun sudah sejak kemunculan novel fenomenal Jomblo. Adhitya Mulya, sang penulis, kini meluncurkan lagi novel terbarunya bertitel Sabtu Bersama Bapak pada 10 Juni 2014. Bedanya, jika 10 tahun lalu Adhitya adalah seorang jomblo tulen, kini dia telah memiliki istri dan dua anak.

adhitya mulya

Kedua buah hatinya itu yang kemudian menggiring Adhitya Mulya pada sebuah alur cerita yang panjang tentang sebuah keluarga, dua anak lelaki, dan video rekaman dari mendiang ayah. Ketiga hal itu yang menjadi kerangka awal dari pembentukan novel ini.

Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang seorang ayah yang terkena kanker selagi kedua anak lelakinya masih kecil. Sang bapak divonis tidak bisa sembuh oleh dokter, sementara ia tidak ingin meninggalkan Satya dan Cakra –kedua jagoan kecilnya.

Dia tidak ingin kedua anak-anaknya tumbuh tanpa figur seorang bapak. Sang bapak hanya punya waktu satu tahun untuk hidup dunia. Maka, di sisa waktu hidupnya, sang bapak lalu membuat sebuah video agar bisa dipergunakan suatu hari oleh kedua anaknya.

“Buku ini sebenarnya hal-hal yang ingin gue bilang ke kedua anak gue. Tapi ‘kan mereka masih kecil, belum paham untuk diajak ngobrol hal kayak ‘gini,” ungkap Adhit –begitu ia biasa disapa– sambil bersandar di sofa 90.4 Cosmopolitan FM. Pria berkacamata dan bermata sipit ini sedang menunggu waktu siaran, dan ini kesempatan kami membajaknya lebih dulu.

Adhit mengaku jika dua tokoh anak laki-laki yang ia ceritakan pada Sabtu Bersama Bapak tercipta tanpa unsur kesengajaan akan mirip dengan kedua anaknya. Ketika ide membuat novel ini muncul, lahirlah tokoh Satya dan Cakra. Umur kedua tokohnya pun mirip dengan anak Adhit, delapan dan lima tahun.

Gue tuh nggak sabar untuk bilang ke mereka [kedua anaknya], ‘nak, ntar kamu masuk ITB ya’ atau ‘nak, kalau besar kamu harus pintar matematika ya’,” jelas Alumni ITB ini, ”Tapi kan hal itu nggak mungkin. Yang ada malah mereka stres. Maka munculah ide membuat novel ini,” ujarnya sambil mengembangkan sebuah senyum.

Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan swasta ini berujar jika lewat menulis passion-nya sebagai story teller mampu tersalurkan. Hal-hal minor –tapi terkesan berat– seperti persepektif mengenai orangtua di mata anak sampai keresahan tentang anak kecil yang menilai lewat brand pun Adhit sampaikan di bukunya itu.

“Bayangin anak kecil nanya ‘kamu tablet-nya apa?’ atau ‘kamu sepatunya apa? Adidas atau Nike?’ terus ‘kamu mobilnya apa?’ Lo bayangin itu anak TK, men!” terangnya dengan raut gusar.

Seperti novel Jomblo, pengerjaan buku Sabtu Bersama Bapak cuma membutuhkan waktu setahun, bilang Adhit. Hanya saja dari proses sampai ide pembuatan hingga novelnya rampung, Adhit membutuhkan waktu 36 tahun! Karena, “Gue perlu melewati proses sebagai seorang anak dan seorang ayah lebih dulu,” pungkasnya. « [teks @HaabibOnta | foto @bagusdimsums]

SHARE