Keabadian

0
117

Seberapa tahan kita menghadapi keabadian?

Beberapa waktu lalu, agenda saya kembali dipenuhi dengan jadwal reuni. Hahaha, ya, nggak salah, r-e-u-n-i. Pasca-Lebaran, tentu ada beragam agenda halal bil halal. Dan lingkaran-lingkaran pertemanan sepertinya mengharuskan kita ikut hadir, menyambung kembali tali silaturrahim yang lama tak tersentuh dan terurus.

memory 2Untuk yang punya banyak lingkaran pertemanan, pasti ini agak merepotkan. Sekaligus menyenangkan, tentu saja. Beruntung istri saya cukup mengerti kondisi ini. Tapi yeah, memang nggak semua gelaran reunian atau kongkow-kongkow dengan teman lama itu bisa saya ikuti. Terutama untuk yang ke luar kota, atau ke luar negeri. Pasalnya, ada banyak kerjaan menunggu untuk diselesaikan. Ada tiga anak yang masih harus diurus sejumlah keperluannya. Dan ada bisnis yang harus disupervisi operasionalnya.

Saya percaya, Anda pun demikian, G-Readers. Satu, dua, bahkan beratus kali punya agenda reuni yang harus diikuti. Dengan teman dari TK sampai SMA, dari rekan kuliah sampai kolega kerja, dari kantor lama hingga partner arisan. Dan you name it lah. Daftarnya pasti akan panjang.

Tapi dari sederet undangan reuni yang masuk ke reminder calendar Anda, boleh jadi ada satu atau dua yang Anda tak ingin datangi. Punya story lama yang kurang baik, eh? Atau memang ada sebagian peserta reuni yang hendak dihindari? Apapun alasan Anda, sebaiknya memang masalah harus dituntaskan. Bukankah kita tak ingin seumur hidup menghindar dan melarikan diri?

Anyway, sebagai manusia, wajar saja jika sebagian memori lama kita tertumpuk dengan ingatan-ingatan lain. Lupa nama, adalah yang terbanyak dialami peserta reuni. Atau kejadian-kejadian kecil yang perlu waktu lama untuk memanggil ingatan itu kembali. Meski begitu, tentu menyenangkan bisa kembali ke masa lalu, yang semoga memang indah itu.

Dari beberapa kali reuni, saya jadi punya pertanyaan untuk diri sendiri: seberapa tahan kita dengan keabadian? Karena sebagai manusia, tentu hidup kita ada limit-nya. Tetapi bukankah memori tidak pernah hilang? Mereka hanya perlahan memudar, tetapi tidak benar-benar musnah. Hanya saja, perlu pengingat untuk kembali menghadirkannya untuk dikenang. Reuni, adalah salah satu caranya. Dan jika benar demikian, bukankah pertemanan adalah sebentuk keabadian? «

Salaam,
@hagihagoromo

~tentang judul~
“Keabadian” adalah single yang dilantunkan Reza Artamevia sekaligus menjadi judul album keduanya. Album yang dirilis tahun 2000 itu diproduseri Ahmad Dhani. Berisi sembilan tracks, termasuk “Biar Menjadi Kenangan” yang dinyanyikan Reza bareng penyanyi Jepang, Masaki Ueda. Di album ini juga Reza mendaur ulang dua lagu: “Getaran” milik penyanyi Malaysia, Famieza, dan “Cinta ‘Kan Membawamu Kembali” kepunyaan Dewa 19. «

SHARE