Gending Djaduk Persembahan Djaduk

0
206
djaduk
djaduk

Djaduk bercerita tentang nusantara melalui musik 

djaduk ferianto[dropcap style=’square’]O[/dropcap]rang Jawa percaya jika ketika seseorang menginjak usia ke-50, itu berarti ia lahir untuk kali kedua. Maka itu patut diadakan sebuah syukuran untuk merayakannya.

Pada usia setengah abad itu juga, orang jawa akan dianugerahi sebuah nama baru. Djaduk Ferianto, seniman asal Jogja ini pun mematuhi tradisi itu. Djaduk Ferianto mendapat sebuah nama tambahan “Gending”.

Demi merayakan nama baru sekaligus ulang tahunnya ke-50, maestro musik ini juga menggelar sebuah konser musik kontemporer di Graha Bakti Budaya, TIM. Bersama Kua Etnika, lelaki berjenggot tebal ini menyajikan musik berkualitas yang jarang disentuh oleh industri.

Hari itu Djaduk mengenakan kemeja dan ikat kepala berwarna merah delima. Ia duduk di belakang sebuah gending kecil sambil mengatur jalannya orkestra.

Konser yang penuh sesak oleh penonton itu merangkul esensi musik barat dan timur. Komposisinya menggunakan karawitan Jawa, Bali, dan Sunda. Maka lahirlah konser yang sareh dan nges, kata Djaduk.

Ada 9 lagu yang ia mainkan malam itu. Dan, lagu-lagu itu terinspirasi dari hal-hal sekitar yang seringkali diabaikan oleh kebanyakan orang pada umumnya. Misalkan lagu kelima yang Djaduk beri judul “Angop”. Lagu ini terinspirasi ketika ia melihat pejabat publik di gedung parlemen menguap saat rapat.

djaduk ferianto

Menurutnya, pas mereka menguap secara bergantian dengan random, itu seperti sebuah not yang bisa menjadi lagu. Menggunakan lonceng yang terbuat dari kayu, Djaduk Ferianto membuat bunyi-bunyi yang mirip suara angop. Komposisi yang dibuatnya, sekejap menyukap atmosfer Graha Bakti Budaya seperti ada dalam keadaan yang menjenuhkan, lelah dan jenuh.

Lain hal dengan lagu ketujuh, “Barong”. Musik ini ia dapat setelah melihat pertunjukkan tari barong di Bali. Gerak dan ekspresi sang penari menghantarkan imaji yang melekat kuat dalam benak Djaduk. Imaji itu kemudia ia wujudkan dalam sebuah komposisi yang enerjik dan menegangkan.

Penonton seakan dibuat sedang menonton sebuah pertunjukkan tari Bali, tapi tanpa ada tarian sama sekali. Di lagu ini, Djaduk melepas gendingnya untuk memainkan ceng-ceng, alat musik khas Bali.

Sementara yang paling menarik ialah “Picknik ke Cibulan”. Lagu ini ditaruh paling awal pertunjukkan. “Picknik ke Cibulan” menjadi satu-satunya lagu ciptaan orang lain yang Djaduk aransemen ulang.

djaduk  ferianto

Lagu ini diciptakan oleh Hj. Dariyah, dan didengarkan pertama kali oleh Djaduk Ferianto tahun 1979. Diakui olehnya ini adalah milestone yang menunjang kebermusikkannya sampai bisa terdengar oleh khalayak internasional.

Sembilan lagu ini terangkum dalam album kedelapan Djaduk bernama, Gending Djaduk. Tiap track berdiri dengan coraknya masing-masing. Tapi kental akan bunyi-bunyi khas tanah air. Ibarat “Indonesia” yang sudah dimusikalisasi oleh pria yang lahir setengah abad lalu.

Lewat musik Djaduk Ferianto tidak sekadar memainkan musik tetapi juga mendendangkan sebuah dongeng tentang nusantara yang kaya akan keberagaman. « [teks @HaabibOnta | foto @bagusdimsums]

Track:
Picknik ke Cibulan
Jawa Dwipa
Bethari
Pesisir
Angop
Swarnadwipa
Barong
Molukken
Ritma Khatulistiwa

SHARE