Ghiboo Minggu #1: Daily Worker Kunto Aji

0
2297

Ketika Burung Mengajarkan Makna Hidup

Tapi kemaluan juga bisa memberimu kebijaksanaan. Itu juga kupelajari dari milikku –Ajo Kawir

Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas[dropcap style=’square’]K[/dropcap]isah mengenai kemaluan biasanya identik dengan dunia malam, ataupun perihal bencana-bencana yang terjadi akibat nafsu yang tak mampu dijinakkan. Namun melalui tokoh Ajo Kawir, Eka Kurniawan menggambarkan bagaimana “sebatang” kemaluan mampu mengajarkan tentang hidup.

Cerita ini dimulai dari Ajo Kawir yang termenung memikirkan seorang gadis. Ah, lebih tepatnya, kemaluan yang tak kunjung berdiri, walaupun sudah lama ia memikirkan seorang gadis. Mengenai burung yang terus tertidur ini [seperti yang tergambar dalam sampul], ada kisahnya sendiri.

Jadi, di masa lalu, Ajo Kawir adalah seorang anak lelaki normal. Dengan Si Tokek, ia berkawan erat. Mereka menjalani kehidupan selayaknya anak kampung: bermain, mengaji disurau, dan mengintip orang mandi. Sayangnya, yang terakhir ini bakal menjadi hal yang akan mengubah total hidup Ajo Kasir.

Pada suatu hari, Si Tokek mengajak Ajo Kawir mengintip seorang gila. Rona Merah namanya. Gila karena suaminya dibunuh orang. Kendati gila, dan tidak montok, tapi yang ini berbeda, begitu kata Si Tokek.

Seharusnya memang malam itu akan jadi malam yang menyenangkan bagi mereka. Sayangnya, malam itu mereka apes. Dua orang polisi bejat rupanya tengah mendatangi rumah si Rona Merah, bermain dan menyetubuhi perempuan yang tak bisa berhenti tertawa dan menangis tersebut.

Kepolosan Ajo Kasir membuatnya ketahuan. Disuruhlah lantas ia menyetubuhi peremuan itu. Namun bukannya berdiri, kemaluan Ajo Kawir malahan enggan dan ingin tidur. Untuk waktu yang lama.

Maka, untuk menghilangkan gundah akibat kemaluan yang tak bisa berdiri dengan cara apapun, Ajo Kawir jadi hobi bertengkar. Jadilah ia jagoan yang disegani. Kekuatannya juga membuatnya didapuk jadi supir truk malam lintas pulau.

Mengapa harus bertengkar dan kuat, karena burung yang tak bisa berdiri memberikannya nestapa. Ia bisa saja merasakan cinta, seperti pada Iteung, seorang bodyguard yang menjadi lawannya, tetapi burung tampaknya tak mengerti betul makna cinta.

Antara burung dan kekerasan
Mungkin burung bisa menumbuhkan kehidupan baru. Namun tak ayal, ia adalah sebab bagaimana musibah bisa terjadi.

Karena burung yang bangun, Rona Merah diperkosa. Karena burung pula, Si Iteung mendapatkan pelecehan seksual dari Guru BK, dan membuatnya jadi belajar dan hobi berkelahi. Karena burung yang tak bangun-bangun pula, Ajo Kawir jadi jagoan hebat.

Namun pada akhirnya burung Ajo Kawir mengajarkannya tentang kebijaksanaan. Tentang ketenangan. Bahwa walaupun kita semua keluar dari burung, hidup akan hancur bila terus menerus memprioritaskan masalah burung. Buktinya, dengan burung yang terus tertidur, Ajo Kawir paham betul bagaimana menuntaskan semua urusan dan pekerjaan. Bukannya terus menerus mendahulukan nafsu seksual.

Bercerita tentang orang-orang jalanan, mulai dari supir truk hingga melacur, Eka Kurniawan tak segan-segan menggunakan kata-kata yang gamblang. Maka jangan heran bila banyak kita temukan kata-kata semacam “ngeceng”, “tai”, “perek”, dan semacamnya dalam buku ini.

Sastra tak musti ditulis dengan ungkapan-ungkapan berkonotasi positif. Bukankah memang seharusnya begitu? Eka menawarkan sebuah sastra yang memotret kenyataan. Tak melulu harus bicara masalah moral dengan bahasa yang menggurui. Atau eksploitasi seksualitas untuk menambah bumbu layaknya cerita stensilan.

Layaknya membuat coretan di kakus, begitu mungkin Eka menulis buku ini. Semacam ngawur, asal-asalan, alur campur tak jelas. Tokoh-tokoh dengan nama julukan, tak seperti normalnya orang Indonesia diberi nama.

Bahkan semacam novelnya yang dulu, “Cantik Itu Luka”, ada nama-nama yang disematkan pada orang-orang yang tak pantas menyandang nama-nama tersebut. Sebutlah Jelita, untuk seorang gadis yang menurut Ajo Kasir “kalau mandi di kali telanjang pun, buaya tak akan sudi memakan”. Tetapi inilah yang menyenangkan menyenangkan. Diksi yang memang tak dibuat-buat, tetapi enak dibaca.

Kalaupun ada yang mengganggu, mungkin adegan berdarah-darah yang agak sadis. Tak semua orang bisa nyaman dengan hal ini: mengkomedikan kekerasan. Menertawakan kecacatan akibat perkelahian. Berteriak menang atas prang yang babak belur.

Namun mungkin bila dilihat dari sisi lain, ini bisa jadi sisi positif. Betapa manusia, di luar nilai-nilai moral yang dikenakannya, toh ia tetaplah binatang buas. Saat dihadapkan pada keadaan yang mendesak. Dan lagi-lagi, burung juga ambil bagian dalam hal ini

Jadi, terkadang memang mungkin kita harus menidurkan burung kita. « [teks @intankirana]