Nasihat Butet untuk Djaduk

0
758

“Duk, teruslah menjadi pemusik..,” satu pesan Butet

butet kartaredjasaKetika Butet Kartaredjasa naik ke atas panggung di tengah Konser Gending Djaduk di Graha Bakti Budaya, TIM, jadi bersorak sorai. Seniman yang naik setelah dipanggil oleh empunya konser, Djaduk, tak menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapat.

Butet mengucapkan banyak terima kasih sekaligus berpetuah untuk adiknya.

“Duk, aku sebagai kakang-mu punya pesan,” kata Butet bernada serius yang lantas disambut tawa oleh penonton karena dianggap guyonan.

“Kamu itu sudah lima puluh tahun, jaga kesehatan. Kamu itu calon-calon diabetes,” lanjut Butet.Bagi yang belum tahu, Butet Kartaredjasa dan Djaduk Feriyanto merupakan saudara kandung.

Butet lebih tua dua tahun ketimbang Djaduk. Konser Gending Djaduk pun diadakan untuk merayakan lima puluh tahun Djaduk Feriyanto turun ke muka bumi. 

Butet selaku kakak memberikan beberapa nasihat untuk adiknya, Djaduk di hadapan ratusan orang yang memadati Graha Bakti Budaya.

Djaduk lantas membalasnya dengan sanggahan sekaligus guyon. “Lha, itu ibu-bapakmu diabetes. Makanya jaga kesehatan,” jawab Butet seraya berkelakar dengan gestur tubuh.

Nasihat yang kedua dari Butet agar Djaduk tidak menjadi Katolik yang kebablasan. Entah maksudnya apa, tapi begitulah guyonan sekadar untuk ditertawai tanpa perlu dimengerti. Dan, semua orang pun tertawa. “Wis lah, melu aku wae, Animisme Progresif,” ujar Butet.

Pria yang mendapat predikat sebagai Raja Monolog itu juga menyarankan agar di setengah abadnya Djaduk mulai menjaga manuk-nya. “Aku aja cuma berani punya anak tiga. Lha kamu lima, su,” ujar Butet sambil terkekeh. Bukannya kesal, Djaduk pun ikut tertawa bersama kakaknya.

Pentas Gending Djaduk pun bisa terselenggara berkat campur tangan dari Butet Kartaredjasa. Butet selain sebagai saudara, ia juga bertindak sebagai supervisi konser perayaan ulang tahun Djaduk.

Pria berkacamata itu menganggap adiknya sebagai orang edan, karena di umur 50 tahun ia berani mengadakan konser berdurasi panjang. Sementara dirinya ketika menginjak setengah abad tidak mengadakan pentas monolog.

“Duk, teruslah menjadi pemusik. Tapi jangan menjadi ‘Ahmad Dhani’,” pesan Butet yang terakhir kepada Djaduk. Maka, guyonan itu langsung diganjar tawa yang menggelegak dari segenap penjuru Graha Bakti Budaya.

Selepas pentas, Butet memberi penjelasan jika ia tidak merujuk Ahmad Dhani sebagai personal. Tapi melebihi itu, Ahmad Dhani sebagai sebuah wacana beberapa waktu belakangan. “Jadi jangan disalah artikan. Saya tidak bermaksud menyerang siapa pun,”tandasnya. « [teks @HaabibOnta | foto @bagusdimsums]

SHARE