Iwet Ramadhan: “Cari Uang itu Susah”

0
394
iwet ramadhan
iwet ramadhan

Ini suka duka Iwet membangun bisnis lini busananya

iwet ramadhan[dropcap style=’square’]M[/dropcap]inggu lalu, kita sudah membahas soal karier siaran Iwet Ramadhan. Kelahiran Jogjakarta, 24 Juli 1981 ini, selain dikenal sebagai penyiar dan lulus dari jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, kini tengah membesarkan bisnis garapannya, TikPrive.

Sejak kariernya mulai menanjak di dunia entertainment, dan sempat jadi host untuk beberapa program televisi, Iwet menemukan ketertarikan lain di bidang seni.

Anak pasangan Sujudiman Saleh dan Fauziah ini mulai membuka sebuah bisnis fesyen bertema kultur Indonesia. Mulanya, ia memberi nama lini busana ini dengan nama TikShirt, sebuah usaha berbasis fashion design menggunakan bahan batik.

Dengan bisnisnya itu, Iwet mulai dikenal sebagai pencinta batik. Padahal menurutnya, cinta pada batik adalah salah satu bentuk kecintaannya pada Indonesia. Dan ternyata, kesukaannya pada batik itu telah ia simpan sejak kecil.

“Dulu aku selalu menonton pertunjukan tari di salah satu hotel di Jogjakarta setiap sore. Aku ingin sekali memiliki kostum yang dipakai para penari tersebut. Papa lalu memberikan selendang batik yang akhirnya selalu aku bawa ke mana pun aku pergi,” ujarnya.

Seiring perkembangan TikShirt, Iwet mengubahnya menjadi TikPrive, mencakup bisnis yang lebih luas lagi. Bukan hanya soal fashion design, tapi apapun yang masih berhubungan dengan budaya Indonesia yang berguna bagi masyarakat Indonesia.

Melalui TikPrive, pria bershio ayam ini baru benar-benar merasakan tantangan untuk berkreasi. Ia menyukai berbagai macam tantangan, dan lewat TikPrive ia menantang dirinya sendiri untuk menghidupkan lagi kecintaan-kecintaan pada kebudayaan Indonesia, apapun bentuknya.

Pria penyuka lukisan Affandi ini, belajar banyak mengenai kreasi dan memahami bahwa proses menuju sebuah keberhasilan adalah yang terpenting. Baginya hasil dan timbal balik adalah suatu bonus, tapi proses pembelajaran saat menuju sukses itulah yang selalu ingin dilaluinya.

Pria yang juga hobi mengoleksi teh dari berbagai negara ini juga tak ragu menceritakan berbagai pengalamannya tentang meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia. Ia selalu menerima tawaran yang menyerukan ketertarikan pada budaya. Dan gelaran fashion show adalah media yang kini ia tekuni saat ini untuk menyerukan kecintaan pada batik.

Meski sibuk dengan kegiatannya di TikPrive, hingga saat ini Iwet juga masih aktif siaran di 90.4 Cosmopolitan FM, dalam acara Breakfast Club bersama Novita Angie. Selain itu, ia juga disibukkan dengan kegiatan kantor sebagai Group Station Manager I-Radio Network, di MRA Broadcasting Media Division.

iwet ramadhanKini, simak lanjutan obrolan santai Iwet bersama Editor @nandiyanti, Reporter @boyMALI, dan Photographer @bagusdimsum.

jadi GSM di I-Radio, TikPrive ‘gimana?
Aman kok. Jadi waktu kemarin aku terima kerjaan ini, banyak yang tanya, apa TikPrive ditinggal? Nggaknggak sama sekali. Karena sistemnya sudah dibuat. Koleksi sudah jalan.

Sekarang sudah ketemu polanya. Bahwa TikPrive itu akan ngeluarin koleksi itu awal tahun, tengah, di antaranya, lalu akhir. Jadi empat kali ya. Di situ aja ribetnya. Karena harus bikin desain baru, koleksi baru, dan sebagainya.

Sekarang ini aku punya desainer. Makanya, aku nggak pernah menyebut diri aku sebagai desainer. Aku adalah businessman. Aku nyebutnya sebagai culture entrepreneur. Karena aku mencari uang, mengusahakan uang dari budaya. Karena di TikPrive itu aku ada yang namanya kreatic

Kreatic itu adalah si pemberi konsep, ide kreatif, yang segala sesuatunya berhubungan dengan budaya. Kayak konsep wisata budaya namanya konsep Budaya Inggil. Lalu kami bikin kelas batik untuk edukasi mengenai batik. Lalu ada lagi kami punya buku cerita batik. Terus kami pernah bikin pesta rukun warga. Kayak ‘gitu, jadi budaya banget.

Dan karena sistemnya sudah jalan, jadi artinya aku sudah tidak bisa main-main. Even kayak makan siang misalnya, kalau bisa makan di meja, ya di meja. Atau makan di bawah terus balik lagi secepat mungkin karena sepersekian jam makan siang itu aku pakai untuk balas-balasin email approval anak-anak TikPrive.

Jadi malam pun, masih buka email untuk cek email dari anak-anak TikPrive. Makanya selalu pulang dari sini itu aku usahain semua pekerjaan radio sudah beres, tidak aku bawa pulang ke rumah.

Kerjaan TikPrive juga udah harus selesei di sini, nggak dibawa ke rumah. Karena yang udah-udah, begitu bawa kerjaan ke rumah, nggak bisa tidur. Mimpinya kacau. Jadi kalau mau sampai di sini jam 9 malam, ya jam 9 malam deh. Tapi semua beres.

jadi berapa persen keterlibatan di TikPrive?
Hanya akan approval sekarang. Jadi ‘gini sih, aku sekarang mau bilang hanya akan approval. Tapi nanti aku yakin, itu koleksi baru keluar, pasti aku akan terlibat lagi, hehehe. Jadi sebenarnya kantor ‘kan di jalan Prambanan, Menteng. Jadi dekat banget.

Aku bisa kabur makan siang ke sana. Jalan lari ke sana jam 11.30, liatliat di sana, terus balik ke sini jam 12.30 atau jam 13.00. Cuma kalo nggak bisa seperti itu, anak anak yang aku minta ke sini [kantor MRA-red]. Jadi mesti ketemu, datang ke sini. ‘Kan ada ruangan, ketemu di sini, bahas di sini, abis itu mereka balik, kerja lagi.

Nah proses berapa pesennya, sama ribetnya sih. Apalagi November mau keluarin koleksi baru dan akan tampil Jakarta Fashion Week [JFW]. Pasti akan gila banget. Cuma untungnya, kain sudah produksi sendiri. Karena kami ‘kan kain produksi sendiri, dan di situ paling ribetnya. Jadi kalau kain sudah selesai diproduksi itu aku baru mulai bisa rileks. Udah tinggal konsep desain sama rangkaian koleksi.

persiapan terdekat?
Juli masih ada koleksi Lebaran. Itu udah mulai produksi dari sekarang udah mulai proses desain. Kemudian, nanti harusnya midJuli udah mulai jualan, udah dehAbis Juli masuk ke koleksi November. Jadi sebenarnya proses di kantor sana juga nggak pernah berhenti. Satu koleksi selesai keluar. Langsung lanjut koleksi berikutnya lagi.

gol terdekat?
Desember I-Radio harus naik jumlah pendengarnya. November launching Madura Collection di JFW. Yang lainnya jalan menuju ke sana.

secinta apa sama batik?
Cintanya bukan sama batik sebenarnya tapi sama kebudayaan Indonesia. Makanya kerjaan di I-Radio diterima. Karena sebenarnya I-Radio ini adalah bentuk dari TikPrive yang bersuara. Jadi sebenarnya ini [I-Radio] adalah Iwet Ramadhan yang bersuara lewat radio.

Karena kalo liat twitter aku, website-nya TikPrive, liat hasil TikPrive itu bentuk audionya di I-RadioGrafisnya, lalu kemudian konsep programnya, klop bangetKayak kita bikin di I-Radio apa artinya bir pletok, apa artinya ondel-ondel, itu nafasnya TikPrive itu begitu. Twitter-nya TikPrive ya kayak ‘gitu.

Kalo soal kecintaan, ya cinta banget lah! Udah kayak begitu, maksudnya ‘gimana ya? Aku bukan tipe orang yang vokal ya. Lebih banyak beraksi daripada berbicara. ‘Kan orang jaman sekarang ke balik ya. Ngomong dulu aja, terus semua dikeluarin lewat Twitter. Gue nggakGue tuh, oke saya cinta Indonesia. Buktinya apa?

Saya bekerja untuk Indonesia, saya bekerja untuk budaya Indonesia, saya memajukan budaya Indonesia. Saya membagikan ilmu yang saya tahu tentang Indonesia ke orang-orang. Cinta bangetudah berlebihan banget. Cuma nggak fanatisme berlebihan terus jadi aneh.

jadi bisa dibilang cinta lewat karya?
Iya. Ada lagi, ada lagi, terus. Maunya begitu.

tapi senang desain, atau ngurus di belakang layar? dari hatinya pilih mana?
Ternyata, lebih senang bisnis. Karena waktu di MRA pun, aku ‘kan sempat di sales dan media relations. Aku sempat minta balik lagi ke Marketing Director MRA BMD. ”Om Den, aku mau balik lagi ke sales. Aku nggak tahan di media relations karena nggak ada angkanya.” Jadi ternyata deep down inside aku suka dikasih target angka. Aneh ya?

orang bukannya justru tertekan sama angka? kenapa ini malah suka?
Iya itu anehnya. Tapi ‘gini bentuknya, aku bekerja dengan kreativitas. Karena ternyata si bisnis ini kreatif banget. Jadi bukan cuma ujungnya angka. Jadi angka itu reward-nya. Setelah kita lakukan proses kreatif, bikin ini, bikin itu, ternyata kejual.

Nah itu tuh, aku senang proses yang seperti itu. Ketika kita menciptakan ide, ternyata menghasilkan uang. Oke, gue bisa bikin nihHappy-nya di situ. Dan TikPrive itu seperti itu. Kalau retail nggak jalan, kami tenang aja, karena masih ada orderan dari corporate. Karena ‘gitu, aku tuh lebih banyak proses kreatifnya. Kita jualan ini deh. Kita jualan itu deh.

jadi angka hanya rewards?
Yes! Tapi semua butuh dihitung, ‘kan? Ada fix cost, ada yang lain juga. Ujungnya segini. Kalo gue mau dapet untung, harus ditambah segini. Jualannya berarti segini. Terus tinggal kasih ke orang. Nih, targetnya begini. Balik deh. ‘Gitu. Jadi senang prosesnya. I-Radio pun sekarang begitu.

Aku tekankan ke anak-anak program, gue mau program lu menjual. Jangan bikin program yang buat seru-seruan doang. Buat apa? Nggak ada gunanya. ‘Gitu. Jadi harus kreatif, bagus, dan menjual. Jadi nggak main-main. Susah ‘kan?

Jadi anak-anak sekarang harus presentasi ke aku kalo mau bikin apa-apa. Ntar aku liat. Oh yang ini nggak bisa selling, yang ini bisa, ini nggakdropdrop, ‘gitu. Even kayak time signal kami, aku udah tau mau dijual ke mana. Dan seni untuk mendekati orang untuk kemudian orang itu membeli, itu aku senang banget. The moment mereka bilang, “Gila! Program lo keren banget, oke gue pasang di elo deh!” Itu achieve, oke.

proses pembelajarannya berapa lama sampai ke titik merasa puas?
Proses belajarnya ya selama di MRA. Proses jualan, dalam artian belajar mendekati orang, approach, terus menjual produk itu di MRA, waktu jadi sales. Jelas, ‘gimana deketin orang itu di MRA. Terus kemudian bahwa bisnis itu ujungnya uang adalah setelah punya TikShirt, yang sekarang TikPrive.

Itu di situ aku tahu, oh ternyata bisnis itu nggak bisa ya cuma leyeh-leyeh doang. Jadi mesti kerja, kerja, kerja, terus dan akhirnya tau bahwa ketika nemuin dead end di retail, TikShirt nggak kejual, sementara cost harus dibayar. Di situlah, mulai berpikir. 

Gue mesti jualan apa nihGue mesti bikin apa nih supaya jualan? Di situ momennya, ilmu jualannya jalan. Jadi begitu mentok, nyari jalan keluar. Setelah dapat jalan keluarnya, nanti pasti akan mentok lagi, nyari lagi. Sampai akhirnya, lho ternyata gue udah bikin ini, bikin ini, begitu.

iwet ramadhanberarti udah ngerasain ‘power of kepepet’ dong ya?
Banget, banget. Emang dari dulu aku suka banget dipepet. Jadi ya, kayak ‘gitu lah. Makanya aku senang menyebut aku businessman.

apa yang belum didapat?
Waktu luang. Karena aku justru cita-cita mau pensiun muda. Cita-cita aku sekarang adalah mau beli rumah di kaki gunung, terus nanti tuh cuma kerjanya dari rumah, dalam artian TikPrive udah jalan, I-Radio udah beres, aku cuma kerja kontributor. Nulis soal budaya, bikin buku soal budaya. Jalan-jalan, tapi ngurus budaya. Kepenginnya begitu aja. Bangun pagi yang nggak hecticNggak mau kayak ‘gitu lagi.

Kalo sekarang ‘kan siaran, tapi nanti maunya ada momennya ketika gue bangun pagi itu tenang, terus nafas benar. Sempat olahraga, sarapannya enak, abis itu ngetik, nulis, apa segala macam, terus jalan-jalan.

Sorenya tracking ke gunung, terus turun, pulang, mandi, makan malam, dan hidup seperti orang biasa ajaudah. Jadi kalo ditanya maunya apa sekarang, ya maunya itu.

Aku sekarang udah punya apartemen, udah punya rumah. Aku nggak mau nambah apartemen lebih besar lagi karena aku sudah merasa cukup dengan yang sekarang. Mobil sudah puas sekali dengan yang sekarang. Jadi ya sekarang nabung buat punya rumah yang di kaki gunung itu.

target, berapa lama lagi?
Sepuluh tahun! Sekarang aku 33. Ya.. 45 lah aku udah bisa pensiun. Kita nggak tahu juga sih. Kita liat juga nanti Tuhan bawanya ke mana. Tapi maunya begitu. Aku udah beres semuanya. Karena pada akhirnya, akan begitu. Dulu aku tipe yang ambisius setengah mati.

Dulu tuh uh, mau masuk teve, mau jadi orang terkenal, mau ini, mau itu. Wah, semua dikejar, semua diambil. Sampai pada satu titik, oh teve ‘gini aja ternyata. Siaran radio ‘gini aja ternyata.

Yang aku pengin bukan fame-nya ternyata, tapi karyanya. Yang aku pengin itu kepuasan ketika aku berkarya. Akhirnya kalo sekarang masih harus begini, karena masih banyak yang harus dibayar. Jadi masih harus kerja keras dulu. Begitu sudah terbayar semua, ya udahgue udah dapet apa yang gue mau. Punya rumah di kaki gunung ya udah dong. Mau apa lagi?

Sekarang kerjanya santai santai ajalah. Memperbaiki kehidupan pembatik. Itu ‘kan nggak terlalu sibuk. Ya pasti akan tetap sibuk, tapi itu akan lebih enak. Duduk sama mereka, liat mereka ngebatik, terus mikir, mereka diapain ya? Mesti ‘gimana ya sama mereka supaya mereka lebih sejahtera? Karena salah satu visi TikPrive itu, menyejahterakan si pengrajin.

mau lebih menjejak bumi?
Excatly! Dulu ada momennya aku ngejar tas bermerek. Sekarang nggak. Aku sekarang lebih memikirkan kenyamanan aku. Bagus pasti masih, karena aku punya kriteria antara bagus dan tidak. Bermerek mungkin masih bermerek, tapi nggak kemudian sampai jerit-jerit, “tas gue mereknya ini lho!” hehehe.

Jaman dulu ada momennya seperti itu. Sekarang udah nggak. Sekarang gue beli merek karena gue butuh kualitas. Kebayang ‘kan? Bahkan orang tuh sampai bilang, ”lu kenapa nggak beli Louis Vuitton?” Ya aku bilang, nggak. Aku nggak suka bahannya, karena materialnya berat.

Yang gue punya sekarang mungkin nggak semahal LV, tapi kualitasnya lebih bagus. Dan jadi lebih realistis. Ada uangnya apa nggakKalo nggak ada, gue nggak beli. Jaman dulu, ngutang. Kartu kredit abis!

dan itu sudah lewat atau masih?
Udah yang begitu, udahUdah semua. Yang sampe nggak bisa bayar kartu kredit udah pernah. Mikir ‘gimana caranya nih gue bayar kartu kredit. Sekarang nggak lagi. Udah nggak yang begitu. Beli sepatu pun kalo sekarang karena memang kebutuhan. 

Kalo lagi tren, aku liat dulu, bagus nggak ya. Kalo bagus ya boleh deh. Cocok apa nggak? Ya jadi lebih real aja sekarang. Nggak mau yang ngawangngawang lagi. Rambut biasa banget sekarang. Dulu ‘kan pake gel segala.

Terakhir pake gel tuhnih rambut kok rontok ya. Tiap malam rontok terus. Kenapa ya? Ini gel nih pasti. Dan ternyata benar. Ini aja udah makin botak ‘kan? [sembari menunjukkan kepalanya] Ya udah, akhirnya potong pendek aja.

mulai berkarier kapan sih?
Aku mulai itu umur 19. Siaran di satu radio di Bandung, enam bulan. Terus ke HRFM Bandung. HRFM justru yang bikin aku akhirnya nyobain segala macam. Karena itu tadi ‘kan HRFM itu ngeliatnya ke atas terus. Gila, Indra Savera [mendiang], Mutia Kasim, Indy Barends tuh kayak ‘gini dan gue ngejaaarrrr terus!

Mereka masuk teve, wah gue harus punya program teve juga. Oh mereka punya mobil ini, gue juga harus punya. Mereka pake tas ini, gue juga harus pake.

Disko juga. Dulu tuh jaman siaran di HRFM sore, disko tuh 3 kali semingggu: Rabu, Jumat, Sabtu. Selang Minggu dan Senin udah siaran lagi. Makanya aku berhenti siaran di HRFM ketika aku udah nggak kuat disko lagi. Sementara acara mereka masih Paranoia.

Aku udah nggak mau datang, sedangkan PD-nya [program directorudah marah-marah. “Lo dateng dong! Ini ‘kan acara loLo mesti support!” Dan gue udah nggak suka nih.

Sampe titik baliknya adalah masuk ke sebuah resto/bar, ditolak. Itu momennya ‘gini, ‘Eh, gue penyiar pagi HRFM Jakarta, dan nggak boleh masuk tempat ini? Apa-apaan ini? Terus akhirnya mikir, oh mungkin gue udah bukan di sini lagi. Akhirnya datangnya ke acara seni, ke art job. Berubah.

Dan aku ngomongin art ke mereka, nggak kena. Mereka bilang, “Apaan sih lo, Wet? Ngawangngawang deh!” Sementara aku liat yang begitu lebih senang, ketemu seniman, ketemu sama Eko Nugroho. dan kalo aku ketemu sama siapa, misalkan Avichi. Ya kalo ketemu, so whatKalo ketemu Eko Nugroho tuh, lebih wow.

titik balik semuanya?
TikShirt! Itu titik balik semuanya. Itu titik perubahan dalam diri aku. Jadi benar-benar tau, bahwa nyari uang itu susah. Dunia entertain itu ‘kan yang paling gampang uangnya, cash and carry, dan peluangnya besar kerja enteng. Sebentar lagi. Dan ngabisinnya cepet sekali. Tapi begitu aku punya bisnis, kalo ngeliat barang tuh jadi lebih hati-hati.

Misalkan nihwah gue tahu nih biaya produksinya berapa. Wah, gue ditipu. Karena gue tahu berapa margin yang mereka ambil, dan gue tahu kenapa mereka bisa bikin diskon 70 persen. Di situ aku mulai belajar.

Akhirnya beli barang harus yang mahal banget. Yang handmade. Karena kalo handmade itu udah pasti susah. Karena itu nggak bisa dibikin lagi. Nggak ada yang bisa beli lagi. Beli barang mahal tuh jadi kayak appreciate value-nya. Jadi udah bukan keren atau tidak kerennya lagi.

Terus nyari uang susah banget tuh berasa waktu TikShirt bulan pertama jualannya tinggi banget. Bulan kedua, gede banget. Ketiga drop seada-adanya. Terus liat recap keuangannya itu margin-nya cuma sejuta dua juta. Terus langsung mikir, kayaknya kerjanya udah keras bangetkok cuma segini nih?

Di momen itu benar-benar ngerasain nyari duit itu susah banget ternyata. Masuk rumah sakit. Terus mulai belajar yoga, meditasi. Nah di situ mulai belajar let goLet go kayak apa sihNggak semua harus dikejar. Kita emang harus ngerasain semuanya dulu. Mabuk, bangun pagi di sofa, dan kesundul sama sapunya cleaning serviceudah jam 10 pagi. Ughgue ditinggal sama orang-orang. Udah ngerasain tuh yang begitu. Gila deh jaman dulu.

Tanya aja anak Hard Rock, Iwet kalo mabok kayak apa. Tapi abis itu udah. Ternyata hasilnya nggak ada juga. Terus yang katanya bergaul, katanya ‘kan jaman dulu lo harus bergaul supaya lo diliat orang terus dapet kerjaan banyak dari sana. Apa? Hasilnya nggak ada. Yang ada gue capek doang. Jadi sekarang yang bener aja lah. Kerja yang bener aja. Begitu. «

SHARE